WARNA-WARNI ISLAM

AKAL DAN WAHYU

Kita maklumi bersama bahwa dalam Islam, akal dan wahyu ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa di pisahkan, artinya adalah Hukum Islam sebagai bentuk tranformasi dari nilai-nilai ajaran Islam, tidak lepas dari adanya wahyu dan akal. Di dalam ajaran agama yang diwahyukan ada dua jalan untuk memperoleh pengetahuan; pertama, jalan wahyu dalam arti komunikasi dari Tuhan kepada manusia, dan kedua jalan akal, yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, dengan memakai kesan-kesan yang diperoleh panca indera sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan. Pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak benar, sedang pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif, mungkin benar dan mungkin salah.

Menurut Juwaini “wahyu sudah timbul sejak masa Nabi Muhammad, di mana oran-orang kafir tidak mengakui bahwa Nabi Muhammad mendapat wahyu dan dapat ber- hubungan dengan alam ketuhanan, sebab Nabi Muhammad adalah manusia biasa.” Jadi, dapat dikatan bahwasanya wahyu adalah pengetahuan yang di dapatkan oleh seseorang dalam dirinya sendiri disertai keyakinan bahwa semua itu datang dari Allah SWT, baik melalui perantara maupun tanpa perantara. Baik menjelma seperti suara yang masuk dalam telinga ataupun lainnya. Wahyu merupakan perintah yang berlaku umum atas seluruh umat manusia, tanpa mengenal ruang dan waktu, baik perintah itu disampaikan dalam bentuk umum atau khusus. Maka sudah jelas sekali wahyu itu memang benar ada dan berlaku untuk dipatuhu dan dijadikan pedoman bagi umat muslim khususnya.

“Dengan mengutip kata kata-kata Wiliam Ockham (1287-1347), Reese lebih jauh mengatakan, theology to be a discipline resting on revealed truth and independent of both philosophy and science. (teologi merupakan disiplin ilmu yang berbicara tentang kebenaran wahyu serta independensi filsafat dan ilmu pengetahuan).”

Menurut saya sudah jelas sekali bahwasanya fungsi wahyu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan fungsi akal. Jalan untuk mengetahui aqidah dan hukum-hukum dalam Islam dan segala sesuatu yang bertalian dengan itu, baik yang pokok maupun yang cabang, baik aqidah itu sendiri maupun dalil-dalil pembuktiannya, tidak lain sumbernya ialah wahyu Allah SWT yakni Al-Qur’an dan juga Hadits-hadiits Nabi SAW sebagai penjelasannya. Apa yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Sunnah Nabi harus diterima dan tidak boleh ditolak dan Wahyu menentukan boleh dikata hampir segala persoalan. Sekiranya wahyu tidak ada, manusia akan bebas berbuat apa saja sesuai kehendaknya dan sebagai akibatnya masyarakat akan berada dalam kekacauan. Salah satu fungsi wahyu ialah memberi tuntunan kepada manusia untuk mengatur hidupnya di dunia dan di akhirat.

Menurut pendapat yang yang lain “mereka berbeda dengan golongan Syi’ah Ta’limiyah (doctrinaire) yang mengatakan bahwa dasar utama untuk ilmu, bukan yang di dapati akal, bukan pula yang didapati dari dalil naqal (Qur’an dan Hadits). Tetapi di dapat dari imam-imam mereka yang suci (ma’sum). Maka wahyu datang mengajar akal tentang hal tersebut. Karena akal tidak memiliki kemampuan untuk mencapainya. Oleh karena itu, apa saja yang disampaikan wahyu tentang hal ini adalah kebenaran. Akal tidak mungkin, tidak bisa dan tidak boleh membantahnya. Bagaimana mungkin kita dapat membantah berita tentang hari akhirat jika kita tidak bisa melakukan penelitian ke sana. Begitu juga tentang cara kita beribadah kepada Tuhan. Harus berdasakan kepada petunjuk wahyu. Karena akal tidak mampu mengetahui tentang cara beribadah yang diinginkan oleh Tuhan tampa ada nya bantuan dari wahyu.

Akal jualah yang membedakan manusia dari binatang dan makhluk Tuhan lainnya karena akalnya manusia bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatannya dan akal yang ada dalam diri manusia itulah yang dipakai Tuhan sebagai pegangan dalam menentukan pemberian pahala atau hukuman kepada seseorang. Makhluk selain manusia, karena tidak mempunyai akal, maka tidak bertanggungjawab dan tidak menerima hukuman atau pahala atas perbuatan-perbuatannya. Manusia yang belum akil baligh dan orang yang tidak waras pikirannya, tidak bertanggung-jawab atas perbuatannya dan tidak mendapat hukuman atas kesalahan dan kejahatanyang dilakukannya. Begitulah tingginya kedudukan akal dalam ajaran Islam, tinggi bukan hanya dalam soal-soal keduniaan saja tetapi juga dalam soal-soal keagamaan sendiri. Penghargaan tinggi terhadap akal ini sejalan pula dengan ajaran Islam lain yang erat hubungannya dengan akal, yaitu menuntut ilmu.

“Faktor internal yang mengundang berbeda pendapat dan senantiasa mengajak umatnya untuk berfikir. Kata-kata yang dipakai dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan perbuatan berpikir ini, minsalnya, bukaan hanya “aqala”, tetapi juga menggunakan beberapa kata yang menunjukkan kepada pengertia dari tuntunan yang sama.” Di sini terlihat jelas sekali bahwa akal/pikiran merupakan alat atau katakanlah kunci yang memiliki peran besar dalam menyingkap atau mengkaji wahyu ( Al-Qur’an ) tersebut. Akal merupakan alat vital dalam memecahkan poblem-poblem, baik itu secara realitas atau idealitas atau antara teori hukum Islam dengan implementasi hukum Islam itu sendiri.

Wahyu berfungsi memberi informasi bagi manusia. Yang dimaksut memberi informasi disini yaitu wahyu memberi tahu manusia, bagaimana cara berterima kasih kepada Tuhan, menyempurnakan akal tentang mana yang baik dan yang buruk, serta menjelaskan perincian upah dan hukuman yang akan di terima manusia di akhirat. Sebenarnya wahyu secara tidak langsung adalah senjata yang diberikan allah kepada nabi-nabi-Nya untuk melindungi diri dan pengikutnya dari ancaman orang-orang yang tak menyukai keberadaanya. Dan sebagai bukti bahwa beliau adalah utusan sang pencipta yaitu Allah SWT.

Memang sulit saat ini membuktikan jika wahyu memiliki kekuatan, tetapi kita tidak mampu mengelak sejarah wahyu ada, oleh karna itu wahyu diyakini memiliki kekuatan karena beberapa faktor antara lain:

1. Wahyu ada karena ijin dari Allah, atau wahyu ada karena pemberian Allah.
2. Wahyu lebih condong melalui dua mukjizat yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
3. Membuat suatu keyakinan pada diri manusia.
4. Untuk memberi keyakinan yang penuh pada hati tentang adanya alam ghaib.

Hakikat akal adalah sebagai mesin penggerak dalam tubuh yang mengatur dalam berbagai hal yang akan dilakukan setiap manusiayang akan meninjau baik, buruk dan akibatnya dari hal yang akan dikerjakan tersebut. Dan akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati. Iman tidaklan sempurna kalau tidak didasarkan akal iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat dan akallah yang menjadi sumber keyakinan kepada Tuhan.

Sumber Rujukan
Juaini, “konsep wahyu suatu analisis pikiran pilosof SUBSTANTIA Vol. 12, Nomor 1,April 2010
Prof. Dr. H. Abdullah Rozak, M.Ag.”ilmu kalam”.pustaka setia, bandung 2012.
Ahmad Hanafi M.A.” THEOLOGY ISLAM (ILMU KALAM)”. PT. bulan bintang., jakarta 1974.
Masburiyah, S.ag., M.Fil.I. “ILMU KALAM”.Referensi Gaung persada perss., Jakarta 2013.

Penulis: Eli Guspiya (Mahasiswa Jurusan BPI Fakultas Ushuluddin UIN Jambi)

Mahasiswa FU

Mahasiswa FU adalah Mahasiswa yang menyumbangkan artikelnya untuk website Kajian Pemikiran Islam. Identitas personal terdapat pada bagian bawah artikel.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!