RELASI AGAMA DAN NEGARA DALAM ISLAM

Oleh: Masiyan M. Syam

Karakteristik Pemikiran tentang Negara dalam Islam

Pada periode klasik yakni masa-masa awal Islam sampai pada masa Dinasti Umayyah (661-750 M), pemikiran politik Islam khususnya tentang negara belum begitu kuat di kalangan intelektual muslim, meskipun sudah ada gerakan oposisi dari kelompok Khawarij dan Syi’ah. Hal ini disebabkan karena konsentrasi Dinasti Umayyah lebih banyak berorientasi pada pengembangan kekuasaan. Pemikiran politik tentang kenegaraan baru muncul pada masa Dinasti Abbasiyah.

Beberapa karakteristik yang menonjol dalam periode ini tentang pemikiran Islam tentang negara, antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Pemikiran Yunani—khususnya hasil pemikiran Plato—masih mempengaruhi pemikiran Islam tentang asal-usul negara, meskipun kadar pengaruhnya tidak sama antara satu pemikir dengan pemikir lainnya. Plato menyatakan bahwa negara terbentuk karena adanya banyak kebutuhan manusia yang tidak dapat dipenuhi dengan kekuatan dan kemampuan sendiri. Oleh karena itu manusia bekerja sama dan bersatu. Persekutuan hidup dan kerjasama yang semakin lama semakin terorganisir dengan baik itu, kemidian membentuk negara. Teori ini diambil oleh para pemikir muslim. Hal itu dapat terlihat dalam karya Ibnu Abi Rabi’: Suluk al-Malik fiy Tadbir al-Mamalik, al-Mawardi: al-Ahkam al-Shulthaniyyah, dan al-Farabi: al-Madinah al-Fadhilah dan Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah.
  2. Pemikiran lebih merupakan respon terhadap kondisi sosial politik yang terjadi. Al-Farabi berpijak pada paradigma idealistik, utopian dan cenderung tidak realistik. Al-Farabi menegaskan bahwa tujuan didirikannya negara adalah untuk meraih kebahagiaan dan ahli filsafatlah yang mampu mewujudkan kebahagiaan, maka yang pantas menjadi kepala negara adalah para ahli filsafat. Dalam menggambarkan tentang negara ideal dalam kota utama (al-madinah al-fadhilah) pemikir terakhir menyebutnya sebagai suatu keseluruhan dari bagian-bagian terpadu. Hal ini serupa dengan organ tubuh, jika ada bagian yang sakit, maka bagian lain akan bereaksi dan menjaganya. Masing-masing individu diberikan tugas yang sesuai dengan kemampuannya. masing-masing berbeda melakukan pekerjaan sesuai dengan tujuan mereka. Kegiatan yang paling baik adalah kegiatan yang diberikan oleh pemimpin, karena ia berada di tengah kota. Hal ini diibaratkannya seperti jantung yang merupakan sumber dari seluruh aktifitas. Deskripsi tentang kota ideal ini mengingatkan kembali pada teori raja-filosof (The Philosopher King) yang dikemukakan oleh Plato dalam karyanya Republic.

Continue reading

facebooktwittergoogle_plusredditpinterest

PELIKNYA FENOMENA SOSIAL DI BALIK PEKAN KONDOM NASIONAL

Badarus Syamsi

shutterstock_62671297Rencananya, tanggal 1 hingga 7 Desember kemarin, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan akan menggelar Pekan Kondom Nasional (PKN). Tetapi kemudian dihentikan menjelang hari keempatnya dengan beberapa alasan. Pada even ini akan diberikan kondom gratis kepada masyarakat. Sekilas, kegiatan ini cukup positif manakala ditinjau dari upaya penanggulangan penularan HIV/AIDS. Namun terdapat sedikit kepelikan di balik kegiatan ini. Tidak semua masyarakat menilai hal itu positif dan justru negatif. Ambillah contoh misalnya kalangan konservatif agama semisal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) justru menilainya sebagai kegiatan yang dapat memberikan lampu hijau bagi perilaku seksual bebas. Kegiatan ini begitu rentan disalah artikan (mis-undertanding) hingga seolah-olah bisa saja melakukan hubungan seksual asal menggunakan kondom. Pemerintah harus tanggap dan mampu mensosialisasikan makna sebenarnya dari kegiatan Pekan Kondom Nasional tersebut. Continue reading

facebooktwittergoogle_plusredditpinterest

MENGKAJI ULANG PEMIKIRAN AL GHAZALI

IMG_20131029_193729

Oleh: Abdul Azis Syukur

Ada dua sudut pandang yang selama ini berkembang dalam masyarakat dalam menilai dan mengkaji pemikiran Al-Ghazālī yang tidak pernah ada titik temunya. Pertama masyarakat yang selama ini berada dalam garis pemikiran tradisional, yakni para kiyai dan Ustad yang banyak berada di lembaga pendidikan Islam seperti pesantren, majelis ta’lim dan lain sebagainya. Kalangan masyarakat yang berada di wilayah pemikiran tradisional ini memiliki kecendrungan kuat dalam menilai dan membaca pemikiran Al-Ghazālī hanya dari segi tasawuf dan fiqihnya saja sebagaimana yang tertuang dalam Ih~ya’u Ulumuddin, Minhaj al-Abidin, Bidayah al-hidayah, dan lain sebagainya. Continue reading

facebooktwittergoogle_plusredditpinterest

DEKONSTRUKSI PEMIKIRAN TEOLOGI

Oleh: Badarus Syamsi

di-segniAgama dalam kungkungan teologi tidak jarang akan lahir sebagai agama dengan wajah subyektivisme, rasionalitas yang sering semu, sarat dengan klaim kebenaran parsial, ortodoksi dan bahkan apologi. Terdapat dua problem fundamental agama dalam kungkungan pemikiran teologi dapat diklasifikasi ke dalam dua hal, secara internal dan eksternal. Pertama, Secara internal dapat dinyatakan bahwa teologi terkadang memformulasi wacana atau kajian agama hanya pada wacana-wacana yang melangit atau metafisik yang tidak cukup aktual, kontekstual dan relevan dengan kebutuhan jaman. Kedua, Secara eksternal, agama dalam wajah-wajahnya yang subyektif, parsialis, apologis dan ortodoks, sering menciptakan ketersekatan ummat dengan wajah ekslusivisme-nya yang pada akhirnya tidak jarang menyebabkan konflik horisontal antar pemeluk agama atau perang urat saraf para teolog dari berbagai agama. Continue reading

facebooktwittergoogle_plusredditpinterest

PENGELOLAAN ZAKAT OLEH NEGARA VERSUS MASYARAKAT

Oleh: Said Abdullah Syahab

zakat1Zakat merupakan ibadah ibadah māliyah ijtima’iyyah yang   termasuk dalam rukun Islam  ketiga mendapatkan perhatian Rasuullah  saw  dalam pengelolaannya, zakat menjadi penting bagi kehidupan umat Islam yang dalam Quran  disebutkan  sebanyak dua puluh tujuh ayat, karena  merupakan ibadah  berdimensi horizontal-kemanusiaan yang  dapat mewujudkan  perasaan persaudaran, kebersamaan  di antara masyarakat yang kaya dan yang miskin.Pengelolaan zakat juga dilakukan dengan  semangat pemerataan pendapatan, peningkatan taraf hidup, Continue reading

facebooktwittergoogle_plusredditpinterest