GAGASAN PENULIS TEOLOGI

DEKONSTRUKSI PEMIKIRAN TEOLOGI

Agama dalam kungkungan teologi tidak jarang akan lahir sebagai agama dengan wajah subyektivisme, rasionalitas yang sering semu, sarat dengan klaim kebenaran parsial, ortodoksi dan bahkan apologi. Terdapat dua problem fundamental agama dalam kungkungan pemikiran teologi dapat diklasifikasi ke dalam dua hal, secara internal dan eksternal. Pertama, Secara internal dapat dinyatakan bahwa teologi terkadang memformulasi wacana atau kajian agama hanya pada wacana-wacana yang melangit atau metafisik yang tidak cukup aktual, kontekstual dan relevan dengan kebutuhan jaman. Kedua, Secara eksternal, agama dalam wajah-wajahnya yang subyektif, parsialis, apologis dan ortodoks, sering menciptakan ketersekatan ummat dengan wajah ekslusivisme-nya yang pada akhirnya tidak jarang menyebabkan konflik horisontal antar pemeluk agama atau perang urat saraf para teolog dari berbagai agama.

Pada hal yang pertama, yakni tinjauan internal, sebenarnya telah lama terjadi keluhan terhadap pemikiran dan wacana teologi — sering disebut juga sebagai Teologi Skolastik dan Ansich — dalam arti menampilkan wacana-wacana metafisik dan  terkesan melangit (misalnya tentang Tuhan, sifat-Nya, hubungan-Nya dengan alam semesta). Dalam banyak hal sebenarnya keluhan itu berisi tentang tidak kontekstualnya atau bahkan tidak relevannya lagi pembahasan atau wacana-wacana teologi yang demikian itu. Munculnya upaya-upaya pembumian Agama — yang kalau ditilik lebih jauh sebenarnya merupakan upaya pembumian teologi dari Teologi Langit ke Teologi Bumi, dan slogan yang sering dimunculkan misalnya, slogan-slogan Teologi Sosial, Teologi Transformasi, Teologi Keadilan dan sebagainya. Hal itu semua sebetulnya merupakan ekspresi dari geliat kemanusiaan dalam upayanya untuk mengkontekstualisasikan teologi, dalam arti bagaimana bahasan atau wacana teologi lebih memperhatikan kebutuhan yang sedang berkembang, atau dengan kata lain akomodatif terhadap tuntutan jaman. Teologi pada saat ini lebih ditekankan kepada bagaimana bahasan, wacana dan solusi teologi atas kemiskinan, ketidak adilan social, ketidak adilan gender dan sebagainya. Teologi tidak lagi terlalu terfokus terus menerus pada pembahasan apa, siapa, dimana dan bagaimana Tuhan (meski itu semua tidak sepenuhnya harus dinafikkan dari benak manusia).

Sekilas, upaya-upaya yang berkenaan dengan Pembumian Teologi di atas terkesan positif, utamanya untuk menancapkan lebih dalam spiritualitas agama dalam kehidupan   social,   di   dalam    setiap   dimensinya.   Di   dalam   islam,   barangkali upaya-upaya seperti itu lebih menunjukkan intensitasnya yang tinggi. Banyak kasus yang sebenarnya menarik untuk dikaji dalam fenomena Agama Islam kaitannya dengan pembumian teologi. Adanya Teori Politik Islam, Ekonomi Islam, Science Islam atau yang sering di klaim sebagai Islamisasi Ilmu dan sebagainya, merupakan upaya-upaya yang berkenaan dengan hal di atas. Dalam kaitan ini, slogan-slogan serta indikasi-indikasi menguatnya proses agamaisasi setiap dimensi kehidupan sosial sebenarnya bisa ditilik dari dua tujuan yakni, pertama sebagai upaya spiritualisasi agama bagi setiap dimensi kehidupan social dan kedua, selanjutnya hal itu merupakan upaya untuk membendung sekulerisme dimana agama-agama akan termarjinalkan dan ditinggalkan oleh penganutnya karena dimensi-dimensi social manusia yang lain selain agama lebih memberikan daya tarik bagi manusia ditimbang agama.

Thus, dari tilikan atas dua tujuan tersebut, kiranya dapat disaksikan bahwa  Teologi dan teolog kontemporer sering meng-Kamuflase atau merubah bentuknya dalam wajah Fundamentalisme Agama. Tentu istilah Fundamentalisme Agama di sini bukanlah dimaksudkan sebagai sebuah Gerakan dalam Dunia Kristen Protestan di Amerika Serikat yang muncul pada Pasca Perang Dunia satu, yang sarat dengan Militansi Tinggi, Fanatisme, Ekstrimisme dan Radikalisme, akan tetapi istilah Fundamentalisme Agama disini lebih mengacu kepada semangat dan Prototipe Keagamaan fundamentalisme tersebut, yang cenderung untuk merealisasikan ajaran Kitab Suci ke dalam setiap dimensi kehidupan sosial. Upaya spiritualisasi agama ke dalam setiap dimensi kehidupan social manusia bisa kita lihat dari adanya upaya-upaya agamaisasi semua dimensi-dimensi kehidupan social tersebut. Para Teolog modern merasa Anxious atau kawatir kalau-kalau setiap dimensi kehidupan social manusia dijalankan terlepas dari nilai-nilai agama sebagaimana yang terdapat di dalam Kitab Sucinya. Indikasi yang paling sederhana dapat dilihat pada kasus upaya islamisasi ideology negara oleh sebagian pemikir muslim Indonesia. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menimbang apakah hal itu benar atau salah, perlu atau tidak, akan tetapi dalam kerangka kajian ini, hal itu dipandang sebagai bagian kecil dari indikasi adanya islamisasi atau pembumian teologi islam modern ke dalam dimensi kehidupan politik masyarakat. Kaitannya dengan upaya-upaya membendung sekulerisme, adalah Dr. Kuntowijoyo yang sering menggaung-gaungkan akan perlunya islamisasi ilmu, sebagai upaya membendung sekulerisasi dan sekulerisme, karena selama ini menurutnya dunia ilmu lebih dikuasasi oleh ilmu-ilmu social barat atau ada semacam proses pembaratan ilmu pengetahuan. Kuntowijoyo — sebagai seorang Teolog Islam masa modern atau Fundamentalis — menginginkan adanya realisasi konsep-konsep Qur’an dalam bingkai ilmu pengetahuan atau science. Gerakan Pembumian Teologi kontemporer telah mengambil bentuknya sebagai Fundamentalisme Agama.

Itulah beberapa kesan positif di dalam upaya-upaya agamaisasi semua dimensi kehidupan social manusia. Akan tetapi terdapat sisi lain yang ingin dipaparkan, di samping kesan-kesan positif di atas. Agamaisasi setiap dimensi kehidupan social — baik ekonomi, politik, budaya dan bahkan ilmu — sebagai bentuk artikulasi dari visi modern dan kontekstual teologi bukanlah tanpa membawa problem di dalam kehidupan social itu sendiri. Lahirnya teori politik islam, ekonomi islam, budaya islam dan bahkan science islam, dalam pandangan pengamat keagamaan semua itu dinilai sebagai upaya islamisasi belaka, dengan mengambil wajahnya yang baru. Tentu hal ini bisa jadi akan menjadi ancaman tertentu bagi eksistensi system teologi yang lain. Akan lahir rival-rival teologi yang lain dan akan lahir pula visi dan misi agamaisasi yang lain selain islamisasi tersebut, sekiranya terdapat ruang, waktu dan kesempatan yang memungkinkan. Islamisasi ideology negara untuk konteks keindonesiaan pernah menimbulkan keberatan dan ketegangan antara kelompok islam dengan kelompok nasionalis atau dengan kelompok keagamaan yang lain. Meski keberatan dan ketegangan tersebut dalam banyak pandangan pengamat sering dan terlalu diada-adakan.

Pada hal yang kedua, yakni pada Faktor  Eksternal. Masih terdapat satu hal lagi yang menyangkut problem agama dalam kungkungan teologi sehingga menyebabkan perlunya dekonstruksi teologi yakni, Bahwa agama dalam wajahnya yang subyektif, parsialis, apologis dan ortodoks sebagai akibat dari ulah teologi, seringkali menyebabkan ketersekatan ummat. Dr. Amin Abdullah misalnya, dalam kaitannya dengan hal ini pernah menyampaikan:

“Bahwa hampir semua pengamatan sosial keagamaan sepakat bahwa pemikiran teologi seringkali membawa ke arah ketersekatan ummat. Ketersekatan dan keterkotak-kotakan yang tidak dapat terhindarkan barangkali. Ibarat konsep “Manusia” yang bersifat universal, kemudian tersekat oleh berbagai “Bahasa” dan “Warna Kulit”. Suatu ketersekatan yang tidak dapat terhindarkan secara histories….Teologi sebagaimana kita ketahui, tidak bisa tidak pasti mengacu kepada agama tertentu. Loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang bersifat subyektif, yakni bahasa sebagai pelaku — bukan sebagai pengamat — adalah merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis”.

Apa yang disampaikan oleh Amin Abdullah di atas barangkali sangat relevan dengan banyak fakta yang terjadi pada saat-saat ini. Dari fakta-fakta di atas — sebagaimana yang penulis gambarkan, kecenderungan berpikir teologis terkadang banyak mengundang permasalahan. Kajian teologi Ansich — karena ia merupakan refleksi atas Tuhan dan Kitab Suci, yang jelas hal ini akan memberi peluang yang besar bagi terjadinya perbedaan-perbedaan fundamental agama — dapat menjadi pemicu perbedaan teologi antar agama bahkan di dalam internal agama itu sendiri yang pada gilirannya menyebabkan perpecahan di antara komponen-komponen tersebut. Sementara Pembumian Teologi sebagai upaya aktualisasi dan kontekstualisasi teologi dalam era modern agar dapat memberikan sumbangan pada masyarakat modern, sering menyebabkan semangat baru mirip seperti fundamentalisme yang hal ini juga dapat memicu ketegangan hubungan antar agama.

Sebelum mencarikan solusi atas permasalahan di atas, kaitannya dengan upaya dekonstruksi pemikiran teologi di atas, maka di sini akan dipaparkan terlebih dahulu corak pemikiran teologis yang — bisa jadi — hal itu yang menyebabkan teologi dewasa ini sering mengundang permasalahan. Dr. Amin Abdullah dalam tulisannya yang lain pernah menyampaikan corak pemikiran teologis secara umum, sebagaimana yang dikatakannya:

“Setidaknya ada dua ciri yang menonjol dari corak pemikiran teologis. Pertama, Pemikiran teologis diwarai oleh tingkat “Personal Commitment” (Kesetiaan Pribadi) yang sangat peka terhadap ajaran agama yang dipeluk seorang. Agama adalah persoalan hidup dan mati (Ultimate Concern) yang tidak dapat dengan mudah diganti, diubah seperti layaknya orang memakai dan mengganti baju. Pemeluk agama tertentu akan mempertahankan ajaran-ajaran agama yang dipeluknya dengan gigih, sehingga bersedia untuk berkorban habis-habisan jika diperlukan. Agama menuntut keikutsertaan dan kesetiaan menyeluruh (totalistis) dari segenap pengikutnya … bahasa yang dipergunakan oleh pemeluk agama adalah bahasa seorang “pelaku” atau “pemain” (aktor) dan bukannya bahasa seorang pengamat atau lebih-lebih bukan bahasa seorang peneliti yang datang dari luar (spectator) dengan begitu, seorang agamawan selalu involved (terlibat penuh) secara utuh dan total”. 

Amin Abdullah di dalam memandang teologi — kaitannya dengan upaya-upaya dekonstruksi pemikiran teologi — lebih menitik beratkan kepada prototipe pemikiran ala teologi terhadap agama. Kecenderungan Involve atau terlibat dari pemikiran dan sikap teologi — lebih husus adalah teolognya, mengakibatkan seorang teolog kurang memperhatikan kondisi luar dalam arti pemikiran lain di luar bingkai agama dan teologinya. Rasa kesetiaan pribadi yang parsial, menerima kebenaran parsial dan afiliasi pemikiran dan sikap keberagamaan yang parsial juga. Semua ini menyebabkan seorang teolog menjatuhkan pemihakannya kepada agamanya secara parsial dan bukannya kepada kebenaran yang universal.

Kesetiaan pribadi yang parsial mengakibatkan seorang teolog hanya setia kepada agamanya sendiri, tidak menjatuhkan kesetiaannya hanya kepada kebenaran, apapun wujud dan darimana datangnya kebenaran tersebut. Kebenaran yang ia tanamkan di dalam benaknya kiranya hanya merupakan kebenaran parsial di dalam bingkai agama atau teologinya sendiri dan tidak memandang kebenaran universal, sehingga terkadang kurang mengakui kebenaran agama lain meskipun dalam pandangan  rasionya di dalam agama atau teologi lain tersebut terdapat kebenaran. Dan yang pasti afiliasi  pemikiran  dan   sikap  keagamaannya  adalah   pada   agama  dan  teologinya sendiri. Maka sebagai akibat dari hal ini semua adalah kecenderungan Ekslusivisme Kebenaran Agama. Dan dalam sejarah keagamaan manusia, Ekslusivisme Kebenaran Agama dalam banyak hal sering melahirkan ekspresi pemikiran dalam bentuk aksi-aksi maupun gerakan-gerakan yang mengancam masa depan agama-agama manusia itu sendiri, baik dalam wujud ekstrimisme maupun radikalisme.

Dari mempelajari corak pemikiran teologi beserta efek-efek yang sering ditimbulkannya tersebut, maka dalam ikhtiar yang sederhana kiranya dapatlah dijadikan pembuka wacana bagi upaya dekonstruksi teologi (yakni) bahwa pemikiran dan sikap teologi yang tercermin di dalam performance teolognya (yakni dengan kecenderungan kepada fanatisme, menjatuhkan kesetiaannya kepada kesetiaan parsial agama dan teologinya dan bukan kesetiaan universal, Menerima kebenaran parsial agama dan teologinya dan bukan kebenaran universal serta memberikan afiliasinya hanya kepada agama serta system teologinya sendiri tanpa melihat pada kebenaran lain di luar agama dan teologinya sendiri), kesemuanya itu telah melahirkan Ekslusivisme Kebenaran Agama, kesemuanya merupakan pemikiran teologi yang perlu untuk didekonstruksi.

Thus, sebagai klarifikasi, terhadap apa yang dimaksud Dekonstruksi Teologi adalah lebih mengacu kepada pergumulan teologi dengan kondisi-kondisi eksternal, dan bukan pada tataran internal. Pada pergumulan dengan kondisi eksternal dimana di dalamnya tercakup bagaimana hubungan antar agama satu dengan lainnya demikian pula bagaimana hubungan antara satu teologi dengan teologi lainnya. Dalam pergumulannya dengan kondisi eksternal semacam ini, pola pemikiran serta sikap teologis para teolog wajib untuk ditanggalkan. Hal itu karena merupakan wilayah yang rawan konflik yang dapat mengancam eksistensi sebuah agama dan teologi secara keseluruhan.  Dalam kondisi eksternal semacam ini, seorang teolog kiranya harus mampu berpikir dan bersikap Inklusif dan Pluralis.

Sedangkan pada tataran internal, Performance yang tergambar di dalam pemikiran serta sikap teolog di atas, kiranya masih perlu untuk dilestarikan. Hal ini karena pemikiran serta sikap-sikap teologi yang demikian itu dapat dikatakan sebagai jantung daripada agama, dalam arti bahwa tanpa pola pikir serta sikap-sikap keagamaan seperti itu, mustahil eksistensi sebuah agama akan dapat dipertahankan, utamanya dalam menghadapi goncangan-goncangan dari luar atau tantangan-tantangan jaman.

Dekonstruksi internal sebuah teologi hendaknya diarahkan kepada bagaimana sebuah system teologi lebih memfokuskan diri terhadap solusi-solusi konkrit atas permasalahan-permasalahan kontemporer jaman. Misalnya seperti slogan Pembumian agama atau Pembumian Teologi dengan memperhatikan pertimbangan proporsionalisme yakni memahami ruang dan tempat gerak. Sehingga dengan pertimbangan ini prebumisasi agama atau prebumisasi teologi tidak menimbulkan permasalahan baru seperti penindasan agama atau penindasan oleh teologi dalam wujudnya yang baru.

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!