ORIENTALISME

IGNAZ GOLDZIHER DAN KRITIK HADITS

Riwayat Hidup

Nama lengkapnya sebenarnya adalah Yitzhak Yehuda Goldziher, lahir pada 22 Juni 1850 di Székesfehérvár, sekarang Kota Alba Regia, sebuah kota di Hungaria, Ibukota Transdanubia Tengah, Budapest. Goldziher masih keturunan Yahudi berkebangsaan Honggaria yang sejak kecil sudah memiliki hobi membaca. Ketika berusia 5 tahun dia sudah membaca Kitab Talmud hingga usia 8 tahun, dan pada usia 12 tahun dia juga membaca Kitab Kuzari sebagai salah satu Kitab Yahudi berbahasa Arab. Kitab ini berisi argumen-argumen pertahanan atas penghinaan agama. Kehidupan Goldziher diwarnai dengan pengkajian terhadap Islam, khususnya telaah dan kritiknya atas Hadits Nabi. Goldziher meninggal pada 13 November 1921 dalam usia 71 di Budapest-Hongaria.

Riwayat Pendidikan

Goldziher memiliki riwayat pendidikan yang sangat menarik untuk dicermati. Dia memiliki hobi untuk menuntut ilmu ke berbagai tempat di belahan Dunia seperti; di Budapest, Berlin, Leipzig, Leiden dan Timur Tengah. Dia juga menguasai berbagai bahasa seperti bahasa Ibrani, Turki, Persia, dan Arab. Karena kecerdasannya, pada 1868 dia mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan Honggaria untuk belajar ke Jerman hingga gelar Doktor diperoleh di Leipzig di bawah bimbingan ahli bahasa Semit yakni L. Fleischer. Selesai dari Leipzig, Goldziher yang haus ilmu berangkat ke Leiden pada 1871 dan di sana ia bertemu dengan para orientalis Belanda terkemuka seperti Dozy dan De Goeje. Masa-masa di Leiden merupakan masa pembentukan minat studinya. Di Leiden, Goldziher telah bertekad bulat untuk menjadikan Islam sebagai fokus kajian ilmiahnya. Pada 1873, kembali dia mendapatkan dana hibah dari Menteri Pendidikan Honggaria untuk pergi ke Timur Tengah. Pertama-tama dia mengunjungi Istambul, kemudian Beirut, Damaskus, dan akhirnya ke Mesir. Di Mesir dia menjadi ‘Orang Non-Muslim Pertama’ atau ‘Orang Eropa Pertama’ yang diperkenankan untuk belajar di Universitas al-Azhar Kairo. Dalam upayanya untuk memperoleh Guru Besarnya, ia pergi ke Wina dan Leiden untuk mempelajari koleksi-koleksi berbahasa Arab. Pada 1872, Goldziher ditunjuk sebagai asisten Guru Besar pada Universitas Budapest hingga pada 1894 Goldziher menjadi Profesor dalam Kajian Bahasa Semit. Kecerdasan dan kapasitas intelektualnya serta penguasaannya pada bahasa Arab khususnya, menjadikannya sebagai salah satu tokoh orientalis penting dan berpengaruh dalam studi-studi keislaman.

Kritik Goldziher tentang Otentisitas Hadits

Nama Goldziher sering disandingkan dengan wacana kritik atas otentisitas Hadits Nabi, di mana Goldziher memiliki rasa skeptis atau kecurigaan atas keberadaan hadits yang tersebar di tengah-tengah Ummat Islam. Karyanya yang cukup berpengaruh di kalangan Orientalis lainnya di Barat adalah Mohammedanische Studien yang kemudian diterbitkan dalam versi Inggris yakni Muslim Studies. Melalui karyanya tersebut, Goldziher dipandang sebagai Orientalis pertama yang mencetuskan kajian skeptis terhadap Hadits Nabi. Dalam pandangan Goldziher, teks hadits justru berkembang pada masa setelah Nabi Muhammad saw wafat sehingga hal itu layak untuk dipertanyakan, sedang pada masa Nabi masih hidup, tradisi dakwah dan pengajaran Nabi masih menggunakan budaya lisan dan bukan tulisan.

Goldziher meragukan otentisitas hadits seraya menyatakan bahwa tidak ada bukti yang otentik bahwa hadits-hadits yang banyak itu berasal dari Nabi Muhammad saw. Hadits yang ada dipandang Goldziher bukanlah asli berasal dari Nabi Muhammad saw, melainkan sebagai hasil dari pergumulan dan perseteruan aliran-aliran pemikiran dalam Islam pada masa-masa awal sepeninggal Nabi. Dengan kata lain, hadits berasal dari tradisi masyarakat. Demikian juga tafsir yang menurut Goldziher sarat dengan kepentingan sekte-sekte maupun madzhab yang

Pelurusan atas Kekeliruan Goldziher

Pandangan-pandangan Goldziher yang kontroversial tersebut mengundang perdebatan dan kajian dari para ilmuan dan ahli-ahli keislaman. Salah satunya adalah Nabia Abbot yang menilai Goldziher kurang memahami aspek kesejarahan dan riwayat hidup para sahabat Nabi. Sejak Nabi Muhammad saw hidup, telah ada beberapa sahabat penghafal ucapan-ucapan Nabi sebagai hadits di luar al-Qur’an. Dari segi masa hidup saja, para sahabat perawi (yang meriwayatkan hadits) adalah para sahabat yang hidup di masa Nabi dan mengikuti kegiatan-kegiatan dakwah Nabi. Di antara mereka antara lain; Abu Hurairah (w. 678), Abdullah ibn Amr al-‘Ash (w. 684), Ibn ‘Abbas (w. 686-688) dan Anas ibn Malik (w. 712). Dengan demikian, koleksi hadits yang ada setelah wafatnya Nabi atau sekitar abad ke-3 H bukanlah awal mula proses penulisan hadits sebagaimana dipahami Goldziher, akan tetapi merupakan kelanjutan dari proses sebelumnya ketika Nabi masih bersama mereka.

Meskipun demikian, ada juga pandangan Goldziher yang terkesan obyektif mengenai Islam. Menurutnya, Islam merupakan agama yang paling memuaskan akal sehingga Islam tidak bertolakbelakang dengan ilmu pengetahuan. Begitu pula ketika dia menyatakan bahwa tidak ada tidak ada kitab perundang-undangan (tasyri’) yang diakui oleh kelompok keagamaan bahwa ia adalah teks yang diturunkan atau diwahyukan, di mana pada  masa awal peredaran teks tersebut datang dalam bentuk kacau dan tidak pasti,  sebagaimana yang kita temukan dalam al-Quran. Pernyataan ini sepertinya sangat jujur mengingat Goldziher memiliki ketertarikan mempelajari Islam walau bisa jadi pernyataan tersebut sebenarnya merupakan sindiran darinya untuk memperkuat argumen kritiknya khususnya yang terkait dengan kodifikasi hadits.

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

  1. Muhammad Nur says:

    Dalam teks diatas,,disebutkan hanya Nabia Abbot saja yang berkomentar tentang Goldziher,, apakah tidak ada lagi ilmuan lain yang mengomentari pendapat Goldziher tersebut, dan mengapa Nabia Abbot tertarik mengomentari pendapat Goldziher?

  2. Muhammad Nur says:

    Dalam artikel diatas, disebutkan bahwa hanya Nabia Abbot yang mengomentari pendapat Goldziher, apakah tidak ada ilmuan lain lagi yang mengomentari pendapat Goldziher, dan apakah yang menyebabkan Nabia Abbot tertarik mengomentari pendapat Goldziher tersebut?

  3. mitrianto says:

    dari artikel diatas, bahwa Goldziher telah membaca kitab kuzari, yang berisi tentang penistaaan dan penghinaan terhadap agama. apa mungkin yang melatar belakangi goldizher menyebut bahwa hadis itu tidak benar karena dia telah membaca dan memahami kitab tadi ?
    kemudian menurut bapak bagaimana tindakan yang harus dilakukan oleh para ulama mengenai pendapat goldizher tersebut ?

  4. disisni saya akan meyanggah pertayaan dari saudara muhammad nur. sebenarnya banyak para ilmuan yang mengomentari goldziher namun yang disebutkan disini hanyalah nabia abbot mungkin karena kritikan dari nabia abbot terhadap goldziher lebih siknifikan, karena ia mengatakan bahwa hadist nabi itu kebanyakan hadist palsu namun pada kenyataannya tidak karena penulisan hadist tersebut merupakan kelanjutan dari proses sebelumnya ketika nabi masih bersama para sahabat.

  5. eli guspiya says:

    saudara mitrianto, alasan kenapa GOLZIHER mengatakan bahwa hadist itu palsu bukan karena ia membaca kitab kuzuri atau hal semacannya,
    my opini
    melainkan GOLDZIHER tidak mengetahui islam itu secara lebih dalam lagi,ia tidak hidup di masa nabi muhammad menyebarkan ajaran agama islam, ia hanya mengetahui islam dengan membaca buku tentang islam, dan bahkan itu pun tidak secara menyeluruh, ia tidak mengetahui sejarah tentang agama islam yang sejatinya.
    hal yang demikianlah yang membuat GOLDZIHER berpikir seperti itu.

  6. saya disini ingin sedikit memberikan aspirasi saya tentang jawaban dari saudar M.Nur,,saya sangat sependapat dengan jawaban di atas selain dari nabia abbot yang mengomentari goldziher.menurut buku dan pengetahuan yang saya dapat, sebenarnya masih banyak yang mengomentari seperti MM Azami yang kemudian dilanjutkan oleh muridnya KH.Ali mustafa ya’kub yang tetap konsisten menulis kritik balik orientalis terhadap islam,khususnya dalam konteks hadits dan kemuan ada MM azami juga membantah pendapat goldziher itu tidak ada penulisan hadits pada abad pertama dengan adanya penemuan azami 3 naskah yang berisi hadits-hadits pada abad pertama. dan masih bnyak para ulama yang megkritik goldziher karena pemikiran goldziher tidak ada bukti historis yang mendukung teori goldziher.

  7. Diatas dikatan goldziher adalah orang non muslim pertama yang belajar di tanah mesir. Apa alasan universitas al azhar memberikan izin goldziher yang jelas jelas orang orientalis untuk belajar di sana.

    • Karena sewaktu melobi atau memohon kepada para Syeikh al-Azhar, dia menyatakan ketertarikan kepada Islam dan niat belajarnya (kata dia) untuk pengembangan studi Islam ke depan.

  8. Lili Yudeliani says:

    mengapa goldziher memiliki rasa kecurigaan atas keberadaan hadits yang tersebar di tengah-tengah umat islam?, dan apa landasan atau sumber-sumber yang digunakan oleh goldziher yang menyatakan bahwa hadits-hadits tidak berasal dari nabi muhammad melainkan dari hasil perseteruan aliran-aliran pemikiran islam yang timbul setelah nabi wafat??.

    • Goldziher mengira bahwa penulisan hadits semata-mata terjadi setelah Nabi wafat, padahal proses penghafalan dan penulisan itu telah berlangsung sejak Nabi bersama para sahabat penulis dan penghafal hadits.

  9. eli guspiya says:

    mitri yanto, ulama tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pandangan goldziher yang demikian, karena yang menjadi pacuan goldziher berpandangan seperti itu ialah, hadist di buku kan setelah nabi muhammad sendiri wafat, dengan demikian sewajarnya timbul kecurigaan,di kiranya hadist itu hanya di buat-buat atau di karang oleh sekelompok orang tertentu.

  10. eli guspiya says:

    pak, apakah semudah itu goldziher di terima di universitas islam al-azhar, dengan mengemukakan alasan ingin mempelajari islam lebih dalam.
    walau pun yang kita tahu bahwa goldziher adalah orang orentalis yang sangaat berpengaruh di kalangannya, apakah tidak ada kecurigaan yang timbul dari universitas terhadap niat nya tersebut.

    • Yah, mungkin persuasinya memang meyakinkan, apalagi menyatakan akan memperdalam kajian keislaman sehingga disiplin ini menjadi lebih prospektif di masa mendatang,

  11. wiwit fitriyanti says:

    apa yang menjadi alasan goldziher mengatakan bahwa agama islan adalah agama yang paling memuaskan akal?

  12. berarti mustafa Azmi, mustafa ya’kub, fazlur rahman itu termasuk dalam pendapat Golziher ya, kenapa tidak termasuk dalam pendapat yang lainnya.

  13. ahmad syahrofi says:

    disini saya merasa bingung, kenapa setelah Goldhiher mengkeritik hadist lalu dia terkesan pada islam? dan dia mengatakan bahwa islam itu agama yang masuk akal sehingga tidak belatar belakang dgn ilmu pengetahuan..

    • bukan dihubungkan begitu. dia terkesan untuk menjadikan Islam sebagai objek studinya, tetapi ternyata tujuan ini mengarahkannya pada model kritik atas sumber ajaran Islam, dalam hal ini hadits Nabi

  14. yevit marda yetty says:

    saudari lili saya ingin menambahkan tentang komentar diatas, menurut yg pernah saya baca bahwa kedudukan atau otentisitas hadis merupakan salah satu hal yang sangat krusial dan kontroversial dalam study hadis,hal ini karna perbedaannya dengan alqur’an yang telah mendapat “garansi” atas keterpeliharaannya sabagaimana firman Allah yg artiny”sesungguhnya kamilah yg menurunkan alqur’an,dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya” maka secara normatif-theologis, hadis tidak dapat ‘garansi’ keterpeliharaannya dari allah swt, yg membuat ignez sebagai orientalis yg keritis, tidak lupa menyorot poin yg demikian itu,yg menganggap negatif dari keberadaan hadis. yg pada intinya untuk membuat goyahnya agama islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!