BAGAIMANA SEHARUSNYA KITA MEMAHAMI TAHUN BARU HIJRAH

[toc title=”Daftar Isi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Pendahuluan

Hampir seluruh Umat Islam memperingati Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram dengan berbagai kegiatan yang esensinya mengenang perjuangan dan hijrah Nabi Muhammad SAW. Namun terdapat sedikit ‘anomali’ atau keganjilan manakala perenungan atas makna hijrah ini hanya terbatas pada kegiatan mengenang peristiwa hijrah Muhammad SAW. Peristiwa hijrah Muhammad SAW seharusnya menjadi fondasi bagi setiap upaya, ijtihād dan perjuangan Umat Islam untuk meraih kemajuan. Inilah kiranya alasannya mengapa kemudian Allah SWT begitu banyak mengingatkan kewajiban berhijrah bagi hamba-Nya yang beriman. Dalam konteks ini, maka makna hijrah bukan hanya terbatas pada peristiwa hijrah Muhammad SAW, akan tetapi hijrah menjadi kewajiban dinamis dan progresif yang mengiringi kehidupan seorang Muslim. Dengan berpijak kepada sejarah hijrah Muhammad SAW serta perintah Allah kepada segenap orang beriman untuk berhijrah, artikel ini akan menjadikan peran Muhammad SAW di Madinah sebagai simbol dan pijakan bagi penemuan makna penting dari peringatan Hijrah dan Tahun Baru Islam.

Historiografi Hijrah

Secara historis, hijrah dinisbahkan kepada peristiwa ‘hijrah’, ‘migration’ (perpindahan) Muhammad SAW pada tahun 622 M dari Makkah menuju ke sebuah desa kecil di Madinah yakni Yatsrib sekitar 320 kilometer dari Makkah. Migrasi itu setidaknya dikarenakan oleh dua faktor penting yakni faktor ancaman eksistensi komunitas keagamaan dan faktor kesinambungan tugas-tugas Kerasulan. Para sejarawan pada umumnya menjadikan faktor kelangsungan eksistensi komunitas Muslim sebagai alasan Hijrah Muhammad SAW. Di Makkah, situasi sosial belum memungkinkan bagi Muhammad SAW dan pengikutnya untuk mengembangkan Islam karena kuatnya ancaman dan intimidasi kaum kafir dan musyrik Makkah. Di sisi lain, hijrah Muhammad SAW dilatarbelakangi oleh permintaan utusan dua suku di Madinah yakni Suku ‘Aus dan Khazraj. Perwakilan kedua suku ini menginginkan Muhammad SAW menjadi penengah dari pertikaian antar suku yang terjadi di Madinah. Peran apakah yang kemudian dimainkan Muhammad SAW di Madinah?

Abdul Waheed Khan dalam bukunya The Life Prophet Muhammad (2002) menjelaskan bahwa hijrah Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah membuahkan berbagai kesuksesan Muhammad SAW dalam membangun masyarakatnya. Di Madinah, Muhammad SAW berhasil membangun hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat; agama, ekonomi, pendidikan, bahkan tatanan politik. Di Madinah jualah Muhammad SAW membangun azas kesetaraan sosial antara semua suku dan penganut agama. Robert Spencer dalam The Truth About Muhammad: Founder of The World’s Most Intolerant Religion (2006) menyebutkan bahwa termasuk peran pertama yang dimainkan Muhammad SAW ketika telah berada di Madinah adalah membangun toleransi dengan para pemuka Yahudi seperti Banu Qaynuqa, Banu Nadir, dan Banu Qurayzah. Berazaskan toleransi inilah Muhammad SAW kemudian membuat perjanjian-perjanjian atau kesepakatan dengan semua kelompok di mana kemudian dikenal sebagai ‘Piagam Madinah’. Sementara itu Tariq Ramadhan memperkuat pernyataan itu dalam bukunya Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad (2007) dengan menyatakan bahwa segera setelah sampai di Madinah, Muhammad SAW membangun prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, kesamaan harkat bagi semua penandatangan perjanjian (Yahudi, Muslim, pendatang dari Mekah, maupun Suku ‘Aus dan Khazraj).

Analisis yang bisa diberikan terkait dengan peran sosial yang dimainkan Muhammad SAW di atas adalah bahwa apa yang diperankan Muhammad SAW adalah ‘the high human role’ (peran-peran tinggi kemanusiaan) untuk pembentukan sebuah ‘high civilization’ (peradaban tinggi). Muhammad SAW adalah ‘Nabi dan Rasul’, ‘Tokoh Dunia’ dan ‘Sang Pelopor’ bagi toleransi, keadilan, dan egalitarianisme. Dalam konteks ini, sangat ironis manakala Samuel Huntington dalam karya monumentalnya The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996) justru menyebut Islam sebagai sebuah ‘rival politik Barat’ atau ‘penjuru kekuatan’ yang akan berkontribusi besar bagi terciptanya benturan peradaban pasca runtuhnya Uni Soviet. Karya Huntington ini menuai kritik keras dari banyak ilmuan. Salah satunya adalah Amartya Sen dalam ‘A World Not Neatly Divided’, New York Times, (2001) yang menilai Huntington tidak dapat membedakan antara peradaban, pemahaman agama, dan budaya.

Mengambil pelajaran dari fakta sejarah tersebut, Umat Islam seharusnya dapat memainkan peran ‘the high human role’ dalam konteks global. Umat Islam tidak bisa memainkan ‘the low human role’ (peran-peran rendahan) semisal hanya merespon modernitas dan globalisasi dengan ‘protes’ dan ‘anti pati’ sebagai akibat dari mental ‘sock culture’ (kekagetan budaya) semata, ataupun hanya menjadi penonton dalam percaturan sejarah yang dinamis. Mampukah Umat Islam kini melanjutkan peran-peran penting yang telah dirintis oleh Muhammad SAW? Pertanyaan ini yang seharusnya menjadi fokus pemikiran dan kiprah Umat Islam saat ini. Sebagian kecil Muslim saat ini masih sering memainkan peran rendahan ini dalam berbagai bentuk semisal terlibat dalam tindakan SARA dan sejenisnya. Sebagian lainnya justru berkubang dalam peran-peran yang dimurkai Allah SWT dan Rasul-Nya semisal terlibat dalam tindak kriminal dan terorisme.

Implementasi Doktrin Hijrah

Di dalam al-Qur’an, Allah SWT begitu memuji dan memuliakan derajat orang-orang yang bersedia berhijrah (QS. 9:20, 16:41, 2:18), dan hinanya orang yang tidak mau berhijrah (QS. 4:89, 8:72,) serta hijrah merupakan tanda kebenaran iman (QS. 8:74, 59:8). Dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut, Hasan al-Bannā dalam karyanya Allāh fī ‘Aqīdat al-Islāmiyyah (1947) justru menjadikan hijrah sebagai salah satu parameter ‘keislaman’ seorang Muslim, di mana menurutnya orang Islam yang selama hidupnya belum pernah ‘berhijrah’ dan ‘berjihad’, maka keislaman mereka belum sempurna. ‘Ibn al-Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Madārij al-Sālikīn (1998), pernah menyatakan bahwa orang yang tidak memiliki pemahaman tentang makna hijrah bagi kehidupan “hendaklah menaburkan debu ke kepalanya, agar dia sadar, lalu meneliti kembali imannya sejak awal”.

Berangkat dari doktrin al-Qur’an mengenai hijrah di atas, dapat dipahami bahwa hijrah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Setiap Muslim diwajibkan untuk ‘keluar rumah’ dalam rangka berusaha untuk menciptakan kebaikan untuk diri, keluarga dan masyarakatnya. Muslim yang memiliki spirit hijrah setidaknya memiliki ciri kepribadian menyukai perubahan dan dinamika positif, progresif, dinamis, (lawan stagnan). Di sisi lain – sebagaimana Muhammad SAW – Muslim yang memiliki spirit hijrah berani dan mampu adaptasi, integrasi, dan memainkan peran positifnya dalam perubahan jaman. Jika kita hendak berhijrah, maka setiap upaya untuk menciptakan kebaikan merupakan artikulasi dari makna hijrah. Upaya untuk menciptakan perbaikan sosial, keadilan, toleransi, dan kemajuan merupakan artikulasi dari hijrah. Usaha untuk mewujudkan hal tersebut tentu sangat membutuhkan usaha keras, usaha yang bersifat ‘ijtihād’ maupun aktivitas yang bersifat ‘moving’ (gerak dan perpindahan) dan tidak bisa dengan hanya berpangku tangan.

About Badarussyamsi 64 Articles
Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Be the first to comment

Leave a Reply