AGAMA GAGASAN PENULIS

BAGAIMANA SEHARUSNYA UMAT ISLAM MERESPON PENCITRAAN NEGATIF

Artikel ini ingin mengupas persoalan pencitraan negatif atas Islam dan Umat Islam di Barat yang bisa dibilang unik dan fluktuatif. Pada satu saat, para pengamat dan kalangan pers Barat masih sering mencitrakan Islam sebagai agama teror dan Muslim merupakan para pelaku teror. Hal ini berdampak pada berkembangnya sentimen anti-Islam ataupun anti-imigran Muslim di Barat. Pasca tragedi 9/11, Muslim di Barat menjadi fokus perhatian pengamat, pers, dan politisi karena merupakan sasaran citra negatif. Namun di sisi lain, berkembangnya komunitas Muslim di negara-negara Eropa; Jerman, Inggris, Perancis dan Amerika merupakan fenomena unik mengingat pencitraan negatif atas Islam di negara-negara tersebut juga tidak kecil. Sekitar 20-an tahun silam, R.W. Southern dalam Western Views of Islam masih relevan di mana orang-orang Barat semakin bingung dengan prasangka yang semakin tebal terhadap Islam karena mereka menemukan bahwa Islam merupakan sumber ancaman dan bahaya. Akan tetapi, jika Islam merupakan perwakilan dari imajinasi-imajinasi kejahatan dan kepalsuan, mengapa Islam tetap tegak berdiri dan kehadirannya semakin banyak diterima banyak kalangan, mengapa justru orang-orang tidak meninggalkannya?

Hingga kini, Islam dan Muslim di Barat masih rentan dari pencitraan negatif. Para penulis dan karya-karya mutakhir tentang hubungan Muslim dan Barat masih menempatkan persoalan pencitraan negatif atas Muslim sebagai tema dalam karya-karya mereka. Tema-tema 9/11 dan terorisme masih menjadi tema-tema hangat dalam karya-karya berbentuk buku maupun jurnal-jurnal internasional. Secara faktual, pencitraan negatif yang terus berlangsung tersebut dapat dilihat dalam beberapa contoh kasus semisal publikasi beberapa kartun yang merusak Islam dan Nabi Muhammad sebagaimana interpretasi yang salah atas beberapa ayat Alquran oleh penerbit Gilders. Demikian juga film kartun anak-anak yang menggambarkan pemeran Ali Baba sebagai khas Muslim Arab digambarkan sebagai ‘anjing gila’, ataupun Aladin yang digambarkan penuh kebencian akan memenggal tangan Ratu Jasmine, hingga “pelecehan” yang terus-menerus dilakukan atas figur Nabi Muhammad SAW, baik oleh seorang kartunis  Denmark seperti Lars Vilks pada 2007, maupun oleh majalah mingguan Charlie Hebdo Perancis pada 2014 lalu yang berakibat pada penyerangan atas kantor redaksi majalah tersebut.

Dalam menghadapi pencitraan ini, respon Umat Islam dapat digolongkan dalam tiga varian; pertama merespon dengan aksi-aksi kekerasan, kedua merespon dengan wacana perlawanan atau counter discourse, dan ketiga tidak melakukan respon karena kebodohan mereka. Pada umumnya, bentuk respon pertama dan ketiga sering mendominasi sikap Muslim terhadap Barat. Mereka yang merespon secara keras sering terlibat dalam penyerangan terhadap fasilitas-fasilitas Barat di manapun berada. Mereka juga tidak segan-segan membawa simbol-simbol agama dan ayat-ayat Alquran sebagai pembenar perlawanan mereka atas Barat yang mereka anggap telah menyerang mereka. Demikian juga wacana Jihad yang salah alamat sering dikumandangkan untuk melawan Barat yang kafir. Sementara Muslim dalam kategori perespon ketiga juga termasuk kategori paling banyak. Mereka adalah Muslim yang tidak memiliki wawasan yang baik tentang Islam, mereka juga tidak memiliki kepedulian terhadap komunitas maupun agama mereka. Mereka adalah Muslim penikmat budaya hedonisme, menyiakan waktu, dan pergaulan bebas. Mereka telah terjebak dalam buaian-buaian budaya global yang semakin menghilangkan jati diri mereka. Hilangnya jati diri mereka bukan hanya dalam konteks keagamaan mereka, akan tetapi jati diri mereka sebagai sebuah bangsa.

Penulis menyarankan bahwa generasi Islam ke depan hendaknya banyak mengisi dalam kategori perspon kedua yang melakukan perlawanan atas pencitraan negatif dengan membangun wacana dan penggalian atas nilai-nilai positif Islam. Membangun wacana dan penggalian atas nilai-nilai positif Islam bukan bertujuan sebagai sebuah upaya apologi, akan tetapi untuk membudayakan nilai-nilai Islam sebagai agama raḥmatan lil ‘ālamīn. Islam itu sendiri sebenarnya sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan universal yang positif, namun luput dari penggalian dan promosi Muslim itu sendiri. Satu kealpaan yang telah dilakukan oleh generasi Muslim adalah upaya penggalian nilai-nilai kemanusiaan universal Islam, khususnya yang banyak tertera di dalam Alquran. Patut menjadi keprihatinan kita adalah bahwa banyak generasi kita – tanpa kecuali – mahasiswa-mahasiswa Muslim yang tidak tertarik terhadap Alquran. Fenomena ini setidaknya merupakan hasil pengamatan penulis atas mahasiswa Islam yang telah dilakukan selama kurang lebih 10 tahun terakhir. Jangankan ingin mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan universal Islam, membaca dan memahami Alquran saja telah mereka tinggalkan. Mereka nyaris tidak lagi tertarik terhadap Alquran, kecuali hanya sedikit di antara mereka yang masih menjalankan tradisi membaca Alquran.

Tradisi kemanusian positif di sini dimaksudkan sebagai upaya penggalian dan pelaksanaan nilai-nilai kemanusiaan positif dan universal Islam. Tradisi meningkatkan pemahaman atas Islam, membudayakan nilai-nilai Islam, berusaha hidup secara Qurani, dan terus mengembangkan kebaikan diri dan masyarakat seperti yang diserukan Alquran merupakan tradisi kemanusiaan positif. Bagi sebagian Muslim, ungkapan-ungkapan ini bisa jadi terasa abstrak dan utopis, akan tetapi sebenarnya tidak demikian. Alquran dalam banyak kesempatan justru menggunakan bahasa dan tuntunan hidup yang mudah dipahami, sederhana, dan operasional. Kewajiban menegakkan keadilan, berbuat baik terhadap sesama, larangan berbuat jahat dan merusak, bukankah hal itu cukup mudah dipahami? Jika tuntunan Alquran ini telah include dalam diri setiap Muslim, maka upaya merespon citra negatif tidak perlu dilakukan. Persoalannya, Umat Islam justru gemar mengembangkan budaya yang tidak dituntunkan Alquran sehingga justru dapat menampung pencitraan dan tuduhan-tuduhan negatif atas mereka hingga terkesan bahwa mereka memang merupakan pemilik dari citra-citra negatif tersebut.

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!