FILSAFAT

FILSAFAT SEJARAH IBNU KHALDUN

[toc title=”Daftar Isi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Kegelisahan Intelektual

Ibnu Khaldun memiliki kegelisahan intelektual terkait tradisi penulisan sejarah dalam Dunia Islam yang kacau balau. Orang-orang yang tidak layak, bukan sejarahwan, memasukkan unsur-unsur sejarah pada buku sejarah. Di samping itu tidak ada usaha kritik terhadap sejarah, mengakibatkan banyak terjadi kesalahan yang turun menurun.

Ibn Khaldun menyebutkan beberapa kesalahan penulisan sejarah antara lain; pertama, kecenderungan orang menerima begitu saja informasi yang sesuai dengan penadapat dan kepercayaannya, tanpa penyelidikan lebih dahulu; kedua, kepercayaan yang berlebihan kepada penutur sejarah, padahal belum melalui proses ta’dil dan tajrih; ketiga, ketidak mampuan memahami apa yang sebenarnya yang dimaksud dari data sejarah; keempat, kepercayaan yang salah pada yang dianggap kebenaran; kelima, ketidak mampuan menempatkan dengan tepat suatu kejadian dalam hubungan peristiwa-peristiwa yang sebenarnya; keenam, keinginan pengungkap sejarah untuk mengambil hati pejabat; ketujuh, tidak diketahuinya hukum-hukum watak dan perubahan masyarakat.

Untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi pada penulisan seharah tersebut, menurut analisa al-Khudhari, dari pemikiran Ibn Khaldun dapat di tarik dua kesimpulan permasalahan dan jawabannya. Pertama, perlunya pemahaman yang mendalam yang mendalam terhadap periatiwa-peristiwa sejarah; dan kedua, pelunya pengkajian terhadap peringkat kebenaran dan kejujuran pada penuturan berita. Jawaban terhadap permasalahan kedua adalah perluanya ada realisasi ta’dil dan tajrih terhadap para penutur sejarah.

Filsafat Sejarah

Dimulai dari definisi filsafat sejarah, Zainab al-Khudhari secara sederhana menyebutkan, adalah ilmu yang meninjau peristiwa-peristiwa historis secara filosofis untuk mengetahui faktor0faktor esensial yang mengendalikan perjalanan peristiwa-peristiwa historis itu, untuk kemudian mengikhtisarkan hukum-hukum umum yang tetap, yang mengarahkan perkembangan berbagai bangsa dan negara dalam berbagai masa dan generasi.
Ibn Khaldun diakui sebagai pengasas awal filsafat sejarah. Hal ini diakui oelh tokoh-tokoh pemikir dunia barta seperti Arnold Toynbee, robert Flint, Gaston Bouthoul, Carra de Vaux. Demikian juga pengakuan yang sama datang dari kalangan muslim seperti Sathi’ al-Hushri, M. abdullah Enan, ‘Abad al-Raziq al-Makki. Namun juga di kalangan muslim ada yang menolak pendapat ini, seperti yang dilakukan oleh Thaha Husein.

Grand theory Ibn Khaldun dapat dikemukakan didasarkan pada dua aspek yakni; pertama, masyarakat adalah mahluk historis yang hidup dan berkembang sesuai dengan hukum-hukum yang khusus berkenaan dengannya. Hukum-hukum itu dapat di amati dan dibatasi lewat pengkajian terhadap sejumlah fenomena; kedua, solidaritas satau ‘ashabiah merupakan asas jatuh berdirinya suatu komunitas, bangsa atau negara dan faktor ekonomilah adalah faktor terpenting yang menyebabkan terjadinya perkembangan negara.

Menindak lanjuti teori di atas, Ibn Khaldun kemudian berusaha menulis Kitab al-‘Ibar. Dia menulis berangkat dari asumsi bahwa sejarah merupakan disiplin ilmu yang memiliki metode yang mantap, aspek penggunaan yang sangat banyak, dan memiliki sasaran yang mulia. Adapun metedologi yang disunakan dalam penulisan sejarahnya, menurut pengamatan Charles Issawi yang mengutip pendapat Rosenthal, Ibn Khaldun adalah orang yang menggunakan metodologi baru yakni, berbeda dengan dua generasi penulis sejarah sebelumnya, ia mengamati masyarakat manusia secara induktif dimana sejarah manusia dibiarkan bicara apa adanya tentang dirinya.

Berkaitan dengan teori yang pertama, menurut Ibn Khaldun, watak masyarakat, dapat dijelaskan, memiliki prinsip-prinsip pokok yang menjadi dasar sosiologi sebagai berikut:

1. Gejala sosial rupanya tunduk pada hukum-hukum tertentu, namum hukum itu tidak berlaku universal, adalah cukup untuk terus menerus menyebabkan kejadian sosial itu mengikuti contoh-contoh dan akibat-akibat yang pasti dan tertentu;
2. Hukum-hukum itu adalah mengenai orang banyak dan tidak begitu dipngaruhi oleh individu;
3. Hukum-hukum itu diketahihanya dengan mengumpulkan fakta-fakta yang banyak dan memperhatikan kejadian-kejadian yang seiring. Fakta itu dapat dihimpun dari dua sumber, yaitu catatan tentang kejadian yang susah lewatdan pengamatan terhadap kejadian-kejadian yang sedang terjadi;
4. Sebagian hukum-hukum sosial yang sama berlaku pula pada masyarakat yang memiliki struktur yang sama;
5. Masyarakat tidaklah statis, yang berarti bentuk-bentuk soaial adalah berubah dan berkembang.

Hukum-hukum itulah yang dimaksud hukum-hukumm yang emngendalikan sejarah atau hukum determinasi sejarah. Ibn Khaldun, dianalisis oleh al-Khudhari, menyebutkan ada tiga hukum determinasi sejarah; pertama, hukum kuasilitas, dimana sejarah dipengaruhi oleh hukum sebab akibat; kedua, hukum peniruan, dimana suatu masyarakat melakukan peniruan-peniruan terhadap fenomena kebudayaan yang dianggap lebih baik/maju; dan ketiga, hukum perbedaan, dimana faktor-faktor seperti geografis, fisik, ekonomis, politik, adat istiadat, tradisi dan agama akan membedakan sejarah suatu kebudayaan terhadap kebudayaan lainnya.

Sedangkan berkaitan teori kedua, Ibn Khaldun berangkat dari permasalahan yang menjadi fokus perhatiannya adalah menjawab pertanyaan mengapa dan bagaiaman sebuah negara dan perbedaan tumbuh dan jatuh? Jawaban dari permasalahan inilah yang nantinya melahirkan pemikiran sosial Ibn Khaldun.

Menurut Ibn Klahdun, jatuh bangunnya suatu komunitas manusia baik itu bangsa atau negara manapun juga kebuadayaan adalah tergantung apa yang disebutnya dengan asas ‘ashabiah atau solidaritas sosial. Teori sosial ini mendasarkan pada dua hal; Pertama, manusia pada dasarnya suka berkelompok (bermasyarakat); Kedua, manusia membentuk kelompok adalah untuk mempertahankan diri dari setiap bahaya.

Pemikiran Ibn Khaldun tentang watak masyarakat ini, selanjutnya, dijadikan sebagai landasan konsepsinya bahwa kebudayaan dalam berbagai bangsa mengalami siklus dan berkembang melalui empat fase, yaitu fase primitif atau nomaden, fase urbanisasi, fase kemewahan dan terakhir kehancuran.

Abdul Halim

Dosen Ilmu Hadis pada IAIN STS Jambi dan Mahasiswa Program Doktor pada UIN Raden Fatah Palembang

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!