GAGASAN PENULIS TEOLOGI

BERUSAHA MEMAHAMI TAKDIR TUHAN

Para pembaharu pemikiran Islam memiliki kepedulian melihat kondisi umat yang memperihatinkan. Sebutlah salah satunya adalah Jamaluddin Al-Afghani. Menurutnya, terdapat beberapa hal yang menyebabkan Umat Islam mengalami kemunduran. Hal yang disasar oleh Al-Afghani adalah pemahaman keagamaan keagamaan yang jumud, statis dan fatalis. Hal ini terjadi karena adanya pemahaman yang keliru terhadap pengertian Takdir. Menurut Al-Afghani, takdir dipahami sebagian umat Islam waktu itu sebagai ketentuan Tuhan di mana manusia sama sekali tidak memiliki kemampuan apapun dalam kehidupan.

Barangkali bentuk ekstrim dari pemahaman tersebut adalah bahwa karena segala ketentuan apapun adalah berada di tangan Tuhan, maka manusia tidak memiliki daya apapun sehingga manusia tidak perlu lagi untuk mengupayakan apapun. Kalaupun mengupayakan apapun tidak akan berhasil karena segalanya sudah ditentukan Tuhan. Begitulah kira-kira seorang dosen mengajarkan mahasiswanya tentang pemahaman tentang takdir yang keliru.

Allah telah memberikan segenap kebaikan kepada manusia, itu bagian dari penjelasan takdir. Allah menganugerahkan ruh kepada manusia, itu takdir. Allah memberi rezki, kehidupan, bahkan jodoh dan maut, semua itu telah ditetapkan Allah kepada manusia. Tetapi, kita manusia tidak pernah tahu rezki yang akan Allah berikan kepada kita. Kita juga tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi jodoh kita, kapan maut akan mendatangi kita. Jadi, kalau tidak pernah tahu akan takdir tersebut, mengapa kita mengklaim bahwa Allah telah menakdirkan tentang takdir tertentu kepada kita? Alangkah lucunya kalau kita menjadi jumud dan fatalis karena pemahaman akan takdir yang belum jelas.

Ada teman tertimpa kegagalan dan seraya menyatakan hal itu takdir buruk Allah kepadanya. Pertanyaannya, bagaimana kalau hal itu merupakan cobaan atau ujian yang diberikan Allah agar kita memperoleh pelajaran berharga untuk memperoleh capaian yang jauh lebih baik di kemudian hari. Sementara kita karena salah menafsirkan ujian itu yakni dengan mengira hal itu sebagai takdir buruk, maka kemudian berputus asa. Bukankah hal itu sangat disayangkan?

Dengan demikian, yang perlu dikoreksi itu adalah pemahaman kita tentang takdir. Adalah benar bahwa Allah telah menakdirkan beberapa hal di atas kepada kita. Namun, ketika kita tidak mengetahui takdir Allah kepada kita, alangkah baiknya kalau kita memohon kepada-Nya seraya berusaha agar takdir-takdir yang datang itu adalah takdir-takdir yang baik.

Manusia juga telah diberi potensi yang sangat berguna seperti akal pikiran dan hati. Maka gunakanlah semua potensi itu dengan sebaik-baiknya untuk menyonsong takdir Allah. Seraya memohon takdir baik kepada Allah, rendahkanlah diri kita di hadapan-Nya, nyatakanlah segenap kelemahan dan keterbatasan kita di hadapan-Nya.

Jadi, potensi yang telah diberikan Allah kepada manusia bertemu atau beriringan dengan kasih sayang Allah kepada kita sehingga menghasilkan sebuah takdir Allah, semoga menjadi sebuah takdir yang baik dan membahagiakan.

Sumber gambar: caricom.org

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!