BIOGRAFI TOKOH

IMAM HANBALI DAN KETABAHAN DALAM MEMPERTAHANKAN KEYAKINAN

Lahir

Imam Hanbali termasuk salah satu Imam dalam deretan Imam Mazhab yang empat, nama lengkap beliau ialah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa’labah adz-Zuhli asy-Syaibaniy. Subhanallah, Nasab beliau ini masih bertemu dengan nasab Nabi pada Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan. Imam Hanbali dilahirkan di Kota Baghdad pada tahun 164 H, tepatnya pada bulan Rabi’ul Awwal menurut pendapat yang paling masyhur. Sedangkan ayah Imam Hanbali sudah meninggal ketika Imam Hanbali masih berumur tiga tahun. Ayahnya meninggal dalam usia yang sangat muda berumur 30 tahun.

Dalam kesehariannya Imam Hanbali diasuh dan dididik oleh ibunya yang bernama Shafiyyah binti Maimunah binti Abdul Malik asy-Syaibaniy. Walaupun keadaannya tidak punya ayah, tetapi beliau mempunyai seorang ibu yang sangat kuat dalam mendidik dan mengasuhnya agar dia selalu cinta kepada ilmu agama. Keadaan yang dialami  Imam Hanbali ini tidak jauh berbeda dengan keadaan yang dialami gurunya yaitu Imam Syafi’i. keduanya sama-sama mempunyai seorang ibu yang bisa mengantarkan mereka kepada kemajuan dan kemuliaan.

Pendidikan

Imam Hanbali memulai pendidikannya di Kota Baghdad, kota ini salah satu kota yang terkenal  dengan manusia yang berbeda asalnya dan kebudayaanya serta penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di kota ini banyak para ahli-ahli ilmu seperti para Qari’, Ahli Hadis, para Ulama Sufi, Filosof, dan lain sebagainya. Pendidikan yang pertama kali beliau pelajari ialah al-Qur’an hingga dia hafal pada usia 15 tahun. Selain hafal al-Qur’an beliau juga mahir dalam hal baca tulis sehingga saat itu dia dikenal sebagai orang yang terindah dalam tulisan. Imam Hanbali mulai Menggeluti bidang Ilmu Hadis sejak usianya menginjak 15 tahun, sebagian besar pencarian ilmunya dia lakukan di Kota Baghdad.

Merantau Menuntut Ilmu

Setelah sekian lama di Kota Baghdad Imam Hanbali mulai merantau ke berbagai negara untuk mendalami ilmu hadisnya, kota yang pernah beliau kunjungi di antaranya: Yaman, Kufah, Bahsrah, Jazirah, Makkah, Madinah dan Syam. Dari kerja kerasnya dalam mencari hadis beliaupun berhasil mengumpul banyak hadis, Abu Zar’ah menempatkan beliau dalam deretan “Amirul Mu’minin fil Hadis”.

Kekuatan Hafalan

Imam Hanbali termasuk salah seorang yang kuat dalam menghafal. Abu Zar’ah pernah ditanya, “Wahai Abu Zar’ah, siapakah yang paling kuat dalam hafalannya? Anda atau imam bin Hanbal?” Abu Zar’ah menjawab, “Ahmad bin Hanbal”. Abu Zar’ah ditanya lagi, “Bagaimana anda tahu?” beliaupun menjawab.”Saya mendapati di bagian depan Kitab Ahmad bin Hanbal tidak tercantum nama-nama perawi, karena beliau hafal nama-nama perawi tersebut. Sedangkan saya tidak mampu melakukannya”. Abu Zar’ah berkata lagi, Ahmad bin Hanbal hafal satu juta hadis.

Pengaruh Imam Syafi’i

Sebagian pemikirannya banyak dipengaruhi dari Imam Syafi’i, karena beliau banyak menimba kepadanya. Imam Syafi’i merupakan salah satu ulama besar yang terkenal dan banyak menghasilkan karya-karya, semua karya yang dihasilkannya terkenal dan dipakai di seluruh dunia, termasuk Indonesia saat ini. Meskipun beliau menimba ilmu dengan Imam asy-Syafi’i tetapi tidak semua pendapat mereka sama dalam satu permasalahan. Hal itu dikarenakan beliau mempunyai alasan tersendiri. Selain sebagai Ahli Hadis, Imam Ahmad juga ahli dalam bidang Ilmu Fiqh dan Tasawuf.

Guru

Adapun jumlah guru Imam Hanbali ada sekitar dua ratus delapan puluh orang lebih yang tersebar di beberapa negeri seperti, Makkah, Kuffah, Bashrah, dan lainnya. Di antara mereka ialah: Ismail bin Ja’far, Abbad bin Abbad Al-Ataki, Umari bin Abdillah bin Khalid, Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar as-Sulami, Imam asy-Syafi’i, Waki’ bin Jarah dan lain sebagainya.

Konsistensi dalam Keyakinan

Salah satu kelebihan yang dimiliki Imam Hanbali, selain dia mampu menghafal hadis sebanyak satu juta, dia juga termasuk orang yang konsisten dengan pendapatnya, hal ini nampak ketika ada kejadian yang sangat menyedihkan. Pada masa Khlifah al-Ma’mun, orang-orang Jahmiyyah berhasil menerapakan pendapatnya tentang paham Jahmiyyah menjadi ajaran resmi untuk Negara. Salah satu ajarannya ialah menyatakan bahwa al-Quran adalah makhluk, lalu penguasa pun mengumumkan dan memaksa kepada seluruh rakyat termasuk para ulama memegang ajaran sesat tersebut; siapa yang tidak mau mengikuti ajaran tersebut maka akan dihukum dengan seberat-beratnya.

Karena terlalu berat hukuman  tersebut. Akhirnya rakyat, termasuk para ulama mengucapkan apa yang dituntut oleh raja zhalim tersebut yakni mengucapkan bahwa al-Qur’an itu adalah mahluk. Tetapi lain halnya bagi Imam Hanbali, beliau tidak mau mengikuti ajaran sesat tersebut. Imam Hanbali tetap konsisten dengan pendapatnya yang mengatakan bahwa “Al-Qur’an itu Kalamullah”. Beliaupun dimasukkan ke dalam penjara dan dihukum cambuk. Sebelum dihukum, para ulama sudah memberi bisikan kepada beliau untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari siksaan tersebut. Namun beliau menolak bisikan tersebut.

Meninggal

Beliaupun terus memperoleh siksaan yang teramat berat. Hingga karena kondisinya yang sangat memperihatinkan, maka pemerintah melepaskan dia dari penjara. Namun, meskipun telah keluar dari penjara, kesakitan yang telah lama dideritanya selama dalam masa hukuman membekas dan terbawa dalam kehidupannya sehingga mengakibatkannya meninggal dunia. Ia meninggal dunia pada 12 Rabi’ul Awwal 241 H di Kota Baghdad Irak.

Baca juga:

IMAM HANAFI DAN SPIRIT PENCARIAN ILMU AGAMA

IMAM MALIK DAN KETEKUNAN SEORANG ILMUAN

BIOGRAFI SINGKAT IBNU MAJAH

RIWAYAT HIDUP IMAM SYAFII

Mohammad Ridwan

Mahasiswa IAIN STS Jambi dan Penulis Aktif Bidang Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!