INSTRUMEN DALAM MEMPEROLEH PENGETAHUAN MENURUT AL-GHAZALI

Artikel ini membahas pemikiran salah satu tokoh filosof Islam; Al-Ghazali. Fokus yang dibahas adalah tentang bagaimana pandangannya mengenai instrumen yang ada pada diri manusia yang dapat diandalkan untuk mencari dan sekaligus memperoleh pengetahuan yang a priori dan aksiomatik (epistemologi). Al-Ghazali dalam hal ini berkesimpulan, bahwa instrumen epistemologis tersebut adalah intuisi (Al-Dzauq).

Pembicaraan mengenai “instrumen” apakah yang bisa diandalkan oleh manusia untuk memperoleh pengetahuan (kebenaran) itu di dalam Ilmu Fisafat masuk ke dalam kajian epistemologi. Sebenarnya ada tiga kajian besar dalam Ilmu Filsafat; (1) Ontologi; (2) Epistemologi; dan (3) Aksiologi. Adapun artikel ini, akan lebih memfokuskan pembahasannya kepada wilayah epistemologi saja. Secara bahasa, epistemologi terdiri dari dua kata yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (ilmu). Adapun dalam istilah filsafat, epistemologi adalah sebuah istilah bagi ilmu yang mengkaji tentang sumber-sumber pengetahuan termasuk memberikan jawaban atas pertanyaan darimana dan bagaimana pengetahuan itu diperoleh (Batubara, 2015 : 33).

Filsuf Barat dan filsuf Islam telah memiliki konsep yang beragam mengenai epistemologi tersebut, termasuk Al-Ghazali. Sebelum masuk kepada konsep epistemologi Al-Ghazali, akan dijelaskan terlebih dahulu biografi singkat beliau. Nama lengkap beliau adalah Muhammad Ibn Ahmad Al-Ghazali (1056-1111 M). Ia mempelajari filsafat secara otodidak dengan jalan menelaah karya-karya para filosof; Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Miskawaih. Al-Ghazali sangat kental dengan warna skeptisisme (keraguan) sehingga ia meragukan segala sesuatu kecuali satu hal, yaitu bahwa ia sedang dalam keadaan ragu. Warna inilah yang kemudian juga berimbas kepada konsep epistemologinya.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa yang dimaksud pengetahuan itu harus a priori dan aksiomatik (artinya kebenaran itu harus tidak terbantahkan, seperti: 1 ditambah 1 sama dengan 2). Untuk mendapatkan pengetahuan yang seperti ini, maka manusia harus menggunakan “instrumen” yang disebut dengan Al-Dzauq (intuisi). Menurut Al-Ghazali, Al-Dzauq lebih tinggi derajatnya (tingkat keterpercayaannya sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan) daripada akal. Contoh dari cara kerja Al-Dzauq itu adalah seperti ketika Nabi mendapatkan wahyu atau seperti manusia ketika mendapatkan ilham. Artinya apa yang diperoleh para nabi dan manusia; baik itu wahyu ataupun ilham melalui “instrumen” Al-Dzauq tadi, maka itu adalah pengetahuan sejati yang tidak ada keragu-raguan lagi akan keaksiomatikan dan ke-a priori-annya.

Al-Ghazali berpendapat bahwa Al-Dzauq adalah satu-satunya “instrumen” yang dapat diandalkan oleh manusia ketika ingin mencari dan mendapatkan pengetahuan di muka bumi ini, bukannya akal dan bukan pula indera. Sebab, keduanya (akal dan indera) masih memiliki kelemahan untuk dijadikan “instrumen” dalam memperoleh pengetahuan yang aksiomatik dan a priori. Kelemahan akal misalnya, dapat dibuktikan dengan sebuah fenomena banyaknya aliran-aliran yang bertahan dengan dalil-dalil akal mereka masing-masing. Bahkan akal mereka itu sendiri tidak mampu untuk menyatukan satu pengetahuan yang benar. Dalam hal ini, artinya akal tidak mampu membawa manusia kepada kebenaran yang objektif. Begitu pula dengan indera manusia juga lemah. Hal ini dibuktikan, ketika mata manusia melihat bintang di langit, mata menyimpulkan bahwa ukuran bintang itu lebih kecil dari bumi. Padahal bintang itu lebih besar daripada bumi. Dari dua misal yang dimajukan oleh Al-Ghazali ini, dapatlah dipahami bahwa baik akal maupun indera memiliki kualitas yang lebih rendah dibandingkan Al-Dzauq dalam konteks sebagai “instrumen” untuk memperoleh pengetahuan.

Demikianlah pandangan Al-Ghazali tentang epistemologi. Dalam perkembangannya, pemikiran Al-Ghazali telah mendapatkan kritikan dari berbagai ahli pikir lainnya. Kritikan itu muncul sebab dengan meyakini Al-Dzauq sebagai “instrumen” untuk mencapai pengetahuan, itu sama saja dengan mengatakan tidak semua manusia mampu untuk mendapatkan pengetahuan. Sebab Al-Dzauq (intuisi atau ilham) hanya diberikan oleh Allah SWT kepada manusia tertentu saja. Pemikiran Al-Ghazali ini dikhawatirkan akan menggiring kepada pemahaman ekslusifitas dalam mencari pengetahuan, yang padahal mencari pengetahuan itu sangat inklusif bagi semua manusia.

About Ariyandi Batubara 6 Articles
Penulis dan Pembicara Filsafat Kontak: HP/WA 0852 27574516 E-mail: batubaraariyandi@rocketmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply