PEMBAHARUAN ISLAM

GAGASAN PEMBAHARUAN ISLAM MUSTAFA KEMAL ATATÜRK

Mustafa Kemal Atatürk dapat disebut sebagai tokoh kontroversial dalam Dunia Islam disebabkan oleh ide pembaharuannya yang mengundang banyak reaksi penolakan bahkan kemarahan dari ummat Islam. Tetapi saya menilai bahwa Atatürk merupakan simbol transisi pembaharuan Islam dari paradigma modernisme Islam yang murni menggunakan ajaran Islam sebagai parameter pembaharuan menuju apa yang disebut dengan sekulerisme.

Sebelum begitu jauh menilai Atatürk, mari kita simak pemikiran pembaharuan Atatürk sebagai berikut;

1. Pemisahan antara agama dan pemerintahan lebih detailnya, Islam dan Negara,
2. Kedaulatan Turki tidak lagi berada di tangan Sulthan, tetapi di tangan rakyat,
3. Sulthan hanya mengurusi aspek-aspek spiritual dan tidak boleh mengurusi aspek-aspek duniawi (kepemimpinan politik,
organisasi kemasyarakatan),
4. Bentuk Negara Khilafah diganti menjadi Negara Republik.

Tentu saja konsekuwensi dari hal ini berakibat pada penghapusan lembaga-lembaga syariah yang ada semisal dihapuskannya Biro Syaikhul Islam, Kementerian Syariah, dan Mahkamah Syariah.

Dari beberapa butir pembaharuan di atas, kita bisa menilai pemikiran pembaharuan Atatürk begitu kontras atau berbeda dengan pemikiran tokoh-tokoh sebelumnya. (Baca: Afghani, Abduh, Rasyid Ridlo, Ahmad Khan, Iqbal). Sekilas kita bisa menyebut pemikiran Atatürk sebagai sebuah sekulerisme yang menginginkan terpisahnya atau lebih tepatnya penghapusan simbol-simbol agama dalam ranah politik kenegaraan.

Atatürk secara lebih jauh menjalankan proyek pembaharuan di bawah terang sekulerisme sehingga tidak mengherankan ketika dia membuat kebijakan untuk menghapus pelajaran Bahasa Arab dan Persia di sekolah-sekolah yang merembet pada dihapuskannya pendidikan agama di sekolah-sekolah. Di sisi lain, peningkatan emansipasi wanita serta pengenalan hukum Barat, kalender Masehi, huruf latin menggantikan huruf Arab.

Sebagian pengkaji Islam menyebutkan bahwa di era pemerintahan Atatürk, westernisme sangat menggejala. Pola hidup masyarakat Turki yang cenderung kebarat-baratan sangat menggejala seperti dalam pola berpakaian, pola pergaulan dan life style yang lain. Menurut saya hal itu sangat mungkin berkaitan dengan sekulerisme yang dijalankan oleh negara.

Demikian sekilas pembaharuan dalam mindset Atatürk. Hanya Atatürk yang tahu, apa motif model pembaharuan yang ia jalankan. Selalu ada nilai positif dan negatif dalam setiap pemikiran. Dalam konteks pengenalan nilai-nilai, ajaran, budaya, dan etika dari satu bangsa kepada bangsa lainnya, Atatürk masih memiliki muatan positif. Anggap saja mengganti huruf Arab dengan huruf Latin merupakan sebuah pengenalan pengetahuan lain dari yang belum diketahui oleh orang Turki waktu itu yang selama ini hanya mengenal kebudayaan Arab semata. Thus, se-kontroversial apapun seorang Atatürk, ia tetap merupakan seorang Muslim yang ingin memperbaharui bangsa Turki.

Meskipun demikian, ada hal yang kurang menyenangkan dari sosok Atatürk yakni bahwa Atatürk dinilai terlalu diktator dalam memerintah Turki sehingga meskipun telah berulang-ulang menjadi Presiden, Atatürk tidak juga mampu mewujudkan kesejahteraan Turki selama ia menjabat, hingga ia meninggal pada 1938. Kesabaran masyarakat Turki untuk dipimpin secara diktator dan diharuskan hidup dalam nuansa sekuler dan westrnis, seharusnya dibayar dengan kemajuan dan kesejahteraan, namun dalam kenyataannya tidak juga.

Sumber gambar: http://hdresim.net

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!