BIOGRAFI TOKOH

BIOGRAFI IBNU KHALDUN

Nama lengkap Ibn Khaldun adalah ‘Abd al-Rahman abu Zaid Ibn Khaldun, lahir di Tunis 732 H / 1332 M, tepatnya tanggal 27 Mei 1332 M. Hidupnya berpidah-pindah dari daerah satu ke daerah lain meliputi Afrika Utara, Spanyol (Granada), Mesir dan kota-kota lain. Dia juga hidup dari penguasa politik satu ke penguasa politik lain. Ibn Khaldun meninggal pada tahun 681 H / 1406 M dan dimakamkan di Kairo, Mesir.

Ibn Khaldun dalam peta perkembangan keilmuan sejarah secara umum baik di Barat maupun di Timur ternyata memiliki posisi yang penting. Kepakaran dalam keilmuannya, mengantarkan anggapan bahwa Ibn Khaldun sebanding dengan Vico dalam peletakan dasar filsafat sejarah, juga Comte dalam peletak  ilmu sosiologi. Namun sayang, Ibn Khaldun yang sebetulnya mendapat sebutan sebagai “Bapak Filsafat Sejarah” dan “Bapak Sosiologi” ini belum banyak dibahas dan diapresasi secara kuat dalam diskursus sejarah keilmuan Islam Modern.

Ibn Khaldun memiliki karya pemikiran sejarah yang besar yang diberi judul Kitab al-‘Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wal Khabar fi ayyamil ‘Arab wal ‘Ajam wal Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawi as-Sulthan al-Akbar yang selesai ditulis tahun 1377 M. Pendahuluan kitab ini yakni Muqaddimah sering menjadi bahasan atau kitab tersendiri, bahkan kadang lebih terkenal dari pada kitab induknya. Berbagai penelitian dan pembahasan telah banyak dilakukan baik oleh ilmuwan Barat maupun ilmuwan Islam.

Sebagai karya termasyhur Ibn Khaldun, Muqaddimah, dalam studi sosiologi umum dianggap sebagai salah satu dari enam monograf penting. Bahkan menurut Arnold Toynbee, karya Ibn Khaldun merupakan karya terbesar yang sebelumnya tidak pernah lahir dari pemikiran seseorang di manapun dan kapanpun.

Mengenai dasar pendidikan dan keilmuan Ibn Khaldun, Sejak mudanya ia belajar dari beberapa guru dalam berbagai bidang keilmuan, meliputi bahasa, hadist, fiqh dan ilmu-ilmu rasional filosofis. Dari sekian guru-gurunya, yang paling dikagumi oleh ibn Khaldun adalah Abu ‘Abdillah Muhammad ibn Ibrahim al-Abili. Sedangkan mengenai kepakaran dalam keilmuwannya, ada beberapa dugaan tentang hal-hal yang mempengaruhinya. Kemungkinan Ibn Khaldun mendapat pengaruh dari pemikiran Yunani barangkali memang ada. Namun hal itu sangatlah samar. Memang dia mengutip sebuah cerita dari yang dikatakannya berasal dari Aristoteles, namun kutipan itu, setelah diteliti lebih lanjut, ternyata tidak terdapat dalam karangan-karangan Aristoteles. Sehingga diragukan apakah ia benar-benar telah membaca bukunya aristoteles. Kemungkinan lain di pengaruhi oleh khasanah pustaka Spanyol yangtelah dimusnahkan akibat perang saudara atau inquisisi.

Namun, menurut Charles Issawi, pemikiran yang terdapat disimpulkan adalah bahwa pemikiran Ibn Khadun beserta dengan konklusi-konklusinya adalah hasil dari proses penyelidikannya yang bebas dan perenungannya kepada bebagai kejadian yang dialaminya.

Pemikiran Ibn Khaldun sempat tidak dihargai untuk beberapa abad. Nampaknya hal itu disebabkan oleh karena Ibn Khaldun muncul dalam situasi yang tidak menguntungkan. Dunia Islam sedang mengalami kemunduran, keadaan ini mengakibatkan karya pemikiran tidak begitu diapresasi. Selain itu, ada anggapan Ibn Khaldun bukanlah filosof sebagaiaman al-Farbi, Ibn Sina dan Ibn Rusd, sehingga karyanya tidak dihargai sebagaimana karya para filosof itu. Belakangan, pemikiran Ibn Khaldun terangkat dan dikenal dalam dunia akademis justru ketika ilmuwan-ilmuwan Barat mengeksposnya. Pertama kali dilakukan oleh Barthelmy d’Herbelot de Molainville (1697 M.) menulis makalah mengenai Ibn Khlaldun dalam mengangkat Ibn Khaldun ini adalah Von Hammer (Austria) dan Schulz (Jerman).

Perjalanan politik Ibn Khaldun secara ringkas dapat disebutkan, dia memulai kariernya dengan mengabdi pada Pemerintah Abu Muhammad Ibn Tafrakin. Ketika ibn Tafrakin di taklukkan oleh Abu Zaid, penguasa konstanti, Ibn Khaldun melarikan diri dan bekerja pada Abu Inan, Sultan di Tlemence. Pada masa berikutnya Ibn Khaldun bersekongkol dengan Amir Abu Abdullah Muhammad untuk menggulingkan sultan. Akibat perbuatannya ini, Ibn Khaldun ditangkap dan sempat dipenjarakan (1357-1358). Keluar dari penjara, Ibn Khaldun bekerja untuk Abu Salim, Sultan di Maroko. Namun sepeninggalan Abu Salim, dan karenanya ada intrik-intrik di pengadilan, Ibn Khaldun pada tahun 1362 memutuskan meninggalkan Maroko menuju ke Granada (Spanyol).

Di Granada, ia bekerja untuk pemerintahan Mohammad V. Oleh Mohammad V sempat diutus untuk menjadi Duta Besar menemui Pedro, si kejam dari Castila. Di Granada Ibn Khaldun mendapatkan ganjaran dari Perdana Menteri Ibn Al-Khatib. Mendapat perlakuan kurang baik dari Al-Khatib, Ibn Khaldun memutuskan untuk hengkang dan menerima tawaran menjadi Perdana Menteri di Bijayah. Ketika pemerintahan Mohammad V berakhir karena di taklukkan oleh Abu Abbas, Ibn Khaldun berusaha bekerjasama dengan Abu Abbas dan menyerahkan Bijayah kepadanya. Namun, karena kemudian hari Abu Abbas tidak mempercayainya (menyingkirkannya), maka Ibn Khaldun meninggalkan Bijayah menuju Basra. Demikian seterusnya dia berganti-ganti dari satu pemerintah ke pemerintah yang lain.

Setelah lelah di dunia politik, tahun 1375 Ibn Khaldun meninggalkan gelanggang politik dan menetapkan di Istana Qal’at Ibn Salamah, dekat Oran, untuk memulai penulisan Kitab al-‘Ilbar. Setelah selesai menulis Ibn Khaldun berusaha kembali ke tanah kelahirannya Tunisia dengan meminta maaf terlebih dahulu pada sultan yang berkuasa atas sikap oposisinya di masa lalu. Namun di Tunisia inipun Ibn Khaldun tidak bertahan lama, pada tahun 1982 dia meninggalkannya menuju Alexandria menekuni dunia barunya, yakni jalur akademis dan menerima tawaran menjadi Hakim Agung.

Abdul Halim

Dosen Ilmu Hadis pada IAIN STS Jambi dan Mahasiswa Program Doktor pada UIN Raden Fatah Palembang

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!