BIOGRAFI TOKOH

BIOGRAFI SINGKAT IMAM AL-GHAZALI

Nama lengkap Imam al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad at-Thusi al-Ghazali yang secara singkat sering dipanggil dengan sebutan al-Ghazali ataupun Abu Hamid al-Ghazali. Beliau juga mendapat gelar Imam Besar Abu Hamid al-Ghazali Hujjatul Islam. Beliau dan saudaranya lahir di Thur, Khurasan, suatu tempat yang tidak jauh dari Kota Naizabur dan Persia. Imam al-Ghazali lahir pada tahun 450 Hijriyah dan wafat pada tahun 505 Hijriyah.

Ayah Imam al-Ghazali adalah seorang yang pekerja keras dan seorang yang sangat sederhana, dengan kesederhanaannya beliau tidak mau menerima pemberian dari orang lain kecuali dari hasil kerja kerasnya. Waktu senggang beliau sering digunakan untuk berkomunikasi dengan ulama-ulama dalam majelis pengajian pada saat itu. Beliau juga dikenal sebagai  seorang pemurah dan darmawan dalam memberikan sesuatu yang dia miliki kepada ulama yang didatanginya sebagai rasa simpati dan terima kasih. Di dalam kitab yang lain disebutkan pekerjaan ayah al-Ghazali adalah sebagai penenun benang wol dengan keadaan yang sangat memperihtinkan, tetapi  beliau juga termasuk orang yang sangat simpati kepada para ulama, sehingga beliau bercita-cita dan selalu berdoa kepada Allah agar anaknya bisa menjadi seorang ulama.

Imam Al-Ghazali, di masa hidupnya dikenal sebagai seorang Ahli Teologi atau Kalam dan seorang filosof besar. Selain itu juga beliau terkenal sebagai seorang ulama Fiqh dan Tasawuf pada zaman itu. Imam al-Ghazali mulai mengembara mencari ilmu pada usianya yang menginjak 15 tahun, di usia ini juga dia pergi ke Jurjan untuk berguru kepada Abu Nasr al-Ismaili. Menginjak umur 19 tahun beliau pergi lagi ke Kota Naisabur, di sana dia berguru kepada al-Juwaini dalam mempelajari Ilmu Teologi, Hukum dan Filsafat hingga dia berumur 28 tahun. Sepeninggal Imam al-Juwaini, dia pergi ke kota yang terkenal banyak menghasilkan sarjana-sarjana yaitu di kota yang bernama Mu’askar. Di kota inilah beliau bertemu dengan Nizam al-Mulk. Kedatangan Imam al-Ghazali disambut dengan sangat santun oleh Wazir ini, tidak lain tidak bukan karena ilmunya yang sangat dalam.

Semua orang di sana mengakui kelebihan dan keunggulan yang dimiliki oleh al-Ghazali. Dengan demikian, al-Ghazali pun diangkat menjadi “Imam” di Kota Khurasan saat itu sampai dia berumur 34 tahun. Dengan kemahirannya dalam menguasai Ilmu Fiqh, Teologi dan Filsafat, Wazir Nizam al-Mulk mengangkatnya menjadi “Guru Besar” atau Profesor Ilmu Kalam sekaligus menjadi Rektor di Madrasah yang bernama Nizamiyah yang terletak di kota Baghdad. Jadi, saat al-Ghazali diangkat menjadi Guru Besar beliau baru berumur 34 tahun.

Dengan keahliannya dalam menguasai beberapa ilmu, beberapa gelarpun berhasil dia dapatkan. Di antara gelar yang berhasil dia sandang antara lain; “Pembela Islam” (Hujjatul Islam), “Hiasan Agama”(Zainuddin),”Samudra yang menghanyutkan” (Bahrun Mugriq) dan lain sebagainya. Di samping itu juga Imam al-Ghazali banyak menghasilkan karya-karyanya yang diperkirakan mencapai 300 judul, di mana sebagian kecil karyanya antara lain:

  1. Mi’yar al-Ilm (Kriteria Ilmu-ilmu)
  2. Ihya’ Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)
  3. Al-Ma’arif al-Aqilah (Pengetahuan Yang Rasional)
  4. Ayyuha al-Walad
  5. Al-Mustahfa
  6. Mizan al-Amal

Al-Ghazali mulai mengarang buku sejak usianya menginjak 20 tahun, pada  saat itu beliau masih belajar kepada gurunya yang bernama  Imam al-Juwaini di Kota Naisabur. Al-Ghazali meninggal dalam usia 55 tahun menurut hitungan kalender Hijriyah. Beliau berhasil megarang buku dari yang terkecil sampai yang terbesar, seperti buku yang sangat terkenal dan mendunia dari dahulu hingga saat ini yaitu buku yang berjudul Ihya’ Ulumuddin.

Satu hal yang menarik dari pemikiran al-Ghazali ialah beliau termasuk ahli pikir yang teliti. Hal itu dapat dilihat pada keterangan mengenai dirinya dalam bagian pengantar dari kitabnya yakni Munqidz Min Adz-Dzalal, sebagai berikut:

“Sejak usiaku masih muda, belum menginjak 20 tahun hingga saat usiaku 50 tahun, senatiasa aku melewati gelombang lautan ma’rifat yang sangat dalam, aku melewatinya sedalam-dalamnya tanpa mengenal lelah dan letih. Semua kegelapan aku arungi, segala kesusahan aku hadapi dan aku senantiasa meneliti benar-benar setiap akidah dan setiap golongan, dan aku berusaha keras untuk mengungkap semua rahasia mazhab pada setiap golongan agar aku bisa membedakan mana yang bisa dijadikan pegangan dan mana yang tidak, mana yang mengikuti al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad saw, dan mana yang tidak mengikuti.”

Imam al-Ghazalipun mengatakan bahwa:
“Tidak seorang ahli filsafatpun, sebelum aku memahami dari filsafatnya”
“Tidak seorang ahli teologipun, kecuali aku berusaha untuk memahami ilmu Teologinya”
“Tidak seorang ahli ibadahpun, kecuali harus kucari hasil yang didapat dari ibadahnya”

Itulah Imam al-Ghazali, beliau tidak langsung menerima dari apa yang dismapaikan oleh para ulama kecuali pendapat itu di selidiki terlebih dahulu.

Baca Juga:

AVERROISME: KRITIK IBNU RUSYD TERHADAP AL-GHAZALI

KIAT MENGGAPAI KEBAHAGIAAN MENURUT ABU HAMID AL-GHAZALI

MENGKAJI ULANG PEMIKIRAN AL-GHAZALI

Mohammad Ridwan

Mahasiswa IAIN STS Jambi dan Penulis Aktif Bidang Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!