BIOGRAFI TOKOH

BIOGRAFI SINGKAT IBNU MISKAWAIH

Tokoh kita yang satu ini terkenal dengan beberapa julukan keutamaan seperti; Filosof, GuruEtika, Sejarawan, dan Saintis (Scientist). Nama lengkapnya Abū ʿAlī Aḥmad ibn Muḥammad ibn Yaʿqūb ibn Miskawayh, dan lebih populer dipanggil Ibnu Miskawaih. Lahir di kota Rayy Iran pada 330 H/941 M dan wafat di Asfahan pada 421 H/1030. Sebagian pengamat menilai bahwa sebelum memeluk Agama Islam, Miskawaih merupakan seorang penganut Majusi atau Zoroastrianisme sebagai agama di Iran pada mulanya sebelum Islam memasuki kawasan itu.

Miskawaih dapat dibilang sangat beruntung karena dia lahir hingga menutup usianya pada masa ketika Islam berada pada Golden Age di mana ilmu pengetahuan sedang berkembang pesat dalam Dunia Islam. Masa itu dikenal sebagai masa konsentrasi penuh Ummat Islam dalam menerjemahkan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab sehingga menghasilkan karya-karya yang banyak. Miskawaih yang beruntung, hidup di tengah-tengah melimpahnya karya-karya keilmuan yang mencerahkan. Miskawaih begitu akrab dengan karya-karya Filosof besar Yunani seperti Plato dan Aristoteles meskipun dia juga mempelajari karya filosof Yunani yang lain seperti; Porphyrius, Pythagoras, Galen, Alexander dari Aphrodisias, dan Bryson.

Sebenarnya Miskawaih menyukai berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti Filsafat, Kimia, dan Sastra, namun kemudian dia lebih menyukai disiplin ilmu Sejarah dan Etika. Terdapat sekitar 20 karya yang disandarkan padanya. Dia belajar kitab sejarah Tarikh at-Tabari karangan Abū Jaʿfar Muḥammad ibn Jarīr al-Ṭabarī (838-923) kepada Abu Bakar ibnu Kamil Al-Qadhi dan belajar filsafat kepada Ibnu al-Khammar yang banyak mengetahui karya-karya Aristoteles.

Kitab Miskawaih yang mengupas moral atau etika yakni Tahdhīb al-Akhlāq yang dinilai sebagai pandangan-pandangan terbaik Filsafat Islam disebut-sebut dipengaruhi oleh pemikiran Aristoteles. Sementara itu karya besarnya dalam bidang sejarah adalah Kitāb Tajarīb al-Umam wa Ta’aqub al-Ḥimam banyak mengupas tentang Sejarah Dunia. Miskawaih menolak eksistensi legenda dalam menyusun kitab sejarah. Pernyataan pentingnya dalam hal ini adalah bahwa sejarah ummat manusia telah mberikan petunjuk-petunjuk moral bagi kehidupan.

Meski ada pengaruh pemikiran para Filosof Yunani (Plato dan Aristoteles) dan begitu juga ada pengaruh Filosof Arab (al-Farabi) pada diri Miskawaih, namun Miskawaih melanjutkan kajian yang belum dilakukan sebelumnya oleh para pendahulunya, khususnya dalam bidang Etika. Oleh karenanya kiprahnya tersebut, maka Miskawaih dinobatkan sebagai Guru Ketiga setelah berturut-turut Aristoteles dan al-Farabi. Wow… Ibnu Miskawaih yang mengagumkan.

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!