BAGAIMANA CARA MEMBANGUN KESATUAN UMAT DAN BANGSA

Sebuah perkembangan yang sangat memprihatinkan dalam suasana keberagamaan akhir-akhir ini adalah maraknya klaim kebenaran di satu sisi dan mengkafirkan atau menyesatkan orang lain di sisi lain. Terlalu sering Kita saksikan fenomena pengkafiran oleh kelompok dan orang tertentu terhadap kelompok, agama, dan orang lain yang berbeda faham meski dalam satu agama sekalipun. Jika dengan sesama umat seagama saja sudah saling mengkafirkan, maka bagaimana mereka berhubungan dengan sesama manusia yang berbeda agama? Kesatuan Umat dan Bangsa saat ini berada pada posisi yang sangat rawan; rawan konflik dan rawan perpecahan. Oleh karenanya penting difikirkan tentang bagaimana cara membangun kesatuan Umat dan Bangsa?

Kali ini saya menawarkan salah satu pemikiran kecil untuk menjawab persoalan tersebut. Saya menganjurkan akan pentingya upaya memperdalam ajaran agama sendiri sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengkafirkan orang dan agama lain.

Seringkali Kita menemui bahwa materi argumen pengkafiran dan penyesatan seseorang terhadap orang lain sangat sederhana dan terkesan tidak didasarkan pada pemahaman keagamaan yang benar. Cukup mengerikan kalau melihat tayangan pengkafiran di berbagai media; youtube, facebook, majalah online atau bahkan di stuis-situs dengan pembaca yang banyak. Apa jadinya sekiranya setiap orang menjadi terpengaruh dengan provokasi pengkafiran dan kemudian dia juga ikut-ikut mengkafirkan orang lain. yang lebih mengerikan lagi dampak dari media yang terus-menerus menayangkan provokasi pengkafiran itu mulai melakukan kekerasan dan tindakan anarki yang merugikan orang lain.

Sifat dan perbuatan – dan bahkan – kesenangan untuk mengkafirkan orang lain terbukti telah merusak ukhuwah islamiyah di antara Umat Islam dan antara sesama pemeluk agama. Jangan terlalu bangga dengan kesenangan untuk mengkafirkan orang lain dan menyesatkan orang lain, karena sifat ini telah menginvestasikan dan menaburkan benih-benih permusuhan, budaya kebencian dan kekerasan, dan menghambat terciptanya kesatuan umat dan bangsa. Sekali Kita menyesatkan dan mengkafirkan orang lain, maka di sana terdapat ribuan orang – yang kurang akal – telah bersiap-siap untuk mengobarkan permusuhan dan kekerasan. Mereka yang melontarkan kalimat penyesatan dan pengkafiran harus bertanggung jawab bagi terjadinya ketidakharmonisan dan dis-integrasi di tengah-tengah masyarakat.

Oleh karenanya, masih lebih mulia manakala Kita terus berikhtiar dan ber-ijtihad dalam mendalami ajaran agama Kita. Sebagai contoh kecil, di dalam al-Qur’an sama sekali tidak ditemukan ayat-ayat penyesatan, pengkafiran, dan kekerasan. Penyesatan, pengkafiran, dan bahkan siksa banyak ditemukan dalam konteks pendustaan umat-umat terdahulu terhadap para utusan Allah, baik Nabi maupun Rasul, sehingga Allah sendiri yang menimpakan azab dan siksa terhadap umat-umat pendusta kebenaran tersebut.

Al-Qur’an di dalam ribuan ayatnya banyak menganjurkan kebaikan, perbaikan, sopan santun, penghormatan terhadap sesama, keadilan, dan perlindungan. Andaikan saja Kita begitu mempedulikan dengan ayat-ayat yang berisikan anjuran kebaikan dan perbaikan ini, maka tidak cukup dalil bagi Kita untuk mengumbar permusuhan dan kebencian. Berusahalah untuk menonjolkan ayat-ayat kebaikan sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an sebagai tujuan utama Allah menurunkan petunjuk-Nya melalui para Nabi dan Rasul-Nya. Jika Allah telah menghadiahkan ajaran dan petunjuk yang berisi kebaikan untuk segenap umat, maka mengapa Kita justru membajak ajaran dan petunjuk tersebut dengan menyebarkan pemahaman keagamaan yang fanatis, keras, dan memicu permusuhan.

Langkah praktisnya adalah, bacalah al-Qur’an dengan seksama, hayatilah isinya, jadikan hati kita secara ikhlas dan rela menerima anjuran kebaikan dan perbaikan. Suarakan ajaran kebaikan dalam al-Qur’an itu dalam relung hati dan pikiran Kita. Percayalah, tidak ada ayat di dalam al-Qur’an yang mengajarkan kebencian dan permusuhan. Sekali lagi, jika Kita mengaku sebagai umat beragama namun masih menyukai penyesatan, pengkafiran, penghasutan, dan menghumbar kebencian, YAKINLAH bahwa Kita belum menjalani ajaran Allah sebagaimana yang ditunjukkan dalam al-Qur’an.

About Badarussyamsi 64 Articles
Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

2 Comments

  1. Menurut saya, alangkah baiknya mari kita tanamkan sifat intropeksi diri dan mencoba mensyukuri nikmat yang telah allah berikan. karena jika dengan demikian satu individu dengan individu yang lain akan merasakan betapa berharganya diri mereka dimata mereka sendiri dan orang lain.
    Indonesia memang terkenal dengan negara plural nya, namun islam pun telah lama menegaskan dalam Al-qur’an surat al-hujurat ayat:9 bahwa allah menilai manusia itu dari segi ketakawaannya meski mereka dalam keadaan multi-kultur, berbeda etnis, suku dan bahasanya namun ayat ini tetap bersifat netral dalam menilai manusia disisi tuhannya

  2. Tantangan pendidikan di indonesia
    Salah satu nya banyak yang alaumni s1 mereka tidak di beri kasempatan untuk mengimplemen tasikan ilmu yg mereka dpat kan….kenyakan pemimpin skrang ini lebih mementingkan keluarga sehingga yg belum selsai s1 bisa bkerja disana
    Sementara s1 bnyak yg nganggur
    Tp indonesia membutukan yg propesional..ini la slaah satu penybab kmunduran sistem pendidikan di indonesia

Leave a Reply