GAGASAN PENULIS

JANGAN TERPROVOKASI DUGAAN PENISTAAN LAFAL “ALLAH” PADA HIASAN NATAL DI HOTEL NOVITA JAMBI

Dugaan penistaan Agama Islam kembali terjadi. Kali ini terjadi di Hotel Novita Jambi pada tgl 23 Desember 2016 yang berakibat pada penutupan Hotel Novita oleh Walikota Jambi. Unsur dugaan penistaan itu berdasarkan bukti fisik di mana terdapat rangkaian hiasan natal berupa sebuah miniatur Gereja yang diapit oleh Pohon Natal. Dugaan penistaan itu lantaran di bawah miniatur Gereja tersebut, tepatnya di halamannya (di tanah) terdapat lafal “Allah” dalam bingkai – masih dugaan – tapak kaki. Dari beberapa foto yang tersebar di media massa, tampak jelas bahwa tindakan tersebut bermuatan simbolik keagamaan. Para pelaku sepertinya hendak memainkan isu-isu konflik keagamaan dengan membuat kesan penistaan secara simbolik, yang melibatkan Islam dan Kristen atau Umat Islam dan Umat Kristiani. Pembaca dapat melihat secara langsung foto tersebut di bawah ini: (sumber gambar: http://www.tren.co.id/)

Para pelaku provokasi ini besar kemungkinan ingin memanfaatkan hangatnya isu-isu penistaan agama sebagaimana yang terjadi di Jakarta yang diduga dilakukan oleh Basuki Cahaya Purnama atau Ahok. Mereka hendak menarik isu-isu yang masih hangat tersebut dalam konteks Jambi dan berharap tema-tema penistaan agama ini terus menjadi komoditas yang terus dapat dinikmati. Mereka memiliki kesimpulan bahwa Umat Islam begitu mudah terprovokasi oleh isu-isu formalitas seperti itu. Mereka berharap bahwa atas nama keyakinan, Umat Islam akan terprovokasi dan melakukan tindakan kriminal dan sebagainya.

Saya kira mereka sedikit banyak telah menyaksikan fenomena serangan mematikan pada 7 Januari 2015 terhadap Kantor Majalah Charlie Hebdo Perancis hingga menewaskan beberapa Kartunis yang menggambarkan penistaan terhadap Nabi Muhammad. Demikian juga keriuhan akibat protes Dunia Islam atas surat kabar Jyllands-Posten sebagai surat kabar terbesar di Denmark di mana pada 30 September  2005 mengeluarkan versi kartun Nabi Muhammad yang terkesan menistakan. Dahulu juga pada 1997 Produsen Sepatu Nike memproduksi sepatu yang di bagian belakangnya bertuliskan lafal Allah hingga memancing reaksi Umat Islam dunia. Para pelaku penistaan lafal Allah di Jambi ini setidaknya berharap bahwa Umat Islam akan melakukan reaksi sebagaimana layaknya Demonstrasi Umat Islam di Jakarta yang telah terjadi tiga kali.

Menurut Penulis, kejadian ini merupakan provokasi murahan yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan besar kemungkinan ingin menciptakan suasana kacau. Adapun target dari penciptaan suasana kacau ini setidaknya dapat diprediksi ke dalam tiga target; pertama kekacauan untuk perayaan Natal tahun ini, kedua kacau dengan target memprovokasi Umat Islam untuk bereaksi dan melakukan tindak kekerasan dan perusakan fasilitas umum, dan ketiga adanya keinginan untuk mempertemukan Umat Islam dengan isu-isu konflik hingga terus memposisikan Umat Islam sebagai identik dengan kekerasan. Besar kemungkinan kekacauan ini akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk meraup keuntungan sesaat.

Pada target pertama yakni kekacauan Natal, isu-isu yang mengandung SARA merupakan isu strategis untuk memunculkan konflik antar umat beragama. Masyarakat kita masih berfikir face to face dalam arti bahwa kekacauan yang menimpa perayaan Hari Besar Agama atau peribadatan akan dipandang sebagai tindakan yang dilakukan oleh pemeluk agama lainnya. Pola pikir masyarakat seperti ini yang hendak dimainkan oleh para provokator penista lafal Allah. Mereka berharap bahwa pelaku tindakan penistaan ini dilakukan oleh Umat Kristiani.

Pada target kedua yakni reaksi dan tindak kekerasan, para provokator berharap bahwa penistaan lafal Allah ini akan mengundang reaksi keras Umat Islam, baik dalam bentuk demonstrasi sebagaimana di Jakarta, dan lebih-lebih tindak kekerasan dan anarkis. Provokasi akan berhasil manakala elemen masyarakat kelas menengah ke bawah – dalam konteks pemahaman keagamaan – melakukan sebuah gerakan protes dan menyalurkan amarah dalam bentuk tindakan kekerasan.

Adapun terget ketiga merupakan target yang lebih bernilai image atau pencitraan. Melalui penistaan melalui media yang bersifat simbolis ini, para provokator menginginkan agar Umat Islam secara intens “Identik” dengan kekerasan. Target pencitraan ini bertujuan merusak citra Islam dan Umat Islam dengan terus-menerus menghubungkan Islam dengan kekerasan dan intoleransi. Jika terjadi kekerasan, para provokator berharap bahwa kekerasan itu dilakukan dengan atas nama agama sehingga tentu saja dunia akan melihat siapa pelaku kekerasan dan agama apa yang mereka anut. Namun demikian, target ini akan berhasil manakala Umat Islam menyikapi isu ini dengan gegabah dan kurang mengendalikan diri.

Akan tetapi masyarakat Jambi memiliki tipologi yang berbeda sehingga relatif aman atau tidak terprovokasi (setidaknya sampai artikel ini ditulis). Sejak dahulu masyarakat Jambi telah terbiasa hidup secara kosmopolit di mana di Jambi terdapat berbagai macam agama, suku, dan kebudayaan. Kejadian di Hotel Novita tersebut terasa janggal untuk masyarakat Jambi yang memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Menurut penulis, Umat Islam tidak perlu terprovokasi yang dapat menggiring mereka ke dalam medan konflik dan tindakan intoleransi dengan komponen masyarakat lain. Tetapi secara tegas, persoalan ini perlu segera disikapi oleh aparat keamanan untuk mengungkap pelaku dan motif tindakan ini.

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!