TEOLOGI

ALIRAN TEOLOGI ISLAM AL-ASY’ARIYAH

[toc title=”Pembahasan dalam Artikel ini Meliputi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Biografi Singkat

Nama Al-Asy’ariyah dinisbahkan kepada seorang ulama bernama Abu Hasan al-Asy’ari. Nama lengkapnya cukup panjang yakni ‘Ali bin Isma’il bin Ishaq bin Salim bin Isma’il bin ‘Abd Allah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi  Musa  al-Ash’ari

Lahir di Basrah: 260 H/875 M
Wafat di Baghdad: 330 H/ 945 M

Suasana kehidupan al-Asy’ari dikelilingi oleh semakin lemahnya pengaruh faham Mu’tazilah. Sebagaimana diketahui bahwa Mu’tazilah mengalami kejayaan pada masa Kekhalifahan Abbasiyah yakni al-Makmun dan mengalami kemunduran pada masa al-Mutawakkil. Baca: MU’TAZILAH DAN RASIONALISME DALAM ISLAM.

Keluarnya al-Asy’ari dari Mu’tazilah

Kelahiran Asy’ariyah tidak bisa dilepaskan dari perbedaan pendapat Asy’ari dengan gurunya yakni Abu ‘Ali al-Jubba’i yang notabenenya adalah penganut Mu’tazilah. Al-Asy’ari sendiri pada awalnya penganut Aliran Mu’tazilah yang tulen karena dia tercatat berguru dan mendampingi al-Jubba’i selama sekitar 40 tahun.

Ulasan sejarawan cukup beragam terkait keluarnya al-Asy’ari dari Mu’tazilah. Pandangan Ibnu Asakir cukup popular – di mana Harun Nasution tergolong yang merujuknya – yang menyatakan bahwa penyebab keluarnya al-Asy’ari dari Mu’tazilah disebabkan mimpi al-Asy’ari bertemu Rasulullah yang memerintahkan untuk meninggalkan Mu’tazilah dan membela Sunnah Rasulullah. Baca penjelasan lain pada artikel; PEMIKIRAN KALAM ABU HASAN AL-ASY’ARI.

Dialog al-Asy’ari dengan al-Jubba’I yang berujung keluarnya al-Asy’ari dari Mu’tazilah berkisar pada tema tentang nasib tiga macam hamba yakni; Mukmin, Kafir, dan anak kecil. Meski redaksi dialog telah mengalami berbagai versi, namun setidaknya inti dialog tersebut adalah sebagai berikut:

Al-Asy’ari bertanya: “Bagaimana kedudukan tiga orang; mukmin, kafir, dan anak kecil di Akhirat.” Al-Jubba’I menjawab: “Yang mukmin akan masuk ke dalam syurga, yang kafir masuk neraka, dan yang kecil terlepas dari bahaya neraka. Al-Asy’ari bertanya lagi: “Mungkinkah yang kecil memperoleh tempat yang lebih tinggi di Syurga? Al-Jubba’i menjawab: “Tidak, yang mungkin mendapat tempat yang baik itu karena ketaatan kepada Tuhan, dan yang kecil belum mempunyai ketaatan yang serupa itu. Al-Asy’ari terus bertanya: “Kalau anak itu mengatakan kepada Tuhan: “Itu bukanlah salahku. Jika sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup aku akan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik seperti yang dilakukan orang mukmin itu.” Kembali Al-Jubba’i menjawab: “Allah akan menjawab: “Aku tahu bahwa jika engkau hidup lama, engkau akan berbuat dosa dan akan terkena hukum. Maka untuk kebaikanmu Aku cabut nyawamu sebelum engkau sampai kepada umur tanggung jawab” (taklif, pen.). Al-Asy’ari semakin penasaran dan kembali bertanya: “Sekiranya yang kafir  mengatakan (memprotes): “Engkau mengetahui masa depanku sebagaimana Engkau mengetahui masa depannya (anak kecil), apa sebabnya Engkau tidak menjaga kebaikanku? Para sejarawan menyebut bahwa dalam hal pertanyaan ini al-Jubbai diam tidak menjawab. Ketidakmampuan menjawab pertanyaan itu cukup menjadi alasan bagi al-Asy’ari untuk tidak begitu mempercayai pemikiran Mu’tazilah.

Pasca dialog tersebut, al-Asy’ari mengalami kebingungan yang membuatnya mengasingkan diri. Para sejarawan menyebutkan bahwa al-Asy’ari mengurung diri di rumah sekitar 15 hari. Dialog itu merupakan ambang batas al-Asy’ari dalam mengusung dan membesarkan paham Mu’tazilah, dan kini paham tersebut dinilainya memiliki kelemahan. Besar kemungkinan kondisi kejiwaan al-Asy’ari cukup terpengaruh oleh mimpinya, ditambah dengan kondisi umum masyarakat yang tidak lagi simpati terhadap paham keagamaan Mu’tazilah.

Pada fase berikutnya adalah deklarasi al-Asy’ari tentang ditinggalkannya paham Mu’tazilah dan beralih kepada pemahaman keislaman yang baru. Deklarasinya berlangsung pada hari Jum’at di sebuah Masjid di Basrah, di mana al-Asy’ari naik mimbar dan berpidato di depan orang banyak. Pada momen inilah al-Asy’ari menyampaikan kekeliruan paham Mu’tazilah yang telah dianutnya selama ini. Dia menyatakan bahwa dia kini telah melepaskan ke-Mu’tazilahannya dengan secara simbolik melepaskan bajunya.

Pemikiran Kalam al-Asy’ari

Pembahasan pemikiran al-Asy’ari terkesan merupakan tema-tema kajian Mu’tazilah dan hal ini bisa dipahami mengingat al-Asy’ari adalah mantan pentolan Mu’tazilah. Hanya saja pemahamannya kali ini merupakan bentuk revisi dari pemahaman sebelumnya sebagaimana pemahaman Mu’tazilah pada umumnya.

Pengetahuan tentang sifat Allah

Al-Asy’ari mengajarkan bahwa Allah memiliki sifat. Hal ini berbeda dengan Mu’tazilah yang meniadakan sifat Allah. Bagi al-Asy’ari, sifat Allah bukanlah dzat Allah. Logikanya adalah tidak mungkin pengetahuan dengan yang mengetahui adalah satu. Pengetahuan adalah ‘al-‘ilm’ dan Allah adalah ‘al-‘Alim’ atau Yang Mengetahui. Penegasannya adalah bahwa Allah mengetahui dengan pengetahuan dan pengetahuan itu bukanlah dzat-Nya.

Perbuatan Manusia

Sebagian pandangan al-Asy’ari dalam konteks perbuatan manusia terkesan lebih dekat dengan Aliran Jabariyah. Bagi al-Asy’ari, manusia tidak memiliki kehendak dan daya untuk melakukan sebuah perbuatan. Sebelum kehendak dan perbuatan diciptakan oleh Tuhan, maka tidak ada seorangpun yang mampu melakukan sebuah perbuatan.

Asy’ariyah dan Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah

Mengapa terminologi Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah dinisbahkan kepada al-Asy’ari? Terminology Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah merupakan buatansejarawan semata dan al-Asy’ari tidak pernah menyebutkan pemikirannya sebagai Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah. Hanya saja terdapat beberapa pernyataan al-Asy’ari yang kemudian menjadi alasan para sejarawan untuk menyebut Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah.

Dalam Kitab Maqalat al-Islamiyyin al-Asy’ari berkata,”Ini adalah sebagian pendapat ashabul hadits dan Ahlu al-Sunnah.” Demikian juga pada kitab yang lain yakni al-Ibanah, al-Asy’ari menyebutkan, “Ini adalah pendapat ahlu al-Haq wa al-Sunnah.”

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

  1. kelompok al-asy’ari muncul dikarenakan salah satu faktornya dengan pendapat-pendapat kaum mu’tazilah.
    begitu banyaknya juga yang terus berkembang dilihat dari pergerakan orams2 di indonesia. begitu byak kepemahaman terhadap kegiatan ibadah bersifat sunnah.
    pertanyaan saya, bagaimana menanggapi ketetapan sunnah yg telah ditetapkan para pelopor ormas di negara tercinta kita ini ? misalnya saja masalah perbedaan hari raya Islam yang berbeda2 ?

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!