PEMBAHARUAN ISLAM

GAGASAN PEMBAHARUAN ISLAM MUHAMMAD ABDUH

Muhammad Abduh memiliki nama lengkap Muhammad Ibn Abduh Hasan Khairullah. Lahir di Mesir Hilir pada 1849 dan meninggal di Iskandaria Mesir pada 1905. Tokoh ini terkenal dengan gagasan-gagasan pembaharuannya dan sering disebut sebagai Reformis Islam. Abduh merupakan murid setia Jamaluddin al-Afghani karena sewaktu belajar di Mesir, ia banyak bertemu dengan Afghani.

Baiklah, dalam ruang yang singkat ini, mari kita telaah garis besar pemikiran Abduh yang secara umum pemikiran pembaharuannya berkisar pada 3 (tiga) aspek antara lain:

Aspek Akidah atau Tauhid

Dalam aspek ini, sebagaimana layaknya Afghani, menganjurkan agar Ummat Islam dapat memurnikan akidahnya dengan memperbaiki pemahaman mereka tentang peran akal dan wahyu dalam Islam. Umat Islam menurut Abduh kurang memberikan penghargaan terhadap akal dan lebih tunduk kepada doktrin yang mengajarkan Kehendak Mutlak Tuhan. Pemahaman ini yang telah mengantarkan Ummat Islam menjadi jabari, fatalis, dan jumud. Dari sisi pentingnya peran akal dalam konteks pembaharuan akidah Islam, Abduh sering disebut sebagai tokoh yang berhaluan Mu’tazilah.

Pembaharuan Pendidikan

Pada aspek ini, Abduh menyarankan agar Ummat Islam dapat menguasai Bahasa Arab agar dapat menguasai khazanah Islam klasik sebagaimana dalam kitab-kitab klasik dan mengkombinasikannya dengan disiplin keilmuan modern. Dalam konteks ini pula, Ummat Islam harus dapat membuang sifat taklid dan menghidupkan ijtihad seraya melakukan upaya selektif atas otoritas kitab-kitab yang ada.

Gagasan Nasionalisme dan Pembaharuan Politik

Dalam konteks politik, Abduh menganjurkan agar Mesir memiliki lembaga konsultatif atau parlemen. Hal ini sejalan dengan pemikiran Jamaluddin al-Afghani sebagaimana dalam GAGASAN PEMBAHARUAN ISLAM JAMALUDDIN AL-AFGHANI yang menganjurkan perlunya sistem demokrasi. Abduh juga menganjurkan agar warga Mesir memiliki nasionalisme yang tinggi dengan cara memperkuat jati dirinya dengan meningkatkan kualitas pendidikan sehingga dapat menjadi bangsa yang mandiri.

Dengan demikian, sasaran pembaharuan Abduh lebih mengarah ke dalam, yakni ke dalam kondisi internal Ummat Islam. Ummat Islam mundur karena faktor internal yakni pemahaman keislaman yang berkembang dinilai tidak mendukung kemajuan Ummat. Di samping itu, kemunduran disebabkan faktor eksternal di mana kolonialisme dinilai dapat memperburuk kondisi Ummat Islam.

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!