SAINS

ETIKA EKOLOGI DALAM ISLAM

[toc title=”Daftar Isi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Lingkungan dalam Normativitas Islam

Ajaran Islam, terutama al-Qur’an banyak memberikan penjelasan tentang lingkungan, baik berupa gambaran, tujuan penciptaan, ataupun keutamaan-keutamaan alam, seperti tergambar dalam QS. al-Baqarah/2, ayat 22; QS. al-Nazi’at/79, ayat  27-33; QS. al-Anbiya>’/21, ayat 16-18, serta ayat-ayat lainnya yang tersebar dalam al-Qur’an. Selain itu, banyak pula ayat al-Qur’an yang  menejelaskan tentang berbagai unsur alam, seperti terlihat dalam QS. al-Baqarah/2, ayat 60, 164; QS. al-Nahl/16, ayat 79; QS. al-Anbiya’/21, ayat 30; QS.  al-Nu>r/24, ayat 40, 43, ataupun 45; dan lain sebagainya.

Sehubungan dengan krisis lingkungan, banyak pula ayat-ayat al-Qur’an yang memberikan gambaran dan peringatan kepada manusia tentang kerusakan lingkungan dan juga bahayanya bagi eksistensi manusia. Di antaranya QS. al-Baqarah/2, ayat 22, sebagai berikut: “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui”(QS. al-Baqarah/ 2: 22). (Tim YPPA, 1971: 11-12). Atau  QS. Luqman/31 ayat 20: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah). Oleh Karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah” (QS. al-Rum/ 30 ayat 41-43) (Tim YPPA, 1971: 647).

Universalitas sebagai Landasan Ideal Etika Ekologi Islam

Secara bahasa kata universal berasal dari bahasa Latin, universum,  berarti “alam se­mesta/ dunia”. Dari kata itu dibentuk kata sifat, yaitu  universalis yang berarti “umum, mencakup semua, dan menyeluruh”. Dalam bahasa Inggris, kata Latin universalis digubah menjadi universal. Kata ini dapat berarti konsep umum yang dapat diterapkan pada kenyataan, misalnya konsep kemanusiaan yang dapat diterapkan pada setiap orang apapun status sosial, warna kulit, ras, dan agamanya. Dari kata universalis atau universal inilah istilah universalisme berasal. Menurut paham universal, kemanusiaan itu umum, sama di seluruh dunia. Sejauh sebagai manusia, semua orang mempunyai tugas dan kewajiban sama di mana-mana. Karena itu, sebagai manusia, orang di mana pun dituntut hidup berperilaku dan bertindak sebagai manusia. Misalnya, memanfaatkan akal budinya dan hidup menurut akal sehat; mendengarkan suara hati; melibatkan kehendak dalam mengambil keputusan; mengikutkan hati dan perasaan dalam menikamti karya seni, dan sebagainya. Sebagai manusia, orang mungkin tidak dapat, bahkan menolak, memenuhi tugas, tanggung jawabnya sebagai warga negara. Misalnya seseorang dapat saja meninggalkan hak pilihnya, akan tetapi ia hakikatnya tidak bisa benar-benar bebas untuk meninggalkan tugas dan tanggung jawabnya sebagai manu­sia, misalnya hidup secara moral baik selayaknya sebagai manusia. (Mangunhardjana, 1997: 224). Melihat arti dasar dari dari universal, universalitas harusnya dapat mengantarkan manusia pada kedekatan terhadap alam.

Sifat universal inilah yang terkandung dalam ajaran Islam sebagai aturan, dan sistem hidup yang universal. Sejak kelahirannya yang resmi Juni 610 M hingga sekarang ini, semua konsep Islam yang dibangun sepanjang kurang lebih 23 tahun, dengan percaya diri telah menjelma sebagai salah satu alternatif yang dipakai manusia untuk mengatur kehidupannya. Sistem nilai etisnya yang berprinsip pada universalitas itu tidak saja dapat mengantarkan manusia pada kedamaian, kesejahteraan dan keadilan, namun juga membawa kebaikan bagi alam sekitar.

Konsep teologis ajaran universalitas Islam, menurut Kuntowijoyo dapat dilacak dari perkataan al-Isla>m itu sendiri, yang berarti “sikap pasrah kepada Tuhan” atau “perdamaian”. Melalui pengertian ini, semua agama yang benar pasti bersifat al-Isla>m karena mengajarkan kepasrahan kepada Tuhan dan perdamaian. Tafsir Islam seperti ini, akan bermuara pada konsep kesatuan kenabian (the unity of prophecy) dan kesatuan kemanusiaan (the unity of humanity). Kedua konsep ini merupakan implikasi dari konsep ke-Maha Esa-an Tuhan (the unity of God atau tawhid). Semua konsepsi kestauan ini  menjadikan Islam bersifat kosmopolit dan mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan li al-‘a>lami>n). (Kuntowijoyo, 2008). M. Quraish Shihab menyatakan bahwa al-Qur’an banyak menyuarakan persatuan seperti dijelaskan dalam QS. al-Anbiya’/ 21 ayat 92 dan juga QS. al-Mu’minun/ 23 ayat 52: “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama  yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”. (QS. al-Anbiya’/21: 92). (Tim YPPA, 1971: 507).

Pertanyaannya kini, apakah ayat di atas menyatakan persatuan dalam konteks umat Islam semata? Menjawab persoalan tersebut Shihab menjelaskan bahwa kata ummat yang terulang sebanyak 51 kali dalam al-Qur’an memiliki banyak makna. Mengutif Raghib al-Isfahani, pakar bahasa yang menyusun kamus al-Qur’an al-Mufrada>t fi Gha>rib al-Qur’a>n dapat diketahui bahwa kata ummat adalah “kelompok yang dihimpun oleh sesuatu, baik persamaan agama, waktu, atau tempat, baik pengelompokan itu secara terpaksa maupun atas kehendak sendiri”. Menurut Shihab makna ummat dalam al-Qur’an sangat lentur dan mudah menyesuaikan diri, tidak ada batas minimal atau maksimal untuk satu persatuan umat.

Hal yang mencengangkan –menurut Shihab– tercatat sebanyak sembilan kali kata ummat digandengkan dengan kata wa>h}idah, sebagai sifat ummat. Tidak sekalipun al-Qur’an menggunakan istilah wah}dat al-ummah atau tauhid al-ummah (kesatuan/ penyatuan umat). Karena itu sungguh tepat analisis Mahmud Hamdi Zaqzuq, Mantan Dekan Fak Ushuluddin al-Azhar, bahwa al-Qur’an menekankan sifat umat yang satu dan bukan penyatuan umat. Artinya al-Qur’an mengakui kebhinekaan dan keragamaan dalam ketunggalan. (Shihab, 1996: 334-336). Sebagaimana firman Allah dalam QS, al-Maidah/ 5 ayat 48: “…Sekiranya Allah menghendaki niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…” (QS. al-Ma’idah/ 5: 48). (Tim YPPA, 1971: 168).

Prinsip Universalitas Islam

Selanjutnya ajaran prinsip universalitas Islam secara umum dapat dilihat dalam ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara kepada umat manusia dengan ungkapan ya> ayyuha> al-na>s (wahai sekalian manusia), atau ya> bani> A (wahai anak-anak Adam), sebagaimana terlihat dalam karakter ayat-ayat Makkiyah, yang berbicara secara umum kepada manusia. Menurut Yusuf al-Qardhawi, universalisme (al-‘alamiyah) Islam adalah salah satu karakteristik Islam yang agung yang dilandasi oleh prinsip Rabbaniyyah; insaniyyah (humanistik); syumul (totalitas) yang mencakup unsur keabadian, universalisme yang  menyentuh semua aspek manusia (ruh, akal, hati dan badan); wasathiyah (moderat dan seimbang), waqi’iyah (realistis), jelas dan gamblang, dan mengintegrasikan antara yang permanen dan yang elastis. (Qardhawi, 1993: 3).

Pengertian Universalitas Islam

Pengertian prinsip universalitas Islam adalah bahwa risalah Islam ditujukan untuk semua umat, segenap ras dan bangsa serta untuk semua lapisan masyarakat. Ia bukan risalah untuk bangsa tertentu yang beranggapan bahwa dialah bangsa yang terpilih, dan karenanya semua manusia harus tunduk kepadanya. Risalah Islam adalah hidayah Allah untuk segenap manusia dan rahmat-Nya untuk semua hamba-Nya, termasuk alam atau lingkungan hidup. Manifesto ini termaktub abadi dalam firman-Nya QS. al-Anbiya’/21 ayat 107: “Dan tidak Kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmah bagi seluruh alam“. (QS. al-Anbiya’/21: 107). (Tim YPPA, 1971: 508). Dan juga dan QS. al-A’ra>f/ 7 ayat 158: “Katakanlah ‘hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS. al-A’ra>f/ 7: 158). (Tim YPPA, 1971: 247).

Ayat-ayat Makkiyah tersebut dapat dijadikan dasar dalam membantah tuduhan sebagian orientalis yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad tidak memproklamirkan pengutusan dirinya untuk seluruh umat manusia pada awal kerisalahannya, akan tetapi baru diproklamirkan setelah mendapat kemenangan atas bangsa Arab. (Qardhawi, 1993a: 107-108). Ayat-ayat di atas pada dasarnya memperlihatkan sifat universalitas Islam, ketika ia ditujukan bagi manusia secara keseluruhan, tanpa melihat ras, agama, ataupun kebangsaan dan juga kepada alam secara keseluruhan. Universalitas ini terlihat ketika al-Qur’an memahami manusia sebagai anak-cucu Adam, bahwa manusia pada dasarnya berasal dari satu sumber keturunan, yaitu Alam dan Hawa, sebagai mana terlihat dalam QS. al-A’ra>f/7 ayat 172: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘betul, kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esaan Tuhan)” (QS. al-A’ra>f/ 7: 172). (Tim YPPA, 1971: 250).

Dengan demikian universalitas Islam menampakkan diri dalam berbagai manifestasi penting, dan yang terbaik adalah dalam ajaran yang mencakup aspek akidah, syari’ah dan akhlak yang menampakkan perhatiannya yang sangat besar terhadap persoalan kemanusiaan. Hal ini dapat dilihat dari tujuan umum syari’ah yaitu: menjamin keselamatan agama, badan, akal, keturunan, harta dan kehormatan. Selain itu risalah Islam juga menampilkan nilai-nilai kemasyarakatan (social values) yang luhur, yang bisa di katakan sebagai tujuan dasar syari’ah yaitu; keadilan, ukhuwwah, kebebasan dan kehormatan. (Qardhawi, 1993: 61). Walaupun demikian cakupan universalitas Islam sebenarnya tidak hanya antar manusia, namun juga meluas hingga ke alam raya, hal ini dapat dilihat dalam perikehidupan Nabi yang menaruh kehormatan terhadap seluruh isi alam, baik manusia, binatang, dan juga tumbuh-tumbuhan yang ada di alam raya. Karena itulah penulis menilai bahwa universalitas merupakan satu prinsip etika Islam yang mencakup penghormatan terhadap alam secara keseluruhan. Dalam konteks inilah Islam dinamakan sebagai Rahmat al-‘An.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!