AGAMA

H. SYUKUR: SEORANG “WALI” DARI PINGGIRIAN BATANGHARI

[toc title=”Pembahasan dalam Artikel ini Meliputi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Pendahuluan

Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Di Pulau Sumatra, ada banyak cerita tentang penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para pedagang Arab yang kemudian bermukim di sepanjang garis laut Pulau Sumatra. Sebut saja Provinsi Aceh, Provinsi Sumatra Selatan, Provinsi Sumatra Barat dan Provinsi Jambi. Di mana jalur perdagangan merupakan jalur sunga maka Sungai Batang Hari di Provinsi Jambi merupakan jalur perdagangan di masanya dan merupakan jalur penyebaran Islam di Provinsi Jambi.

Asal Haji Syukur

Adalah Desa Terusan di Kabupaten Batanghari. Tempat lahir seorang yang berpengaruh besar dalam penyebaran Islam di Provinsi Jambi, H Syukur atau Guru Syukur (1899-1979). Sejarah berdiri Desa Terusan, Sekitar abad ke-XVI datanglah seorang ulama dari suku Kebalen (Jawa Tengah), bernama SINGOPATI. Sebagian orang berpendapat bahwa beliau bersal dari Turki. Ulama ini sangat terkenal dengan kesaktiannya, dan juga sangat Alim, sehingga banyak orang yang ingin belajar ilmu Agama pada beliau. Dengan kesaktiannya pula ia mudah menundukan musuh (orang pedalaman) yang belum beragama. Setelah beliau berhasil mengalahkan musuh-musuhnya, maka bagi mereka yang mau tunduk padanya diperintahkan untuk memeluk agama Islam. Dan bagi yang tidak mau tunduk,mereka diusir dari Terusan. Berkat kealimannya, maka setiap malam beliau mengajarkan ilmu-ilmu tentang ke-Islam-an, seperti : membaca Al-qur’an, ilmu-ilmu Tauhid, ilmu hukum Syara’, dan ilmu lainnya yang bermampaat. Setelah banyak masyarakat yang masuk Islam, lalu dibentuklah suatu pemerintahan dan secara lansung diangkatlah Singopati menjadi raja Terusan yang pertama. Tempat kediamannya diberi nama KEBALEN. Itulah sebabnya nama Terusan waktu itu adalah Kebalen demi mengingat asal keturunan rajanya.

Salah satu bukti bahwa suatu kaum telah memeluk agama Islam adalah dengan mendirikan Mesjid. Mesjid Syuhada adalah mesjid tertua di kabupaten batanghari pun terletak di Desa Terusan. Didirikan tahun 1916. Mesjid tertua ini dibangun oleh orang tua dari Guru Syukur, H. Ahmad bin HM. Thohir yang dibangun dengan bahan kayu. Kemudian pada tahun 1927 Guru Syukur terlibat dalam perenovasian Mesjid Syuhada. KH Syukur tidak hanya menyebarkan Islam di Desa Terusan Kabupaten Batanghari. Beliau sampai ke Kabupaten Sarolangun di Kecamatan Batang Asai, desa Bukit Bulan, Limbur Tembesi. Di Kabupaten Bungo sampai ke Desa Lubuk Landai. Di Kabupaten Muara Jambi di Desa Tarikan dan Desa Sakean. Beliau menyampaikan syiar Islam dari rumah ke rumah, mesjid ke mesjid, desa ke desa. Di mana kerumunan maka beliau datang menghampiri dan beliau menyampaikan dengan syiar melalui syair sehingga yang mendengarkan tidak merasa sedang digurui.

Hubungan Keulamaan di Jawa dan di Jambi

Adanya hubungan antara Wali Songo di Jawa dan penyebaran agama yang dilakukan Guru Syukur di Provinsi Jambi. Apakah Guru Syukur juga seorang wali ?. Kajian tentang Guru Syukur pernah dibahas dalam sebuah tulisan yang berjudul ‘Arudh Haji Syukur’ yang ditulis oleh Hilmi, dimuat di Kontekstualita: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, Vol. 20, No. 2 (2005): 118-144. Kemudian tulisan berjudul ‘Tuan Guru Syukur : Berdakwah Dengan Syair’, yang ditulis oleh M. Fattafuddin, M. Pd. I yang dimuat di Majalah Al-kaustar, edisi III, November 2012. Namun kedua tulisan tersebut terfokus pada syair-syair yang digunakan Guru Syukur dalam berdakwah. Bukan unsur kewalian dalam penyebaran agama yang dilakukannya.

H. Syukur atau H. Syukur dikenal dengan nama Guru Syukur oleh murid-muridnya. Terlahir dari pasangan H. Ahmad bin HM. Thohir dan Hj. Jariyah. Lahir di Desa Terusan pada tahun 1899 dan wafat pada tanggal 30 Juli 1979, dalam usia 80 tahun. Beliau memulai pendidikan di luar rumah pada usia remaja, dengan belajar dengan KH. Abdul Majid Jawo. Pada tahun 1915 beliau mengecam pendidikan formal di Madrasah Al Jauharain di Kampung Johor Seberang Kota Jambi. Dua tahun sebelum tamat, beliau dikirim belajar di Pesantren An Nawawi Banten selama dua tahun. Kemudian kembali ke Madrasah Al Jauharain untuk menamatkan sekolahnya. Guru Syukur memang terpelajar, ini pun dibuktikan dengan anak keturunan beliau merupakan orang-orang pertama di Desa Terusan yang mengenyam pendidikan tinggi. Anak pertama H. Hasuf Syakur merupakan pemuda Desa Terusan pertama yang mengecam Pendidikan Tinggi di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Dan beliau merupakan Sekda Kabupaten Tanjung Jabung pada tahun 1969. Anak keturunannya pun sekarang telah menyebar di seluruh pelosok negeri. Bahkan ada yang bermukim di Norwegia, Australia dan Malaysia.

Dengan penampilan sederhana tas terbuat dari rotan yang selalu ada di bahunya. Dari beberapa orang yang menjadi murid yang saya temui baik di Batang Asai maupun Sarolangun. Menyebutkan bahwa beliau memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Salah satu kisah yang paling diingat masyarakat Sarolangun adalah ketika beliau datang ke sebuah desa kemudian masyarakat desa tersebut menolak kedatangannya. Sehingga seuatu peristiwa tidak nalar manusia terjadi. Bahwa sebuah tanjung yang menghubungkan desa tersebut dengan desa lain terputus. Namun ketika masyarakat menerima kedatangan beliau kemudian tanjung tersebut menyambung kembali. Kemudian cerita kalau zaman dahulu untuk mencapai desa lain diperlukan waktu berhari-hari, namun tidak bagi beliau dalam waktu sekejap beliau akan tiba di desa tujuannya. Dan beliau pernah menjadi imam dalam waktu bersamaan di mesjid dan desa yang berbeda. Namun kisah itu hanya sebatasd cerita, kita tidak dapat membuktikan kebenarannya. Apakah Guru Syukur seorang wali?

Karakteristik Seorang Wali

Walī (Bahasa Arab:الولي, Wali Allah atau Walīyu ‘llāh), dalam bahasa Arab berarti adalah ‘seseorang yang dipercaya’ atau ‘pelindung’, makna secara umum menjadi ‘Teman Allah’ dalam kalimat walīyu ‘llāh. Al Qur’an menjelaskan Waliallah memiliki arti orang yang beriman dan bertakwa. “Ingatlah sesungguh wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yg beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus 10:62 – Al-Furqan dalam kitab Majmu’atut Tauhid hal. 339). Dari Abu Hurairah ia berkata: telah bersabda Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah telah berfirman: Barangsiapa yang memusuhi Waliku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang kepadanya, dan tidaklah seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya jadilah aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepadaKu pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan dariKu pasti Aku akan melindunginya”. Allah telah menyebutkan ciri para wali-Nya dalam firmannya, “Ingatlah, sesungguhnya para wali-wali Allah Mereka tidak merasa takut dan tidak pula merasa sedih. Yaitu orang-orang yang beriman lagi bertaqwa”. (Yunus: 62-63).

Berikut kita akan rinci ciri-ciri dari kedua jenis wali tersebut: a. Beriman, keimanan yang yang dimilikinya tidak dicampuri oleh berbagai bentuk kesyirikan. Keimanan tersebut tidak hanya sekedar pengakuan tetapi keimanan yang mengantarkan kepada bertakwa. Landasan keimanan yang pertama adalah Dua kalimat syahadat. Maka orang yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat atau melakukan hal-hal yang membatalkan kalimat tauhid tersebut adalah bukan wali Allah. Seperti menjadikan wali sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah, atau menganggap bahwa hukum selain Islam adalah sama atau lebih baik dari hukum Islam. Atau berpendapat semua agama adalah benar. Atau berkeyakinan bahwa kenabian dan kerasulan tetap ada sampai hari kiamat bahwa Muhammad bukan penutup segala rasul dan nabi. b. Bertaqwa, Ia melakukan apa yang diperintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ini yaitu melakukan hal-hal yang diwajibkan agama, ditambah lagi dengan amalan-amalan sunnah. Maka oleh sebab itu kalau ada orang yang mengaku sebagai wali, tapi ia meninggalkan beramal kepada Allah maka ia termasuk pada jenis wali yang kedua yaitu wali setan. Atau melakukan ibadah-ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Baik dalam bentuk salat maupun zikir, dll.

Namun tidak seorang pun berani menyimpulkan bahwa Guru Syukur adalah seorang wali. Dalam benak keluarga, murid maupun masyrakat yang mengenalnya. Beliau adalah seorang guru ngaji yang baik. Yang selalu menyampaikan syiar dengan syair. Salah satu syair beliau tentang akhlak ”Sekeras hati dalam mahsjar, ta’ mau niti karena pakso keno giring dengan api. Sekeras hati ta’ boleh tidak pasti niti, sebelum minta izin njertja diri”. Melalui naskah syairnya, beliau telah menegaskan kepada masyarakat di mana dia pernah singgahi bahwa ”Adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah”. Masyarakat Melayu Jambi telah memakai peribahasa ini dalam nafas kehidupan, sehingga melalui syair yang berisi tentang tuntunan Al-Qur’an dan sunah Rasul Guru Syukur telah mewariskan dengan sangat lekat sehingga tak lekang dimakan waktu. Walaupun tidak setenar Wali Sanga Guru Syukur tetaplah seseorang yang dikenal luas di Provinsi Jambi, sebagai seorang Guru Ngaji, dan tokoh penyebar agama Islam.

Bibiliografi
1. Al-Qur’an dan Terjemahannya.
2. Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. LkiS. pp. xxvi + 302 hlm. ISBN 9799798451163.
3. Naskah Syair Guru Syukur, ada lima cetakan dari berbagai sumber dengan penyalin dan isi naskah yang berbeda.
4. Wikipedia
5. Wawancara dengan keturunan generasi kedua Guru Syukur, Habibullah Thohirin.
6. Wawancara dengan mantan murid Guru Syukur.
7. Penulis adalah Keturunan generasi ketiga Guru Syukur

Sumber gambar: http://www.islamicity.org/

Mahdayeni

Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Muara Bulian - Jambi

Related Posts

  1. Sekedar saran pendidikan datuk syukur ada yg kurang ni, datuk syukur jg pernah belajar ke mekkah
    Mungkin bisa dtambah untuk pendidikan datuk syukur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!