ORIENTALISME

JOSEPH SCHACHT DAN WACANA KRITIK HUKUM ISLAM

[toc title=”Pembahasan dalam Artikel ini Meliputi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Sekilas Biografi

Joseph Schacht lahir pada 15 Maret 1902 di Ratibor-Polandia. Berasal dari keluarga beragama dan terpelajar. Ayahnya adalah seorang Katolik Roma yang bekerja sebagai guru untuk siswa tuli dan bisu. Pada 1943 Schacht menikah dengan seorang wanita Inggris bernama Louise Isobel Dorothy. Pendidikannya dimulai di kampungnya di Ratibor. Setelah mempelajari bahasa Ibrani kepada seorang Rabi, dia pergi ke Universitias Breslau (Wroclaw) dan Leipzig di mana dia mempelajari filologi klasik dan Semit serta Teologi. Pada 1922 dia memenangkan hadiah universitas karena artikelnya tentang Perjanjian Lama. Tahun berikutnya tepatnya 1923, Schacht memperoleh gelar Doktornya dengan predikat summa cumlaude.

Schacht dikenal sebagai pribadi yang disiplin dan bersungguh-sungguh dan tampak sebagai guru yang berkualitas dari segi bahasa maupun retorika. Bahkan dalam forum-forum ilmiah, dia selalu tampak mendominasi. Pada 1927 Schacht telah dipromosikan sebagai Guru Besar dan merupakan Guru Besar termuda di Jerman kala itu. Pada 1930, Schacht melaksanakan visiting Professor untuk kajian bahasa Semit dan Hukum Islam. Secara tidak sengaja, karena lamanya tinggal di Timur yakni 9 tahun, Schacht menjadi mahir dalam bahasa Turki dan Arab. Pada 1939, Schacht pindah ke Inggris dan bekerja sebagai Peneliti dan Spesialis Ketimuran alias Orientalisme.

Schacht merupakan seorang Orientalis yang tertarik untuk mempelajari Islam khususnya dalam seluk-beluk Hukum Islam dan tradisi kenabian. Karyanya cukup banyak, akan tetapi kontribusinya yang paling penting adalah studinya tentang Hukum Islam. Schacht melakukan studinya tentang perkembangan teori-teori hukum Islam khususnya pada masa awal pertumbuhan hukum Islam. Menurut Schacht, beberapa ilmuan yang mempengaruhinya antara lain; ammens, Gotthelf Bergstrasser, Snouck Hurgronje, dan Ignaz Goldziher.

Pemikiran Kontroversial Schacht

Studi Schacht tentang hukum Islam menuai kontroversi di kalangan Islamis. Kontroversi itu terkait dengan pandangan Schacht yang menyatakan bahwa hampir keseluruhan produk hukum Islam termasuk sumber hukumnya dihasilkan dari proses perkembangan sejarah Ummat Islam. Pandangan ini menuai kontroversi dan tanggapan serius dari kalangan Islamis. Hampir mirip dengan Goldziher yang studinya bersifat kritik terhadap hadits (baca artikel: Ignaz Goldziher dan Kritik Hadits), Schacht pada wilayah yang sama juga melakukan kritik terhadap hadits. Malah menurut Schacht, dia hanya menegaskan dan mengelaborasi teori utama yang telah digagas oleh pendahulunya yakni Goldziher.

Berikut sebagian kecil dari pemahaman Schacht seputar hukum Islam yang sangat kontroversial dan mengundang respon dari berbagai ulama Islam.

  • Nabi tidak memiliki tujuan membuat sebuah sistem hukum baru.
  • Madzhab hukum klasik secara palsu melahirkan informasi terperinci tentang Nabi untuk mempertahankan otoritas mereka dalam hukum.
  • Banyak tradisi hukum dari Nabi yang sulit untuk dapat disebut asli.
  • Sebagai contohnya ketika Schacht menyatakan bahwa sistem sanad dalam kajian hadits tidak memiliki nilai sejarah. Menurut Schacht sistem sanad hanya dibuat-buat oleh ulama yang secara bohong menghubungkan doktrin mereka dengan otoritas pada masa-masa awal Islam.

Schacht mendefinisikan sunnah sebagai adat istiadat atau kebiasaan dalam masyarakat yang diturunkan secara turun temurun melalui tradisi lisan. Berdasarkan persepsinya ini, maka Schacht menyatakan bahwa sunnah Nabi Muhammad saw juga tidak lebih dari adat istiadat masyarakat Arab pra-Islam. Bahkan menurut Schacht, hukum Islam memiliki akarnya dalam masyarakat Arab pra-Islam. Bagi Schacht, sunnah merupakan living tradition – dari madzhab hukum Islam – yang berarti kebiasaan atau praktek tradisi yang disepakati. Dengan demikian, fuqaha ahli hukum Islam oleh Schacht didefinisikan sebagai orang yang menerapkan dan pada saat yang sama mengembangkan al-sunnah sebagai norma hukum adat yang bertahan di antara warga masyarakat.

Tanggapan Terhadap Schacht

Pemikiran kontroversial Schacht mengundang tanggapan dan kritik balik kepada Schacht. Adalah M. Mustafa al-Azami yang secara sistematis menanggapi pemikiran Schacht.. Secara umum Azami menilai bahwa Schacht.telah berbuat sewenang-wenang dalam menggunakan sumber acuan. Metode Schacht.dinilai terlalu over generalize sehingga terdapat banyak inkonsistensi di sana-sini.

Argumen Schacht tentang posisi Sunnah Nabi di masa klasik hanya didasarkan kepada satu madzhab yakni Madzhab Syafi‘I, dan itupun secara lebih spesifik diangkat dari situasi di mana Syafi‘i terlibat perdebatan dengan lawan-lawannya. Mengambil hanya dari fenomena Madzhab Syafi‘I dan pada situasi demikian tentu saja membuat metode Schacht tidak dapat dipercaya.

Di sisi lain, tanggapan atas Schacht juga datang dari James Coulson, Menurut Coulson, pernyataan Schacht bahwa Muhammad tidak bertujuan menciptakan hukum baru sulit dibenarkan. Muhammad senantiasa berurusan dengan masyarakatnya, semisal dalam persoalan hukum keluarga. Tentu saja Muhammad harus memberikan fatwa hukum atau ketentuan agama sejauh menyangkut persoalan yang membutuhkan jawaban yang otoritatif. Di sinilah kemudian terkesan bahwa pandangan Schacht kurang akurat.

Wael Hallaj lebih menitikberatkan teori orientalisme sebagai bahan kritiknya terhadap Schacht. Buku The Origin karya Schacht. Tidak berbeda dengan kajian-kajian orientalisme sebelumnya yang terus-menerus menggunakan style hegemoni. Kajian Schacht dinilai merugikan institusi kajian Barat karena kajian ini tidak interaktif dan hanya menunjukkan kesewenang-wenangannya. Akibatnya, kajiannya menjadi tertutup dan berakibat sifatnya menjadi dangkal. Coba bayangkan, apa betul di masa Nabi tidak ada proses pembentukan Hukum Islam karena Schact menilai bahwa Hukum Islam mulai ada pada masa Imam Syafi’i. semua ini dinilai Wael Hallaj sebagai kedangkalan kajian Orientalisme.

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

  1. eli guspiya says:

    pak, selang waktu kemunculan antara joseph schacht, goldziher, dan snock. bersamaan atau tidak, kenepa pandangannya terhadap ajaran agama islam bisa berlainan.
    apakah orang ini satu sekutu?

  2. dari pemaparan di atas dikatakan bahwa beberapa ilmuan yang mempengaruhi schacht yaitu:ammens,gotthelf bergstrasser,snouck hurgronje dan ignaz goldziher. jadi,apa bisa dikatakan bahwa pemikiran dan tujuan schacht itu sama dengan kelima para ilmuan tersebut dan selanjutnya bagaimana pandangan para ulama islam menangapi schacht yang mengatakan bahwa nabi itu memalsukan mazhab2 dan bagaimna cara mengalahkan pendapat schacht tersebut??

  3. muhammad nur says:

    kenapa schacht lebih tertarik mempelajari seluk-beluk hukum islam, tidak seperti golziher yang mengomentari tentang hadist,apakah dia ingin tampil beda dengan para orientalis yang lain?

  4. menurut schacht sistem sanad hanya dibuat-buat oleh ulama secara bohong menghubungkan doktrin mereka dengan otoritas pada masa awal-awal islam. yang ingin saya tanyakan, mengapa dan apa alasannya???

  5. eli guspiya says:

    Jawaban untuk muhammad nur. Karena schacht memang pandai berbica dan ia sudah bergelut atau mendalami hukum islam itu sejak pada masa awal pertubuhan hukum islam. jadi ia sudah banyak mengetahui tentang hukum dalam islam, maka dari pada itu lebih mengkeritik islam di bagian hukumnya, bukan hadist atau hal yang lainnya.

  6. Lili Yudeliani says:

    di atas dipaparkan bahwa schacht pergi ke universitas breslau dan leipzig untuk mempelajari filologi klasik, semit serta teologi. apa yang membuatnya tertarik untuk mempelajari ilmu filologi atau ilmu yang membahas tentang sumber-sumber sejarah. sedangakan diatas juga di sebutkan schacht juga tertarik untuk mempalajari hukum islam, dan mengapa pemahamannya tentang hukum islam berbeda sehingga menimbulkan kontroversi di kalangan islami. apakah ia belajar dengan orang yang salah atau apa??

  7. mitrianto says:

    dari artikel diatas mengatakan bahwa schacht itu mengatakan bahwa hukum islam itu adalah bersifat palsu dan penuh dengan kebohongan, nah lalu kalau dia berani mengatakan hukum islam itu palsu terus bagaimana hukum yang sebenarnya menurut pandangan dia ? sedangkan hukum didalam islam itu kan sudah di jelaskan didalam al-qur’an dan al hadist, jadi dengan tidak sengaja dia mengatakan hukum islam itu penuh kebohongan berarti sama saja dengan dia menghina agama dan ajaran islam ? jelaskan !

  8. Mistri Maya Albanjari says:

    dari apa yang telah dipaparkan di atas dan juga beberapa pertanyaan teman-teman, saya ingin ikut nimbrung dalam diskusi ini, sekdar mengungkapan tanggapan dan menyampaikan pendapat saya, yang pertama kepada saudari eli# menurut saya mereka tidaklah tidaklah bersamaan naum, beriringan seiring munculnya para orientalis-orientalis yang semakin banyak, dab bagi saya mereka memang bersekutu dalam melakukan pengkolonialisme dunia Timur, atau yang lebih dikenal dengan Islam, mereka ingin menjajah dunia Timur bukan Islam saja yang mereka keritik dan mereka pelajari namun budaya dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia Timur mereka pelajari, karena mereka ingin menguasai dunia Timur dan menyebarluskan ajaran Kristani mereka. dalam hal pemikiran mereka jelas akan terdapat perbedaan karena mereka itu ingin menjatuhkan Islam, mereka sesalu mencari celah dalam Islam untuk meruntuhkannya, jadi mereka hanya sekutu dalam tujuan mereka yakni untuk mengkolonialisasi Timur, sedangkan pemikiran tersebut muncul dari emikiran mereka berdasarkan ilmu yg mereka miliki dan mereka saling mendukung pendapat para orientalis, agar masalah yang kecil dibesar-besarkan terus menerus, dan menguatkan pendapat orientalis yang terdahulu maupun yang terkemudian.

    • eli guspiya says:

      tapi, ada sebagian orientalis tidak satu pendapat.
      yang mana ia mengakui bahwa agama islam lah yang paling bisa diterima oleh akal, bagaima bisa, hal tersebut terjadi,.
      saudaari maya

      • Mistri Maya Albanjari says:

        memang demikian saudari eli, orientalis itu sebenarnya tidak semuanya, tapi kebanyakan orientalis itu yang banyak dapat dukungan-dukungan dari gereja mereka memiliki tujuan yang sama dalam mengkolonialis dunia Timur, dan bagi orientalis yang Obyektif mereka akan membarkan bahkan memungkinkan mereka masuk Islam.

  9. Mistri Maya Albanjari says:

    pendapat saya dari pertanyaan saudara supanti#menurut saya pemikiran mereka memiliki keselarasan dan saling menguatkan satu sama lain karna tokoh yang mempengaruhinya memiliki pandangan seperti itu, maka ketika itu Schacht itu tidak jauh pendapat dan juga pemikirannya, yang mana para orientalis itu memiliki tujuan yang sama yakni mengkolonial dunia Timur dan semua yang berkaitan dengan Dunia Timur. dan kaum muslimin tidak tinggal diam, dari dunia Timur juga ada yang mepelajari Dunia Barat yang disebut dengan Oksidentalis. di sana mereka mereka menyanggah pendapat-pendapat para orientalis tersebut. silahkan anda mempelajari dan membaca kembali mengenai oksidentalisme.

  10. Mistri Maya Albanjari says:

    kepada saudara Muhammad nur# pendapat saya mengenai Schacht itu lebih tertarik pada kajian hukum Islam selain apa yang di katakan oleh saudara Eli, ia juga pastinya mencari celah lain yang belum di gali oleh para orientalis sebelumnya, agar semakin meyakinnkan orang bahwa Islam itu bukanlah suatu kebaikan tapi merupakan rekayasa manusia. dan meruntuhkan hukum Islam yang telah ada, jika Ignazh berusaha menjatuhkan Islam dengan menyerang Hadits, maka Schacht menyerang hukum yang di hasilkan oleh hadits tersebut, dengan menyebutkan beberapa alasan yang baginya bisa diperpegangi dan juga logis. untuk mengalihkan perhatian orang Islam dan kemudian berpaling dari Islam itu sendiri.

  11. Mistri Maya Albanjari says:

    menanggapi dari pertanyaan saudari Rika# menurut pendapat saya, ia sengaja mengatakan demikian menggembor-gemborkan bahwa hadits itu adalah rekayasa karena ia ingin orang Islam tidak lagi percaya terhadap Hadits, sedangkan didalam Islam itu memiliki pedoman hukun yang disepakati yakni Al-Qur’an,Hadits,Ijma’ dan qiyas, yang mana semuanya telah disepakati nah jika para kaum Muslimin tidak percaya lagi dengan Hadits yang merupakan salah satu pedoman kita maka akan Runtuhlah hukum Islam itu, mereka akan beranggapan bahwa Islam itu dari dasar hukum yang tidak jelas tidak akan bisa diperpegangi jika demikian.

  12. Mistri Maya Albanjari says:

    Yuli adelia, menurut saya kotroversi yang terjadi tersebut memang sengaja mereka lakukan bukan hanya Schacht saja, namun para orientalis yang memang tidak senang terhadap islam apalagi para orientalis yang memang didukung penuh oleh Gereja-Gereja mereka akan terus mencari celah untuk menjatuhkan Islam.

  13. dari artikel diatas disebutkan bahwa weal hallaj seorang orientalis barat mengatakan bahwa kajian scacht dangkal sehingga kajiannya menjadi tertutup, apakah setelah dikritik schacht tetap mencari bukti bahwa hukum islam itu tidak benar, untuk lebih meyakinkan orang islam sehingga terpengaruh terhadap kajian scacht..?

  14. yevit marda yetty says:

    untuk saudari lili yudeliani.karna sejak kecil schacht sudah diajarkan tentang ilmu filologi,bahkan dikatakan schacht dulunya sudah pernah mendalami ilmu fiqih dan bahasa arab dan ketika dia belajar di universitas breslaw disana ia belajar dengan berbagai profesor dan salah satunya adalah gotther bergstrasser dialah yang membuat schacht tertarik mempelajari hukum islam, disini schacht memahami hukum islam itu dibuat- buat oleh para ulama karena schacht mengatakan pada masa nabi tidak ada hukum islam inilah yg menjadi kotroversi dakalangan islam.

  15. novi usaadah says:

    untuk saudari rika. karana schacht beranggapan sanad-sanad hanya dibuat-buat oleh para ulama yg mengatas namakan perkataan nabi SAW,hanya untuk memperkuat hukum-hukum islam yg dibuat oleh para ulama yg dianggap palsu oleh schach, dan dia menganggap bahwa pada zaman nabi tidak ada hukum-hukum islam

  16. weal hallaj adalah seorang orientalis barat yang mengkritik kajian schacht sehingga kajiannya menjadi tertutup, apakah setelah dikritik schacht tetep mencari bukti untuk meyakinkan kajiannya tersebut sehingga orang islam lebih terpengaruh terhadap kajiannya..?

  17. mitrianto says:

    jadi begini saudari maya, dari pemaparan anda tadi dapat saya ambil kesimpulan bahwa anda mengatakan kalau para orientalis itu adalah orang-orang yang ingin merusak islam, nah jadi apa mungkin semua orientalis itu tujuannya untuk menggoyahkan umat islam ? sedangkan yang saya pahami tidak semua para orientalis itu ingin merusak islam melainkan mereka ingin mengkaji lebih dalam tentang islam, lalu bagaimana menurut anda tentang hal itu ?

  18. indra saputra says:

    schacht adalah seorang orientalis yang hanya menilai islam dari segi hukum islam,tapi dia tidak mengetahui apa sih hakikat dari agama islam tsb.dan menurut saya jikalau kita ingin mengetahui suatu hakikat,dan ingin menilai sesuatu,kita harus tahu dulu hakikat sesuatu yang nilai.

  19. muhammad mursalin says:

    menurut saya schacht adalah seorang orientalis yg menilai hukum isalam hanya berdasarkan referensi dan pengetahuan yg tidak sepenuhnya dia ketahui dan kemudian dengan cepatnya dia memponis islam sebagai agama peninggalan atau sebagai tradisi lama orang arab, padahal isalm itu adalah agama yg di bawa oleh nabi muahammmad ketika di tengah keterpurukannya bangsa arab.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!