ISLAM DI ANTARA NEGARA DAN CIVIL SOCIETY

Sebagai mantan saudagar besar dan keturunan bangsawan kaya raya, Umar bin Khattab ra menjalani hidup yang sangat sederhana setelah ia menerima Islam dengan sepenuh hatinya. Bahkan, begitu prihatinnya, ia hanya memiliki dua setel baju yang ia kenakan sehari-hari, juga saat ia bertindak sebagai khalifah. Tapi, satu kali, ia mendapat teguran dari seorang jelata saat ia menjalani blusukan yang menjadi tradisi pemerintahannya. Ya, Umar, kami hidup sengsara hanya dengan satu kain melapisi tubuh kami sepanjang hari. Sementara kamu berpakaian pagi hari dan menemui kami sore hari dengan pakaian yang lain lagi. Sang khalifah tersentuh oleh kritik itu dan berjanji akan memperbaiki diri. Namun, selang beberapa lama, Umar kembali mendapat kritik dalam ajang serupa. “Wahai Umar, bagaimana kamu memimpin kami, sementara kamu tiga hari menemui kami lalu sehari kamu menghilang tanpa kami ketahui.” Umar tersenyum malu mendengar teguran itu. Ia lalu menjelaskan , “Ya, saya harus minta maaf kepada saudara. Saya berbuat begitu karena tiap hari keempat saya harus mencuci baju yang saya kenakan dan menunggunya seharian hingga kering dan dapat saya pakai kembali. Itu sebabnya saya sehari tidak bisa menjumpai saudara.”

Ah, Umar, apa yang dapat kami pelajari dari ceritamu yang luar biasa itu? Cerita yang tak Cuma satu dua, menggambarkan pemimpin yang berjiwa halus, teramat sederhana dan begitu prihatinnya pada nasib keseluruhan rakyatnya. Pada saat bersamaan, ia begitu keras, tegas dan tak pandang bulu saat menghadapi musuh agama dan negara atau ketika menerapkan hukuman pada tiap pelanggaran. Kita pun ikut prihatin sedalam-dalamnya saat menyadari betapa kita tidak berhasil menemukan pemimpin formal kita, dari tingkat terendah hingga tingkat tertinggi, yang walau tidak harus berlaku sikap sama dengan khalifah Umar, tapi setidaknya mendapatkan inspirasi. Memimpin itu sebuah keprihatinan, bukan sekedar sukses apalagi kegembiraan. Satu kesadaran yang bertentangan dengan setiap “pesta” miliaran-triliunan rupiah semasa pemilihan atau pasca terpilihnya seorang pemimpin.

Wacana hubungan negara dan masyarakat selalu menarik untuk dibincangkan karena di antara keduanya terjadi interaksi dan tarik menarik yang dapat mempengaruhi format dan corak perpolitikan suatu negara. Jika dalam dialektika itu, posisi negara terlalu dominan, posisi masyarakat akan melemah sehingga berimbas pada terbentuknya format politik yang lebih otoritarian dan sentralistis. Sebaliknya, jika masyarakat yang terlalu dominan, peran negara tereleminasi sehingga negara tidak mempunyai kemampuan dalam melaksanakan fungsinya secara optimal sebagai pencipta tertib social dan kesejahteraan, bahkan terjadi anarki. Oleh karena itu, di antara keduanya harus ada kesediaan untuk mencari titik temu agar tercapai keseimbangan sehingga keduanya dapat saling control dalam melaksanakan perannya serta menciptakan tujuan bersama. Upaya menemukan titik keseimbangan itu harus difasilitasi dalam ruang terbuka dan demokratis yang memungkinkan terjadinya proses trial dan error.

Bagaimanapun negara merumuskan dirinya, ia tidak dapat terlepas dari peran dan tekanan di luar dirinya yang menjadi kekuatan pengimbang, yaitu masyarakat sipil (civil society). Hal ini karena civil society mempunyai watak dinamis, terbuka dan non utopis. Civil society menurut Asrori S. Karni (2000), secara otomatis membuatnya bersifat terbuka atas berbagai alternative, baik dari alternative dari agama, aliran pemikiran, mazhab filsafat, maupun pengalaman praksis demokrasi di kawasan tertentu. Dinamisme dan keterbukaan civil society juga bersifat realistis dan berpijak pada landasan historis dan bukan pada konsep kemasyarakatan yang mengawang.

Fenomena politik Islam pasca keruntuhan rezim Orde Baru menunjukkan revitalisasi setelah sebelumnya mengalami masa-masa sulit dengan berbagai represi dan peminggiran yang intensif baik selama Orde Lama maupun Orde Baru. Indikasi kebangkitan itu setidaknya ditandai dengan maraknya partai politik Islam serta terjadinya mobilisasi vertical tokoh-tokoh Islam yang menduduki posisi strategis di lembaga kenegaraan. Fenomena menarik era Reformasi ini adalah munculnya atau menguatnya kekuatan-kekuatan civil society keagamaan yang berskala global dan lintas negara, bahwa mereka tidak berhutang budi atau terikat dengan kekuatan partai politik formal yang berbasis di Indonesia, melainkan kelanjutan dari gerakan atau organisasi Internasional, khususnya di Timur Tengah. Mereka terus bergerak semakin menarik dan mendapat dukungan luas dari kalangan muda terdidik. Beberapa organisasi itu adalah:

Pertama, Jemaat Tablig, yaitu gerakan dakwah dari mesjid ke mesjid yang didirikan Maulana Ilyas dari India. Dalam hal politik, mereka sebenarnya cenderung apatis dan menghindar, meskipun mereka bersikap melakukan politik para nabi dengan mengatakan, “Jemaat Tablig melakukan politik nabi-nabi. Menurut mereka, tidak ada satu nabi pun yang diutus Allah untuk menggantikan Dia jadi raja, tetapi yang ada di masyarakat, bekerja di masyarakat untuk mengajar iman dan takwa. Setelah itu Allah yang mengubah. Setelah ada ketaatan, baru Allah ubah. Ia juga mengatakan bahwa Khilafah Islamiyah itu cita-cita setiap gerakan Islam. akan tetapi, itu baru terwujud jika umat Islam sudah benar. Khilafah di zaman nabi datangnya setelah umat Islam itu benar. Kalau umat Islam belum benar, takkan datang masa seperti itu.

Kedua, Hizbut Tahrir berbeda dengan gerakan Islam lainnya, Hizbut Tahrir terang-terangan memproklamirkan gerakannya sebagai partai politik Islam yang dakwahnya berpijak di atas keharusan mengembalikan Khilafah Islamiah. Partai atau gerakan ini didirikan oleh Syekh Taqiyuddin Nabhani pada 1952 di kawasan bergolak, Timur Tengah. Meskipun sementara kalangan menganggap aktivitas Hizbut Tahrir tergolong rahasia, menurut para aktivitasnya yang ada di Indonesia, Hizbut Tahrir bukanlah organisasi rahasia. Di berbagai wilayah dakwahnya, Hizbut Tahrir beraktivitas dan berjuang secara terbuka untuk membina umat dan mengkoreksi penguasa agar mereka mau menerapkan Islam. Kenapa Hizbut Tahrir lebih menekankan aspek politik dari pada aspek lainnya? Karena Islam itu sebenarnya politik. Dalam arti, politik adalah ri’ayah syu’unil ummah atau pengaturan urusan kemaslahatan umat. Jadi, bukan seperti terminology yang berkembang di masyarakat untuk merebut kekuasaan, menjegal lawan dan sebagainya. Gerakan Hizbut Tahrir yang kini mempublikasikan wadah gerakannya di Indonesia dengan nama Syabab Hizbut Tahrir, secara tegas menekankan sasaran dakwahnya adalah negara Islam dan khilfah Islam. akan tetapi, langkah-langkah perjuangan Hizbut Tahrir jauh dari aspek kekerasan. Langkah-langkah itu adalah, pembinaan pemikiran Islam yang disebut shira’ul fikri. Selain itu juga melakukan perjuangan politik untuk mengontrol pemerintah atas kebijakan-kebijakan mereka. Jika ini dapat berlangsung dengan baik, dalam arti masyarakat telah memahami indahnya Islam, tahap selanjutnya adalah pengambilalihan kekuasaan. Meskipun Hizbut Tahrir lebih menekankan aspek politik tidak berarti Hizbut Tahrir aktif dalam kancah pemilu. Karena mereka beranggapan bahwa Hizbut Tahrir memang tidak menjadikan pemilu sebagai sarana memperjuangkan Islam.

Ketiga, Dakwah Salafiyah yang dapat dikatakan sebagai pelopor gerakan-gerakan pembaruan yang muncul menjelang masa-masa kemunduran dan kebekuan pemikiran di dunia Islam. dakwahnya menyerukan agar kaidah islam dikembalikan pada asalnya yang murni. Sebagian orang menyebut dakwah ini dengan nama Wahhabi, karena di nisbahkan pada nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahhab dari Saudi. Pusat gerakan dakwah Salafi adalah para ulama. Pada dasarnya, salafiyyun adalah orang-orang yang senantiasa berjuang agar bisa meneladani para salafus-shalih, sehingga poros gerakan salafiyah adalah apara ulama. Segala kasus yang mencuat dalam berbagai persoalan , dikonsultasikan kepada para ulama.

Keempat, Syi’ah, berbeda dengan di negara basisnya di Iran, aroma politik mazhab ini sangat kental untuk menegakkan syariat Islam sebagaimana diajarkan para Imam Ahlul Bait. Di sini mazhab ini tidak menunjukkan spirit politiknya. Bahkan, aktivitas mereka lebih banyak dalam aktivitas ritual dalam peringatan hari suci mazhab ini. Mazhab ini terutama berkembang setelah terjadinya revolusi Islam Iran.

Berbeda dengan konsep awalnya bahwa civil society di Eropa bersifat liberal, kapitalis, rasional, individual dan sekuler. Di Indonesia konsep masyarakat sipil ini diarahkan sebagai politik untuk memberdayakan masyarakat dalam berhadapan dengan negara. Bahkan lebih dari itu, civil society dijadikan sebagai panasea untuk segala penyakit. Bahkan, oleh sebagian aktivitis gerakan Islam, dihubungkan dengan muatan ideology yang kental. Hal ini terlihat dengan penerjemahan civil society sebagai masyarakat madani, rujukan historis pada masa awal nabi dalam membentuk masyarakat dan negara Islam. Dengan demikian, gerakan-gerakan Islam kemudian mendapatkan darah segar konsepsional dan acuan historis yang menjustifikasi eksistensi mereka dalam menghadapi dominasi negara.

Penulis berandai-andai jika aktivis gerakan Islam di Indonesia tidak terkotak-kotak maka diibaratkan seperti sebatang lidi tidak akan ada artinya bagi tumpukan sampah yang menggunung. Sebatang lidi tidak akan membersihkan sampah di sekeliling kita. Bahkan bukan tidak mungkin sebatang lidi akan patah-patah bila dipaksa menjadi alat pembersih. Namun tidak demikian, bila batangan-batangan lidi itu dikumpulkan menjadi satu lalu diikat di pangkalnya. Tenaga yang kecil dari sebatang lidi akan menjadi kekuatan yang besar bila menyatu dalam satu kesatuan yang terikat kokoh dengan kebersamaan. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, itulah filosofinya.

Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para muslim yang terikat oleh kesamaan akidah.
Persatuan antar umat Islam dan ukhuwah islamiyyah merupakan salah satu prinsip yang amat mendasar dalam agama kita. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memotivasi kita untuk merealisasikannya dalam sabdanya,
“كُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا! الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ”.
“Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzaliminya, menterlantarkannya dan menghinanya. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.
Persatuan akan menghasilkan begitu banyak manfaat. Persatuan akan membuahkan kekuatan, persatuan akan menumbuhkan ketenangan batin, persatuan akan memunculkan solidaritas, persatuan akan membangun empati dan kepedulian sosial dan masih banyak buah manis lain yang akan dihasilkan oleh persatuan.
Karenanya, begitu banyak ibadah dalam agama kita yang disyariatkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Dari ibadah yang bersifat harian, seperti shalat lima waktu, mingguan semisal shalat jum’at, hingga yang bersifat tahunan seperti idhul fitri, idhul adha serta pelaksanaan ibadah haji.
Mengapa berjama’ah? Antara lain adalah dalam rangka merealisasikan persatuan dan meretas kebersamaan serta kasih sayang di antara kaum muslimin. Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam membuat sebuah perumpamaan yang sangat indah, tentang bagaimana seharusnya kaum muslimin bersaudara di antara mereka,
“مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ؛ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى”.
“Perumpamaan kaum mukminin dalam ukhuwah, kasih sayang dan kepedulian sesama mereka bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh bagian tubuh akan bersolidaritas dengan ikut begadang dan merasa sakit”. HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu.
Subhanallah, alangkah indahnya andaikan perumpamaan tersebut benar-benar dibumikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

About Yulfi Alfikri 11 Articles
Dosen Agama Islam pada STITAD AL-Azhar Jambi

Be the first to comment

Leave a Reply