GAGASAN PENULIS RENUNGAN

FORMALISME AGAMA DAN HILANGNYA VISI KEHARMONISAN SEMESTA DALAM AGAMA

[toc title=”Daftar Isi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Jebakan Rutinitas Ritual

Banyak di antara kita yang menilai bahwa pelaksanaan agama cukuplah termanifestasi dalam pelaksanaan ritual ibadah – baik itu Islam, Kristen, Hindu, Budha, Yahudi – yang dilaksanakan secara rutin. Dalam konteks ini, agama dapat dilihat sebagai hubungan manusia dengan Tuhan saja (ansich). Mereka hanya menekankan pelaksanaan ibadah, seperti yang dituntunkan oleh ajaran agama mereka.

Hal yang mereka pandang salah atau ‘berdosa’ adalah manakala mereka meninggalkan pelaksanaan ritualitas-ritualitas rutin mereka. Bagi mereka, yang disebut sebagai salah dan berdosa adalah manakala mereka melanggar ajaran agama keseharian yang – sebatas pemahaman keagamaan formalitas mereka. Mereka yang memiliki pemahaman seperti ini lupa bahwa agama memiliki pesan sosial-horisontal yang bertujuan membangun kebaikan dan kearifan sosial manusia yang memeluknya. Agama memerintahkan manusia untuk berbuat baik pada dirinya, pada orang lain, masyarakat sekitar, dan juga – hal ini yang sering dilupakan – agama memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada lingkungannya.

‘Kabut Asap’ Jambi yang berasal dari pembakaran lahan dalam jumlah besar dengan cara-cara yang salah telah mengakibatkan timbulnya suasana tidak nyaman pada masyarakat Jambi pada khususnya, dan negara tetangga pada umumnya. Sebagai respon spontanitas, kita dapat berkata bahwa kabut asap yang disebabkan oleh pembakaran lahan merupakan tindakan tidak bertanggung jawab, tanpa kesadaran penuh, cenderung mencari untung, tidak memikirkan dampak negatif bagi orang lain, merusak lingkungan, dan hanya manusia kurang waras yang dapat melakukan tindakan itu. Ini semua merupakan respon spontanitas banyak orang yang merasa menderita akibat kabut asap berkepanjangan. Ribuan orang terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), jadwal penerbangan terganggu hingga banyak orang mengalami kerugian karena gagal dan batal dalam menjalankan kegiatan pentingnya, dan para peserta didik yang diliburkan secara mendadak dengan alasan kesehatan. Semua merupakan petaka yang tidak terpikirkan oleh ‘sang pembakar lahan’.

Pertanyaannya kemudian adalah, adakah korelasi antara pembakaran lahan yang mengakibatkan petaka asap di satu sisi, dengan sikap beragama yang tidak benar pada sisi lain? artikel ini akan memberikan penilaian bahwa petaka asap disebabkan oleh mereka yang tidak memiliki pemahaman agama yang benar. Secara formal mereka memang manusia-manusia pelaksana ibadah secara rutin, akan tetapi hal itu tidak membawa makna positif bagi kebaikan lingkungannya.

Misi Kelestarian Lingkungan dalam Agama yang Terabaikan

Hampir seluruh agama memiliki pesan-pesan penting kaitannya dengan kelestarian lingkungan. Semua agama memerintahkan agar manusia menciptakan keharmonisan dengan alam atau lingkungan sekitarnya.  Pesan agama ini bukan hanya anjuran semata, melainkan merupakan perintah Tuhan yang tidak kalah wajibnya dengan perintah peribadatan dalam ritus formal. Di dalam al-Qur’an, Allah melarang keras orang-orang beriman berbuat yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan (QS. 2: 11, 60, 205), pun juga dalam Yahudi dan Kristen, Allah telah menciptakan semesta ini dengan baik (Kejadian, 1: 26, 2: 19, Mazmur 8: 4-7), sehingga manusia dilarang untuk mencelakai orang lain dan lingkungan (Ulangan 25: 4, Imamat 19: 16).

Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Islamic Cosmological Doctrine (1978) mengingatkan bahwa doktrin Tawhīd akan menempatkan alam sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari Allah. Dalam konteks ini, persaksian manusia akan ketuhanan Allah harus diikuti dengan kewajibannya untuk menjaga kelestarian alam. Paul Shepard dalam bukunya The Subversive Science: Essays toward and Ecology of Man (1969) menekankan bahwa agama seharusnya mampu memberikan pencerahan pada manusia bahwa lingkungan sekitarnya merupakan bagian dari diri manusia itu sendiri yang harus dilestarikan.

Jelas, agama apapun namanya pasti mengemban misi kebaikan di tengah-tengah masyarakat yang memeluknya. Agama Yahudi melarang untuk mengusik ketenangan orang lain, Kristen menganjurkan berbuat baik kepada orang lain, dan Islam melarang manusia untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Dalam perspektif agama-agama ini, manusia yang baik bukanlah manusia yang hanya menjalankan ritualitas keagamaan saja. Lihatlah bagaimana Nabi Muhammad menganjurkan masyarakat untuk menanam pohon (HR. Bukhori dan Muslim dari Anas), mengingatkan kebaikan bagi si penanam pohon (HR.Muslimdari Jabir), dan bahkan kewajiban menanam pohon (HR. Ahmad dari Anas bin Malik). Bahkan ketika Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq mengirim pasukan perang ke Syam, dia berwasiat agar pasukannya tidak memotong ranting dan menebang pohon di daerah peperangan. Jika Nabi dan Rasul Tuhan mewajibkan menanam pohon, maka bukankah menjadi terbalik tatkala banyak orang justru membakar lahan dengan cara-cara yang tidak benar?

Manusia Perusak Lingkungan sebagai Manusia ‘Kurang Beragama’

Pesan dan perintah agama yang bersifat sosial dan kosmologis di atas hampir tidak termanifestasi dalam kehidupan masyarakat beragama. Di sinilah kebanyakan manusia terperangkap dalam jebakan ritualitas rutin. Pada umumnya mereka merupakan pelaksana ritualitas keagamaan yang kering tanpa makna. Mereka menjalankan ‘agama untuk agama’. Mereka tidak menjalankan agama untuk kebaikan diri mereka dan lingkungan mereka. Mereka tidak menjalankan misi sosial agama yang sebenarnya hal itu membawa dampak langsung bagi eksistensi mereka di muka bumi. Menjalankan perintah Tuhan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan akan membawa dampak positif bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri.

Petaka asap di Kawasan Sumatera pada umumnya dan Jambi pada khususnya sering disebabkan oleh pembakaran lahan dengan tujuan pembukaan lahan baru.   Pembakaran lahan sering menjadi alternatif populer bagi masyarakat yang hendak membuka lahan baru untuk ditanami. Biaya yang mereka keluarkan relatif lebih kecil dibanding mereka menebang dan melokalisir rumput atau pohon yang tidak dibutuhkan. Dengan membakar, dalam waktu singkat lahan akan menjadi bersih. Namun, bukankah menjadi sangat ironis manakala di satu sisi kita mentaati Tuhan dengan membaktikan diri kepada Tuhan dalam ritualitas kita sehari-hari, sementara di sisi lain kita menjadi penentangnya dengan melakukan perusakan lingkungan. Oleh karenanya, kita tidak perlu tersinggung ketika Clifford Geertz dalam bukunya The Interpretation of Cultures: Selected Essays (1973) pernah memberikan sindiran bahwa sikap kita terhadap lingkungan berhubungan erat dengan nilai-nilai sosial keagamaan yang kita miliki. Artinya, pemahaman keagamaan yang kita miliki belum mendukung bagi munculnya kesadaran untuk konservasi lingkungan. Pemahaman agama kita masih berkubang dalam hiruk pikuknya ritualitas rutin yang tiada makna. Pemahaman keagamaan kita belum sempurna.

Baca juga:

ETIKA EKOLOGI DALAM ISLAM

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!