BIOGRAFI TOKOH

BIOGRAFI SINGKAT IMAM TIRMIZI

Nama lengkap beliau ialah Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin Dhahaak as-Sulami at-Tirmizi al-Bughi (orang Bugh). Nama panggilan beliau ialah Abu ‘Isa, sedangkan nama Sulami di kaitkan dengan keturunannya Bani Sulaim. Dikatakan al-Bughi pula karena beliua adalah penduduk sebuah kampung yang bernama “Bugh” kampung ini terletak kira-kira enam farsakh dari Termiz. Termiz adalah sebuah Bandar di Tenggara Uzbekistan.

Imam Tirmizi dilahirkan pada tahun 205H di Bugh, Termiz, sebuah Bandar yang masyhur berhampiran dengan Sungai Jahilun. Menurut salah satu ulama, Imam Tirmizi wafat di kota ini juga. Beliau wafat pada tahun 279H ketika itu beliau berumur 74 tahun. Sedangkan di dalam kitab yang lain Imam Tirmizi wafat dalam usia 70 tahun. Seorang ulama yang bernama Ibnu al-Atsir berpendapat di dalam Kitab Jaami’ al-Ushul bahwa Imam Tirmizi wafat pada malam Senin Bulan Rajab.

Kakek Imam Tirmizi bekebangsaan Mirwaz. Sejak kecil Imam Tirmizi sudah gemar belajar ilmu agama dan mencari hadis-hadis. Dengan ketekunannya dalam mempelajari ilmu beliau rela mengembara ke berbagai negeri seperti: Hijaz, Iraq, Khurasan dan lain sebagainya. Dalam perlawatannya itu dia banyak bertemu dengan para ulama-ulama besar dan belajar kepadanya. Di sinilah beliau banyak mendapatkan hadis-hadis dan mencatatnya.

Adapun ulama-ulama termasyhur yang pernah menjadi guru beliau antara lain:

1. Imam Bukhari
2. Imam muslim
3. Ali bin Hujr al-Marwazi
4. Hannad bin as-Saariy
5. Qutaibah bin Said
6. Muhammad bin Basysyaar
7. Ishaq bin Musa

Dari hasil kerja kerasnya dalam menimbah ilmu dan mencari hadis-hadis, beliaupun banyak mendapat murid yang ingin menimba ilmu kepadanya dan menghasilkan karya-karya. Karena selain ahli dalam bidang ilmu Hadis beliau juga mahir dan menguasai ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu Fiqh dan lain sebagainya. Beberapa orang yang pernah menimbah ilmu kepada beliau ialah;

1. Makhul ibnul Fadl
2. Muhammad bin Mahmud ‘Anbar
3. Hammad bin Syakir
4. Al-Haisam bin Kulaib asy- Syasyi
5. Ahmad bin Yusuf an-Nasafi
6. Abul-‘Abbas Muhammad bin Mahbud al-Mahbudi

Sedangkan karya-karya yang berhasil dihasilkan beliau antara lain ialah: Kitab al-Jami’, Kitab al-‘Ilal, Kitab at-Tarikh, Kitab az-Zuhd dan lain-lain. diantara karya-karya tersebut, ada satu karya yang dihasilkan beliu yang sangat terkenal dan tersebar luas ialah kitab yang berjudul Al-Jami’.

Imam Tirmizi juga terkenal dengan hafalannya yang sangat kuat dalam menghafalkan hadis-hadis dan ilmu lainnya. Hal ini dapat kita lihat dari sebuah kisah, pada suatu ketika beliau pernah menerima hadis seorang syeikh yang terdiri daripada dua juzuk (risalah) melalui seorang perawi. Imam Tirmizi pun mencatat hadis-hadis syeikh tersebut kedalam suatu buku atau risalah. tetapi entah mengapa hati beliau belum begitu puas menerima hadis dari seorang syeikh hanya lewat perantara, beliau hanya ingin menerima hadis secara langsung dari syeikh tersebut. Dalam waktu yang tidak lama, beliau berhasil bertemu dengan syeikh tersebut di kota Mekah. Imam Tirmizi pun menyampaikan hasratnya, bahwa dia ingin mendengarkan secara langsung hadis-hadis dari syeikh tersebut. Guru itu menyetujuhi dan mengikuti keinginannya, lalu menyuruh Imam Tirmizi mengambil risalah yang ditulisnya untuk diperiksa jika terdapat kesalahan di dalamnya.

Imam Tirmizi mengikuti perintahnya dan mengambil risalah yang ditulisnya, tetapi setelah beliau cari risalah tersebut tidak ditemuinya, untuk tidak mengecewakan hati gurunya beliaupun mengganti risalahnya dengan buku yang kosong. Kemudian sang guru mulai membacakan hadis tersebut dan menyuruh Imam Tirmizi mendengarkan secara teliti apa yang disampaikannya, Imam Tirmizi berpura-pura menulis apa yang disampaikan oleh gurunya. Tidak berapa lama kemudian sang guru mengetahui bahwa Imam Tirmizi tidak mencatat apa-apa yang disampaikannya tadi. Gurupun marah kepadanya dan menyangka bahwa Imam Tirmizi sebenarnya hanya untuk mempermainkannya saja. Imam Tirmizi langsung minta maaf kepada beliau dan menjelaskan hal yang sebenarnya kepadanya. Bahwa dia betul-betul ingin mendengarkan hadis dari beliau, tapi buku yang dia catat tidak dijumpainya karena tidak mau melihat gurunya marah Imam Tirmizi menjelaskan bahwa dia telah hafal hadis-hadis yang dibacakan gurunya tadi.

Kemudian sang guru menyuruh Imam Tirmizi membacakan hadis-hadis yang dia sampaikannya. Dengan hafalannya yang luar biasa Imam Tirmizi membacakan hadis-hadis yang disampaikan gurunya dari awal hingga akhir. Gurunya pun keheranan, dan tidak yakin bahwa Imam Tirmizi bisa menghafal hadis-hadis yang dibacakannya tadi. Dengan wajah keheranan guru itu bertanya kepadanya, “Apakah kamu sudah menghafal hadis-tersebut sebelum kita berjumpa disini?” Imam Tirmizi menjawab “Tidak wahai guru.” Untuk meyakinkan gurunya Imam Tirmizi meminta gurunya membacakan hadis yang hanya diketahui oleh gurunya saja. Sang guru membaca empat puluh hadis beserta sanadnya, sesudah gurunya membacakan hadis tersebut, Imam Tirmizi mengulangi hadis-hadis yang dibaca gurunya. Ahirnya guru tersebut mengakui kehebatan dan kekuatan hafalan yang dimiliki Imam Tirmizi.

Mohammad Ridwan

Mahasiswa IAIN STS Jambi dan Penulis Aktif Bidang Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!