PEMBAHARUAN ISLAM

GAGASAN PEMBAHARUAN ISLAM MUHAMMAD IQBAL

Layaknya para pembaharu yang lain, Muhammad Iqbal muncul di tengah-tengah kondisi masyarakat India yang memperihatinkan. Kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, dan karakter hidup yang jumud atau fatalis, semuanya membuat Iqbal menjadi resah dan gundah. Muhammad Iqbal lahir di Sialkot India pada 1876 dan masih merupakan keturunan Brahmana Kashmir yang telah lama memeluk Islam sebelum Iqbal lahir. Iqbal memperoleh gelar doktornya (Ph.D) di Munchen University, Jerman pada 1908 dengan disertasi berjudul The Development of Metaphysics in Persia. Melalui disertasinya tersebut Iqbal menegaskan bahwa mistik Islam tidak memiliki dasar yang kokoh dalam sejarah dan ajaran Islam yang murni. Pada 1922 Iqbal dianugerahi gelar “Sir” oleh Raja George V karena dianggap berjasa dalam mengembangkan sastra Inggris dan filsafat.

Iqbal memiliki kepedulian yang besar terhadap masyarakat India, khususnya Ummat Islam. Secara umum masyarakat India masih dibelit oleh keterbelakangan, baik dalam aspek ekonomi, politik, maupun pendidikan. Pemahaman keagamaan yang ada tidak mendukung bagi terciptanya perubahan masyarakat ke arah yang lebih maju. Di sela-sela perenunggannya, Iqbal mendiagnosis bahwa penyebab kemunduran awal dari Ummat Islam adalah hancurnya Baghdad setelah diserbu oleh Hulagu Khan pada pertengahan abad ke-13. Keterbelakangan Ummat tidak bisa dilepaskan dari berkembangnya mental fatalisme atau menyerah pada nasib yang sebenarnya lebih disebabkan oleh pemahaman yang kurang tepat dalam memahami takdir Tuhan. Demikian juga sikap yang berlebihan dalam tasawuf mengakibatkan kekeliruan dalam memahami aspek spiritualitas Islam sehingga timbul sikap menjauhi dunia sebagai bentuk pemahaman yang salah atas konsep zuhud. Kondisi ini semakin lengkap ketika kejumudan dan stagnasi pemikiran semakin membelit ummat yang tak berdaya sehingga dengan ketidakberdayaan itu, mereka kemudian menutup pintu ijtihad dan alergi serta memusuhi pemikiran rasional dan progres.

Perenungan Iqbal sampai pada kesimpulannya untuk mengembangkan paradigma gerak dan dinamisme Islam sebagai kata kunci untuk proses pembaharuan ummat. Untuk memiliki dinamisme yang dimaksudkan Iqbal, terlebih dulu Ummat Islam harus memaksimalkan fungsi akal yang telah dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Alam ini bersifat dinamis dengan fenomena pergantian siang dan malam, pergerakan Matahari dan Bulan yang kesemuanya itu hanya dapat ditangkap oleh akal. Kehidupan ini identik dengan pergerakan dan perubahan sehingga manusia juga wajib bergerak jika tidak ingin dilindas oleh kehidupan itu sendiri. Dalam konteks inilah ijtihad sangat dibutuhkan oleh manusia agar mampu bergerak dan menghasilkan perubahan yang lebih baik, dan bukan dengan pemikiran yang statis. Ummat Islam harus senantiasa bergerak meraih kebaikan dan kemajuan. Adopsi nilai-nilai positif dari Barat sangat dianjurkan dengan tetap selektif dan kritis atas nilai-nilai Barat yang tidak sesuai dengan Islam, seperti materialisme dan hedonisme.

Dalam konteks dinamisme, maka sudah menjadi alamiah manusia berada dalam resah dan galau. Keresahan dan kegalauan akan memaksa manusia untuk berpikir dan berbuat mencapai hal-hal positif. Tanpa keresahan dan kegalauan, manusia akan merasa “tenang” dan hal itu bisa berbahaya bagi manusia itu sendiri. Manusia harus bisa menghindarkan diri sebisa mungkin dari sifat “menganggur” terutama dalam aktivitas berpikir. Aktivitas berpikir sangat menetukan bagi terciptanya warna kehidupan, karena kebaikan kehidupan akan lahir dari proses perenungan, impian, dan pemikiran yang baik atas kehidupan. Sebaliknya, kehancuran kehidupan biasanya lahir dari imajinasi jahat yang diikuti oleh pemikiran yang bersifat menghancurkan dalam kehidupan ini.

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

  1. dewy oktaviany says:

    Dalam hal perbaruan yang dilihat pada zaman sekarang ini kita harus pandai2 memilih berbagi perubahan yang positif guna menjadi kader umat yang lebih baik lagi.Mengadopsi nilai-nilai dari barat memang sangat dianjurkan,tetapi kembali kepribadi masing-masing kita harus pandai-pandai juga memilih nilai-nilai barat itu yang sesuai dengan ajaran dan syariat islam.Karena apabila nilai tersebut menyimpang dari ajaran islam,maka kita sendiri lah yang akan merugi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!