SPIRITUAL

APAKAH WAHDATUL WUJUD ITU SESAT?

Tasawuf falsafi adalah corak tasawuf yang memiliki cara yang berbeda (kekhasan tersendiri) di dalam menjelaskan ajaran-ajaran sufistik. Letak “kekhasan” tersebut ialah adanya pemaduan antara visi mistik dengan visi rasional. Tokoh-tokoh tasawuf falsafi ini diantaranya adalah: Ibnu Arabi, Al-Jilli, Ibnu Sabin, dan Ibnu Masarah.

Karakteristik dari tasawuf falsafi adalah: (1) Ajaran-ajarannya banyak mengakomodasi unsur-unsur filsafat; (2) Terminologi yang digunakan untuk menjelaskan konsep-konsep tertentu di dalam tasawuf falsafi cenderung rumit (sulit untuk dipahami) bagi masyarakat awam; (3) Dibutuhkan analisis rasionalistik untuk menyelami makna-makna terdalam pada tiap-tiap ajarannya.

Karena “rumitnya” corak tasawuf falsafi ini, tidak mengherankan jika beberapa pemikiran yang lahir seperti konsep wahdat al-wujud (kesatuan wujud) mendapatkan penolakan oleh beberapa ahli tasawuf. Dan yang paling kentara menolak corak tasawuf falsafi ini adalah Ibnu Taimiyah.

Apakah sebenarnya wahdat al-wujud itu? Mengapa pemikiran ini dianggap sesat oleh beberapa ahli tasawuf? Maka, melalui artikel ini dijelaskan mengenai hal tersebut agar pemahaman masyarakat tentang wahdat al-wujud tidak menjadi salah kaprah.

Pemikiran wahdat al-wujud dipelopori oleh tokoh yang bernama Ibnu Arabi (Batubara, 2015 : 190). Secara sederhana, definisi secara etimologis dari wahdat al-wujud adalah kesatuan wujud. Sedangkan secara terminologis, kata tersebut bermakna sebuah faham yang menyatakan bahwa manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud (Jamil, 2007 : 109).

Arti terminologis inilah yang kemudian merangsang orang untuk menganggap bahwa pemahaman ini sangat berbahaya, karena dapat menggiring orang-orang kepada faham polytheisme. Konsep ini dianggap dapat mencederai monotheisme yang sudah mapan dalam tatanan masyarakat. Mengatakan bahwa manusia dapat “bersatu” dengan setiap manusia, bukankah itu sama saja dengan mengatakan bahwa Tuhan itu banyak? Di sinilah letak berbahayanya itu.

Lantas, apakah benar bahwa konsep wahdat al-wujud berbahaya sebagaimana yang dikatakan pada argumen di atas? Untuk sampai kepada spekulasi itu, tentu saja harus memahami dahulu apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Ibnu Arabi tentang wahdat al-wujud tersebut. Barulah konklusi yang diambil menjadi lebih fair (baca: akademis) dan berdasar.

Ibnu Arabi berbicara tentang konsep wahdat al-wujud itu dari perspekif hakikat (inti dan holistik) dan bukan dari perspektif juziyat (parsial). Ibnu Arabi mengatakan bahwa semua yang ada ini hanya satu atau dengan kata lain, secara hakikat, wujud semua makhluk di jagad raya ini adalah wujud Khaliq (Anwar, 2008 : 176). Kalau pernyataan Ibnu Arabi ini ditelan bulat-bulat (dipahami secara juziyat) saja, jelas sekali sangat tidak masuk akal. Masakkan bisa diterima oleh logika jika dikatakan gunung-gunung adalah wujud Tuhan, sungai Batanghari itu adalah wujud Tuhan, cahaya adalah Tuhan, dan lain sebagainya. Sekali lagi, jelas ini irrasional. Bukankah Tuhan itu tiada yang serupa dengan-Nya?

Akan tetapi, kalau dikaji wahdat al-wujud itu secara hakikat, barulah nampak jelas apa maksud di balik konsep tersebut. Menurut Ibnu Arabi, secara hakikatnya, sekali lagi secara hakikat, wujudnya alam yang banyak ini sebenarnya tidak ada alias tidak ada wujudnya sama sekali. Misalnya: manusia melihat wujud “cahaya” yang menyilaukan mata yang memandang cahaya itu dengan matanya, sebenarnya (hakikatnya) “wujud” cahaya itu tidak ada. Adanya “wujud” cahaya yang menyilaukan itu adalah karena Allah SWT tengah meminjamkan wujud-Nya kepada cahaya, sehingga cahaya itu tampak berwujud. Karena adanya wujud Allah-lah, maka ada tampak wujud makhluk. Kalau tidak ada wujud Allah, maka wujud makhluk tidak ada. Dengan kata lain, wujudnya makhluk membutuhkan wujudnya Khaliq, sedangkan, wujudnya Khaliq tidak membuthkan wujudnya makhluk; ada atau tidak adanya makhluk, Khaliq tetap ada (wujud).

Dapat disimpulkan, bahwa persepsi negatif para ahli tentang konsep wahdat al-wujud ini terjadi karena adanya perbedaan perpektif. Jika saja, para ahli memandang wahdat al-wujud dengan sama-sama dalam perspektif hakikat bukan juziyat, maka persepsi negatif tentang wahdat al-wujud tidak pernah akan terjadi.

Ariyandi Batubara

Penulis dan Pembicara Filsafat Kontak: HP/WA 0852 27574516 E-mail: batubaraariyandi@rocketmail.com

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!