BIOGRAFI TOKOH

BIOGRAFI SINGKAT SAYYID QUTB

sirajuddinBy: Sirajuddin
Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits pada Fakultas Ushuluddin
IAIN STS Jambi

[toc title=”Daftar Isi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Kelahiran dan Keluarga

Nama lengkapnya Sayyid Quthb Ibrahim Husain lahir (09/10/1906) di Musha, Asyut, Mesir. Ayahnya bernama Al-Haj Quthb bin Ibrahim, beliau termasuk anggota komisaris partai Nasionalis di desanya. Sayyid adalah anak kedua dari lima bersaudara. Saudara pertamanya Nafisah (kakak Sayyid), adik pertamanya Aminah, lalu Hamidah dan Muhammad. Ketiga adiknya berpropesi sama seperti Sayyid sebagai penulis kecuali Nafisah sebagai aktifis. Sayyid hafal Qur’an secara sempurna ketika umur sebelas tahun, Fi zilalil Qur’an adalah karya tafsirnya (1952).

Pendidikan

Sayyid bersekolah selama empat tahun di desanya. Pada tahun 1925 ia ke Kairo masuk sekolah lanjutan (Sekolah Guru). Tahun 1929-1933 ia belajar di Dar al-‘Ulum dan mendapatkan gelar sarjana disana dalam bidang sastra dan diploma dalam bidang pendidikan. Kemudian Sayyid melanjutkan pendidikannya S2 ke Amerika pada tahun 1948-1950 untuk mempelajari metode pendidikan Barat. Ia meraih gelar master di University of Northern Colorados Teachers College.

Kagum pada Dunia Barat

Menurut Nuim Hidayat dalam bukunya, semasa kuliah Sayyid Quthb banyak dipengaruhi oleh pemikiran Abbas Mahmud Al-Aqqad yang cenderung pada pendekatan pembaratan. Sayyid juga akrab dengan perpustakaan Barat sehingga ia tumbuh menjadi pengagum Barat.

Setelah menetap selama dua tahun di Amerika, akhirnya ia menemukan titik terang terhadap Amerika, banyak hal yang tak sesuai dengan pemikirannya seperti sekularisme, ditambah lagi kesenangan tokoh masyarakat yang ada disana ketika mendengar pendiri Ikhwanul Muslimin (1928) meninggal yakni Hasan Al-Banna (1949).

Kembali ke Mesir

Sayyid kembali ke Mesir dan bergabung dengan Ikhwanul Muslimin pada tahun 1953 dengan upaya membangun umat yang Islami. Beliau menjadi ketua seksi penyebaran dakwah dan pemimpin redaksi Koran Al-Ikhwan Al-Muslimin.

Juandi, dalam artikelnya (Pemikiran Politik Sayyid Quthb) mengatakan, menurut Sayyid harus ada tiga asas politik dalam pemerintahan Islam yaitu keadilan penguasa, ketaatan rakyat pada ulil ‘amri karena mampu melakukan syariat Islam, adanya permusyawaratan antara rakyat dan penguasa. Selagi kebijakan penguasa sesuai syariat Islam boleh ditaati, namun tidak sebaliknya.

Ujian Perjuangan

Tahun 1955 Sayyid dan anggota Ikhwan Muslim lainnya ditangkap oleh presiden Mesir saat itu Gamal Abdul Nasser, sebelumnya Sayyid pernah pro kepada pemerintahannya, namun memisahkan diri karena ketidaksesuaian pemikiran, penguasa menindas rakyat kecil. Nasser menuduh Sayyid dan anggota Ikhwan Muslim lainnya ingin menjatuhkan pemerintah, hal itu membuat mereka dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara dengan kerja keras. Sepuluh tahun berlalu, akhirnya mereka bebas karena campur tangan presiden Irak Abdul Salam Arif.

Sayyid kembali mengarang sebuah buku yang berjudul Ma’lim fit Thariq. M. Fajrul Munawir mengatakan, di dalam buku itu dikatakan bahwa jahiliyyah bukan masa tertentu saja, namun dapat dikatakan jahiliyah apabila setiap kali masyarakat menyeleweng dari jalan Islam. Krisis menimpa masyarakat Mesir terutama pemerintahannya disebabkan oleh adanya imperialisme Eropa dan pemimpin Muslim yang terbaratkan.

Karya itu membuat kuping pemerintahan Nasser menjadi panas, dan mereka tidak mampu menghentikan peredaran buku itu di Mesir dan negara muslim lainnya. Pada tahun 1965, Sayyid dan anggota Ikhwan Muslim kembali ditangkap oleh Nasser dengan tuduhan ingin membuat makar. Pada 29 Agustus 1996, Sayyid (Fundamentalisme Islam) bersama Abdul Fattah Ismail dan M. Yusuf Hawasy dihukum mati. Dan sekarang dua puluh lebih karya beliau masih dipakai dalam dunia akademisi, khususnya dunia kepemikiran.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!