ISLAM DAN KEBUDAYAAN

AJARAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN DALAM SERAT CENTHINI

By: H. Thobroni , AG, MA.
Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran “ Jakarta
[toc title=”Daftar Isi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Serat Centhini

Peradaban Jawa adalah peradaban yang telah terbangun sejak dahulu kala, salah satu bukti agungnya peradaban jawa adalah terciptanya serat centhini, serat yang banyak mengandung ilmu ini dibuat pada masa Paku Buwono V (Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, tatkala menjadi putra mahkota pada 1814) Yang mendapat tugas mengerjakannya adalah tiga orang pujangga keraton, yaitu:

  1. Kyai Ngabehi Ranggasutrasno, dengan menjelajahi P. Jawa bagian Timur, untuk meneliti dan menghimpun pengetahuan.
  2. Kyai Ngabehi Yasadipura II (semula bernama Kyai Ngabehi Ranggawarsita I) menjelajahi Jawa bagian Barat.
  3. Kyai Ngabehi Sastradipura, yang mendapat tugas menunaikan ibadah Haji, dan menyempunakan pengetahuannya tentang Islam.

Secara historis dijelaskan bahwa ada beberapa jilid dari Serat Centhini ini berada di Belanda, karena Paku Buwono V menghadiahkannya kepada ahli bahasa Jawa dari Belanda. Selain itu, seandainya ada yang mengetahui tentang Serat Centhini ini, biasanya hanya sebagian-sebagian, malah ada yang punya kesan Serat Centhini hanya merupakan karya sastra porno. Penjelasan ini menunjukkan bahwa ada kontroversi dan paradoks dari isi Serat Centhini.

Di satu sisi serat ini banyak mengandung nilai nilai spritual tingkat tinggi sehingga banyak orang yang mengagungkan dan mengkultuskannya mereka biasanya dari golongan sastrawan, budayawan, dan bangsawan kerajaan. Namun disisi lain serat ini di cibir dan dilihat miring oleh sebagian kalangan karena mereka menilai serat ini penuh dengan kevulgaran bahasa dalam ekspresi seks sehingga membuat serat ini terkesan hina dan di larang untuk membacanya biasanya mereka berasal dari kalangan kyai dan santri tekstualis yang menilai hanya pada teks yang tertulis pada serat tersebut.

Penamaan serat ini tentu mengandung makna tersendiri karena serat ini membahas tentang pengembaraan keturunan giri, namun serat ini dinamakan dengan centhini yang notabene adalah abdi setia dari tambangraras istri dari syehk amongraga.

Tujuan Penulisan Serat Centhini

Maksud penulisan Serat Centhini ini tercantum dalam bait permulaan yang disebut manggala. Istilah sastra Jawa secara praktis diartikan sebagai suatu bentuk aktivitas tulis menulis dari para pujangga Jawa untuk mengungkap nilai-nilai dan pandangan hidup dalam lingkup budaya Jawa. Kebudayaan ini memiliki elemen-elemen yang bersifat pluralistik (majemuk) yang berakar pada etika, agama-agama yang berkembang dalam masyarakat Jawa. Narasi ini memperkuat argumen bahwa manuskrip dan tradisi lisan Nusantara sarat dengan kandungan local wisdom (kearifan lokal). Bentuk teks dalam manuskrip dan teks dalam tradisi lisan ini kemudian berubah dan berkembang sesuai lingkungan geografis zamannya.

Serat ini diawali dengan kisah penguasa yang pada massa itu sangat berkuasa sehingga bertindak semena-mena di mana sultan agung mataram berkoalisi dengan pangeran pekik dari surabaya untuk menghancurkan kekuasaan pesantren Giri, dimana pesantren ini mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap rakyat karena rakyat merasa kekuasaan yang dibangun oleh sunan Giri dalam kehidupan sehari hari tidak ada yang dibedakan semua sama di mata tuhan termasuk ajaran sunan giri yang menganggap bahwa raja bukanlah perwakilan Tuhan raja hanya penguasa bagi rakyatnya jadi titah raja tidak sama dengan perintah Tuhan, yang mempunyai kemungkinan terjadi kesalahan dalam penetapannya.

Melihat gelagat tersebut maka sultan agung merasa itu adalah ancaman bagi kekuasaan kerajaan mataram sehingga harus di serang agar faham tersebut tidak menyebar dan dapat mendatangkan kehancuran bagi kerajaan. Saat terjadi penyerbuan Sunan Giri dengan tegar menghalangi serangan demi serangan yang di lancarkan oleh pasukan Sultan Agung, namun lama kelamaan sunan giri pun mengalah dan menyerah dari serangan pasukan Sultan Agung, namun di sela kekalahannya Sunan Giri dengan sembunyi-sembunyi menyelamatkan ketiga anaknya yakni Jayengresmi, Jayengsari dan Rancangkapti dari serangan pasukan kerajaan.

Ketiga anaknya pergi meninggalkan Sunan Giri dan kerajaannya namun dalam perjalanan kaburnya mereka terpisah Jayangresmi pergi ke barat sampai ke gunung karang Banten dan diangkat anak oleh Ki Ageng Karang, selanjutnya jayengsari dan rancangkapti ke arah timur sampai ke banyumas sebelum di angkat anak oleh Syekh Ahadiyat di Sokayosa Pekalongan.

Dalam perjalanannya Syekh Amongraga banyak mengalami pencarian jati diri baik berupa nilai sosial ataupun agama, saat syeh amongraga pergi bersama gathak dan gathuk untuk mengembara lari dari kejaran prajurit sultan agung, bertemulah ketiga nya dengan Ki Wisma di kerajaan Wedhangkamulan beliau menceritakan bagaimana pentingnya agama islam yang mempengaruhi kehidupan rakyat Mataram, Sultan Agung Mataram di kisahkan membuat perjanjian dengan nabi Muhammad saw di masjidil haram saat itu Sultan Agung ( ajisaka ) pergi ke Mekkah dan berguru langsung kepada Nabi Muhammad saw bersama dengan Khulafaur Rasyidin Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.

Saat ke empat sahabat pergi meninggalkan masjidil haram tiba-tiba Nabi memanggil Ajisaka dan beliau memberikan amanat terhadapnya – perjanjian- agar kembali ke tanah jawa karena masa belajar ajisaka telah selesai dan nabi meridhai nya agar kembali dan mengabdi di tanah jawa, sejak saat itulah mataram menjadi kerajaan yang bercorak dan bahkan mengakomodir agama islam dalam agama resmi kerajaannya.

Unsur Local Wisdom dalam Serat Centhini

Local wisdom (kearifan lokal) yang di jelaskan dalam serat centhini banyak menggambarkan kehidupan budaya saat itu, dimana manusia jawa kala itu hidup dengan sistem pemerintahan yang di kuasai oleh raja yakni raja Mataram dengan gelar Sultan Agung, dikisahkan dalam salah satu aktifitas kehidupan syehk amongraga yakni jayaresmi. Syehk Amongraga bersemedi di dalam sebuah masjid yang sepi padahal di sekitar masjid tersebut adalah sebuah pasar yang ramai dikunjungi oleh banyak orang dari segala penjuru, namun mereka datang justru bukan untuk beribadah dan datang ke masjid melainkan hanya untuk bertransaksi di pasar sehingga membuat masjid menjadi sepi, hal ini merupakan salah satu aktifitas sosial yang ternyata berkembang hingga saat ini, di pedesaan di setiap alun – alun desa biasanya akan di bangun sebuah masjid jami kemudian dari mulai sore hari hingga malam dibuat pasar mingguan sehingga ramai dikunjungi penduduk desa, namun mereka akan lalai karena tergoda oleh keramaian pasar sehingga lupa untuk beribadah dan datang ke masjid yang notabene dekat sekali dengan masjid. Melihat hal tersebut Syekh Amongraga ngerogosukmo dirinya dan berkeliling untuk mencari wangsit, saat mencari wangsit inilah Syeh Amongraga berkeliling pulau jawa, disetiap tempat yang ia singgahi dari mulai pantai selatan, gunung merapi hingga tempat – tempat strategis lain yang berada di pulau jawa di kuasai oleh Sultan Agung mataram. Hal itu di buktikan dengan adanya air ludah dari Sultan Agung yang menandai itu adalah wilayah kekuasaan mataram.

Setelah lama Ngerogosukmo Syeh Amongraga mendapat wangsit bagaimana caranya agar masyarakat saat itu mau datang dan meramaikan masjid dengan beribadah, yaitu dengan cara menarik mereka melalui yang di sukai oleh masyarakat yaitu dengan pertunjukan jamal jamil dua murid Syekh Amongraga yang memiliki kesaktian, mereka menampilkan kesaktiannya untuk menarik masyarakat berkumpul, setelah berkumpul barulah Syeh Amongraga berdakwah mensyiarkan islam kepada masyrakat. Dan mereka akhirnya mau mengikuti apa yang di dakwahkan oleh syeh amongraga.

Secara garis besar menurut Serat Centini Perjalanan syekh among raga di bagi kedalam 3 bagian : (1) Perjalanan dari Banten ke Jawa Timur ketempat Ki Bajri Panutra,;(2) bermukim di pesantren Ki Baji di Wanamarta, menjadi santri yang sangat pintar dan kawin dengan anak gurunya dan (3) perpisahan dengan keluarga dan meninggalkan dunia ramai untuk bersamadi atau khalwat. Dalam bagian terakhir dicantumkan pula masa akhir hidupnya : dia dituduh melanggar syariat dan menyebarkan ajaran tasawuf yang sepadan dengan aqidah, kemudian di huum mati ditenggelamkan di samudra selatan.

Ajaran Sosial dan Kebudayaan dalam Serat Centhini

Didalam serat Centhini berisi semacam “ Ensiklopedia kebudayaan Jawa “ karena didalam buku tersebut memuat hampir semua tata-cara, adat istiadat, legenda, cerita dan ilmu-ilmu bathin yang beredar dalam kalangan masyarakat Jawa pada abad 16-17. Salah satu contoh kebudayaan yang terkandung didalam Serat Centhini yaitu cerita mengenai pelarian dua putra  dan satu putri dari Sunan Giri ( Giri Parapen) ketika ditaklukkan oleh Sultan Agung dari Mataram pada tahun 1636. Putra pertamanya bernama jayangresmi diiringi dua santri Gathak dan Gathuk. Berpisah dengan dua adiknya, Jayangsari dan Niken Racangkapti diiring oleh santri Buras. Serat Centhini merupakan karya sastra yang luar biasa, baik dari segi tata bahasa tembang jawa maupun dari segi isinya yang terdiri rangkuman budaya Jawa yang hidup pada abad ke-18.

Sutrisna Wibawa dalam satu forum diskusi mengemukakan penelitiannya bahwa dalam Serat Centhini terdapat: filsafat Jawa yang menekankan pentingnya kesempurnaan hidup (Ngudi Kasampurnaan) serta asal dan arahnya yang ada (Sangkan paraning dumadi), nilai moral Seh Amongraga dalam Serat Centhini  yang terdiri atas hak dan kewajiban, keadilan, tanggung jawab, hati nurani, kejujuran keberanian, moral, kerendahan hati dan kesetiaan merupakan pedoman perilaku manusia yang baik, filsafat moral Seh Amongraga memberikan sumbangan nyata dalam memperkaya nilai-nilai pembentuk karakter pendidikan moral.

Follow Me:

Related Posts

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!