POLITIK

GAGASAN TENTANG HUBUNGAN AGAMA DAN NEGARA DALAM ISLAM

Hubungan negara dan agama telah menjadi perdebatan dikalangan pemikir Islam di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, kalangan pemikir Islam juga memiliki perbedaan terhadap bentuk dasar negara yang dari sebuah negara Islam. Apakah sistem kerajaan sebagai yang diterapkan oleh Saudi Arabia dan Maroko atau sistem republik sebagai yang dianut oleh Pakistan dan Indonesia. Ada tiga pendapat tentang pola hubungan antara Negara dan agama.

Pertama, pemikiran yang mengatakan bahwa ajaran Islam adalah bersifat universal. Islam bukan hanya mengatur hubungan individu manusia dengan Tuhan yang terefleksi dalam bentuk-bentuk ibadah. Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya sangat kompleks dan universal, baik menyangkut persoalan-persoalan untuk mendapatkan kebahagian di akherat kelak dengan ibadah mahdhah namun juga mengatur urusan keduniawian termasuk di dalamnya mengatur urusan kenegaraan dan politik maka Islam harus menjadi dasar negara, yang mengatur seluruh kehidupan bernegara; syari’ah sebagai konstitusi Negara serta menerapkan syari’at Islam dalam kehidupan bernegara secara konprehensif (kaffah). Tokoh-tokoh utama dari pemikir Islam ini adalah antara lain Syekh Hasan al-Bana, Sayyid Qutub, Syekh Muhammad Rasyid Ridho dan Abu A’la al-maududi.

Kedua, berpandangan bahwa tidak ada dasar bahwa dari al-Qur’an dan al Hadits bahwa umat Islam harus meletakkan suatu pola baku tentang negara Islam yang harus dijalankan oleh ummah. Hal tersebut justru membuat Islam menjadi sempit dan membatasi umat Islam dalam upaya membangun suatu sistem sosial politik sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan kondisi sosio kultural yang bertentangan dengan konsep Islam sebagai agama yang sholihun li kulli zaman wa makan. Negara Islam juga tidak ditemukan dalam al-Qur’an maka kelompok ini berpandangan bahwa Islam tidak ada hubungannya dengan urusan kenegaraan. Tokoh-tokoh kelompok ini antara lain Ali Abd al-Raziq dan Dr.Thaha Husein.

Abd Raziq menyatakan bahwa bentuk dan system pemerintahan kekhilafahan tidak mempunyai dasar yang kokoh baik dalam perspektif Qur’an maupun Sunnah karena tidak ada dalil khusus mengenai hal tersebut dari kedua sumber yang otoritatif tersebut. Islam sama sekali tidak menentukan atau mengatur sistem dan pola pemerintahan tertentu dan juga tidak memaksa umat Islam untuk mengikuti pola dan sistem tertentu dari pemerintahan yang ada. Islam memberikan ruang wilayah kebebasan penuh untuk mengatur dan mengelola negara dengan dengan segala perangkat sistem pemerintahannya sesuai dengan kondisi intelektual, situasi sosial-budaya dan keadaan ekonomi dimana masyarakat Muslim hidup dengan mempertimbangkan segala aspek perkembangan tatanan sosial dan kebutuhan zaman.

Ketiga, menolak pendapat bahwa Islam adalah suatu agama yang holistik dan bahwa dalam Islam terdapat sitem politik dan bentuk negara yang baku. Akan tetapi, aliran ini juga menolak bahwa Islam adalah agama dalam pengertian masyarakat Barat (Kristen) yang hanya mengatur hubungan antara individu dan Tuhan. Kelompok ini berpendapat bahwa dalam Islam tidak terdapat sistem ketatanegaraan yang baku karena Qur’an bukanlah buku ilmu politik, namun sebuah kitab yang berisi pedoman-pedoman hidup bagi manusia. Meskipun demikian, mereka juga mengakui bahwa dalam al-Qur’an terdapat seperangkat nilai etika bagi kehidupan bernegara.

Ajaran-ajaran ini mencakup prinsip-prinsip tentang keadilan, kesamaan, persaudaraan dan kebebasan. Dengan demikian, bagi kalangan yang berpendapat demikian, sepanjang Negara berpegang kepada prinsip-prinsip seperti itu, maka mekanisme yang diterapkannya adalah sesuai dengan ajaran Islam. Nilai dan ajaran Islam hanya sebagai pijakan untuk menjadi dasar etika berpolitik bukan diformalkan dalam bentuk negara dan ideologi politik. Kelompok ini berpandangan bahwa bentuk pemerintahan dan sistem politik yang akan dijalankan diserahkan kepada hasil interpretasi umat Islam itu sendiri sesuai dengan kondisi sosio kultural dan ekonomi suatu wilayah.

Sumber gambar: historyinindia.com

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!