BIOGRAFI TOKOH

BIOGRAFI SINGKAT IBNU MAJAH

Nama lengkap Ibnu Majah ialah Abu ‘Abdillah Muhammad Ibn Yazid Ibnu Majah al-Rabi’ al-Qazwini. Beliau dilahirkan di Qazwen nama salah satu kota di Iraq pada tahun 209 H (824 M)  dan wafat pada tanggal 22 Ramadhan 273 H. Kota Iraq adalah bagian dari Persia yang sangat terkenal telah banyak menghasilkan  orang-orang ahli ilmu atau para ulama-ulama.

Al-Khalili, ar-Rafi’i Ibnu Hajar al-Asqolani dan Fairu al-Zabadi, mereka berpendapat  bahwa; “Majah adalah nama gelar untuk Yazid ayahnya Ibnu Hajar,” dan inilah pendapat yang paling rajih (kuat). Hal itu dinyatakan oleh Imam al-Khalili, ayah Ibnu Majah yakni Yazid pada ketika itu dia dikenal dengan sebutan Majah Mawa Rab’ath. (Depag. RI. 1992; 395).

Sejak  berumur 15 tahun, Ibnu Majah sudah merantau ke berbagai Negara untuk mencari ilmu, dan di usia ini juga beliau mulai mempelajari ilmu hadis dengan gurunya yang bernama Ali Ibn Muhammad at-Tanafsi sampai beliau berumur 20 tahun seperti kebiasaan pada saat itu. Demi untuk mencapai tekadnya dalam mendapatkan hadis-hadis, beliau sanggup melawat ke berbagai negeri, di antaraya; Iraq, Hijaz, Mesir, Syam, Kufah, Bahsrah, dan lain sebagainya. Di negeri-negei ini juga beliau banyak bertemu dengan para ulama ahli hadis, dan banyak mendengar hadis dari Imam-imam hadis pada masanya, Di antaranya adalah sahabat-sahabat Imam Malik, sahabat-sahabat Imam al-Lais, Muhammad ibn Abdillah bin Numair, Hasan ibn Amar, Muhammad ibn Rahmi, Ahmad Ibn Azhar, Basyar bin Adam, Yazid bin Abdullah al-Yamani dan tokoh-tokoh lainnya yang setingkat.

Dengan semangat yang kuat dan kerja kerasnya dalam mencari hadis, Ibnu Majah berhasil mengumpulkan hadis-hadis, Adapun jumlah hadis yang ditulis oleh beliau sebanyak 4341 hadis, yang terbagi menjadi 37 kitab dan 1502 bab. Hadis-hadis beliau terdiri dari 428 hadis sahih, 119 hadis hasan, 613 hadis dha’if, 99 hadis yang sangat lemah dari kualitasnya, akan tetapi para ulama banyak tidak setuju kepada Ibnu Majah karena hadis yang beliau riwayatkan banyak merupakan hadis dhai’f. Para ulama lebih mengutamakan Imam ad-Darimi dari pada karya nya Ibn Majah, sehingga sebagian ulama telah sepakat bahwa kitab hadis yang pokok itu ada lima yaitu.

  1. Sahih al-Bukhari
  2. Sahih Muslim
  3. Sunan Abi Daud
  4. Sunan an-Nasa’i
  5. Sunan al-Tirmidhi

Tetapi semua ulama menetapkan semua kitab hadis pokok itu ada enam dengan menambahkan Sunan Ibn Majah, sehingga terkenal menjadi sebutan Kutubus Sittah.

Adapun orang yang pertama kali memasukkan Sunan Ibn Majah ke dalam deretan Kutub al-Sittah adalah al-Hafizh Muhammad ibn Thahir al-Maqdisiy. Dalam kitabnya Atraful Kutubus Sittah dan di dalam risalahnya Syurutul A’ immatis Sittah. Pendapat inilah yang banyak diikuti oleh para ulama antara lain; Al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, dan Al-Hafizh Syihabuddin al-Busairi yang di dalam kitabnya yakni Misbah az-Zujajah fi Zawaid Ibnu Majah membahas hadis-hadis tambahan di dalam Sunan Ibnu Majah yang tidak terdapat dalam Kutubul Khamsah, serta menunjukkan derajat hadis-hadis, seperti hadis sahih, hasan, dhai’f atau maudlu. Usaha Imam Busairi ini menguatkan bantahan terhadap pendapat al-Mizzi dan menguatkan Ibnu Hajar.

Selain terkenal dalam bidang Ilmu hadis, Ibnu Majah juga terkenal dengan Ilmu-ilmu yang lain seperti Tafsir al-Qur’an dan Sejarah Kebudayaan Islam. Hal itu terlihat dari tiga buah karyanya yang terkenal; Sunan Ibn Majah, Tafsir al-Qur’an al-Karim, dan Sejarah Perawi Hadis.

Baca juga:

IMAM MALIK DAN KETEKUNAN SEORANG ILMUAN

RIWAYAT HIDUP IMAM SYAFII

IMAM HANAFI DAN SPIRIT PENCARIAN ILMU AGAMA

Mohammad Ridwan

Mahasiswa IAIN STS Jambi dan Penulis Aktif Bidang Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!