KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM ISLAM

Oleh: Wardah Nuroniyah

Ketika Islam datang, tradisi Arab saat itu secara umum menempatkan perempuan dalam posisi inferior dan sub-ordinat, bahkan dipandang sebagai beban masyarakat. Saat itu bangsa Arab memiliki kebiasaan yang merendahkan kaum perempuan seperti mengubur hidup-hidup bayi perempuan, poligami dengan belasan istri serta tidak memberi hak waris dan hak-hak lain kepada perempuan. Kedudukan perempuan seperti itu kemudian berusaha diangkat oleh Islam. Islam datang untuk mengecam penguburan bayi-bayi perempuan, membatasi poligami dan berupaya memberikan hak-hak lain baik domestik seperti hak memiliki mahar dan harta warisan maupun hak publik seperti menjadi saksi, walaupun hak-hak tersebut masih disesuaikan dengan peran sosial perempuan saat itu.

Islam pada prinsipnya menyatakan dengan tegas bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan di hadapan Allah. Derajat dan martabat seseorang di sisi Allah tidak dipandang dari perbedaan jenis kelamin, tetapi melalui amal shaleh dan tingkat ketakwaannya. Ajaran Islam yang begitu revolusioner dan liberatif saat itu memang sulit dilakukan oleh masyarakat yang memiliki budaya patriarkhi yang telah begitu mendarah daging. Semangat ajaran Islam yang berupaya meningkatkan harkat dan martabat perempuan telah dilaksanakan ketika wahyu turun dan Nabi SAW masih hidup. Namun begitu Nabi wafat, ajaran tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan tersebut lebih sulit untuk dijalankan, minimal terasa berat bagi sebagian masyarakat muslim saat itu yang telah lama berada dalam budaya patriarkhi. Hal ini tersirat dalam pernyataan Ibnu Umar mengenai adanya perubahan kedudukan perempuan dalam masyarakat setelah Islam datang ke masyarakat Arab:

“Kami pada masa Nabi SAW menghindari untuk banyak berbicara dan membahas tentang istri-istri kami (kaum perempuan) karena kami khawatir akan turun sesuatu (wahyu yang memberatkan) kepada kami. Ketika Nabi telah wafat, baru kami membicarakan dan membahas secara panjang lebar (mengenai istri-istri kami)”.

Di samping budaya patriarkhi yang terus dilestarikan, pemahaman tekstualis juga melanggengkan kedudukan sub-ordinat perempuan dalam masyarakat muslim. Teks wahyu yang begitu revolusioner dalam mengangkat harkat dan martabat perempuan pada saat diturunkan, kemudian pada masa sekarang menjadi teks yang menempatkan perempuan lebih rendah dari laki-laki apabila ditafsirkan secara tekstual. Semangat liberatif Islam terhadap harkat dan martabat perempuan pada masa sekarang kemudian kehilangan relevansinya. Pandangan yang didasarkan pada pemahaman tekstual ini merupakan pandangan mayoritas ulama dan masyarakat muslim sampai dengan sekarang. Hal ini misalnya tercermin dalam peraturan perundang-undangan yang ada di negara-negara muslim dewasa ini, khususnya undang-undang hukum keluarga (al-ahwāl asy-syakhshiyyah).

Atas dasar itu muncul beberapa pemikir muslim yang berupaya mengembalikan semangat Islam untuk menegakkan kesetaraan jender antara laki-laki dan perempuan. Para tokoh dan pemikir tersebut antara lain Fatima Mernissi, Riffat Hassan, Amina Wadud Muhsin, Ashgar Ali Engineer, Khaled Abou El Fadl dan lain-lain. Hasil pemikiran mereka biasanya tidak populer dan kurang bisa diterima oleh mayoritas masyarakat muslim. Hal ini karena mereka umumnya melakukan reinterpretasi secara kontekstual terhadap teks-teks Al-Qur`an dan As-Sunnah yang dipandang diskriminatif terhadap perempuan. Salah satu pemikir yang memiliki gagasan kesetaraan jender namun tidak banyak dibahas adalah Mahmoud Muhamed Taha (1909-1985), seorang tokoh dan pemikir dari Sudan. Ia tidak hanya mengemukakan gagasan tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan, tetapi juga mempraktekkannya secara nyata melalui organisasi yang ia bentuk, yaitu Republican Brothers. Dalam organisasi tersebut banyak perempuan yang menjadi anggotanya dan memiliki posisi serta peran yang strategis.

Mahmoud, berbeda dengan pemikir yang lain, berpendapat bahwa reinterpretasi kontekstual saja tidak cukup untuk menghilangkan ajaran diskriminasi terhadap perempuan. Menurutnya, prinsip dasar ajaran Islam adalah kesetaraan laki-laki dan perempuan, sehingga segala ajaran dan pandangan yang mengandung diskriminasi terhadap perempuan, termasuk yang terekam secara tekstual dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, merupakan ajaran temporer pada saat diturunkan yang pada masa sekarang harus diganti (mansukh) dengan ajaran-ajaran dasar yang menetapkan adanya kesetaraan laki-laki dan perempuan. Menurutnya, untuk masa kontemporer ini harus diberlakukan ayat-ayat dasar Islam (makiyyah) sebagai ganti dari ayat-ayat cabang dan temporer (madaniyyah) yang pada masa sekarang sudah habis masa berlakunya sehingga harus dinaskh.

Pemikiran Mahmoud ini unik dan berbeda dengan pemikiran-pemikiran yang ada sebelumnya, termasuk dalam mendefinisikan dan memberlakukan konsep naskh terhadap Al-Qur`an dan As-Sunnah. Pada satu sisi, ada yang memandang Mahmoud sebagai tokoh yang memiliki pemikiran rasional dan liberal, namun di sisi lain karena dia juga sebagai tokoh sufi sehingga ada yang memandang bahwa corak pemikirannya diwarnai oleh ajaran sufisme yang kental. Oleh karena itu, pemikiran Mahmoud ini menarik untuk dikaji, terutama apabila berkaitan dengan hukum Islam, karena pada dasarnya hukum Islam merupakan bidang keilmuan yang secara epistemologis mendasarkan diri pada otoritas teks (bayāni). Dengan demikian, ada sisi-sisi dialektis dalam pemikiran Mahmoud ini, yaitu antara pemikiran rasional-liberal dan sufistis yang dikaitkan dengan permasalahan hukum yang erat kaitannya dengan teks syariah. Oleh karena itu, untuk mengetahui landasan dan kerangka berpikirnya, perlu dikaji dan ditelusuri bangunan epistemologi pemikiran Mahmoud, dan juga pandangan-pandangannya tentang kedudukan perempuan dalam Islam. Kemudian setelah itu pemikrannya tersebut akan berusaha diaplikasikan dalam konteks hukum keluarga di Indonesia.

1 Comment

  1. kalau dari pemiukiran saya sendiri berpendapat bahwa memang diskriminasi terhadap perempuan memang salah satu tujuan datangnya Islam untuk mengangkat kedudukan pada masa jahiliyah yang sangat tidak manusiawi membunuh hidup-hidup anak perempuan yang seharusnya memiliki hak asainya sebagai manusia yang mesti memiliki kehidupan. dalam hal deskriminasi terhadap perempuan, menurut saya tidak perlu dengan menasakh hadits atau ayat yang berkaitan, untuk tetap menjaga apa yang telah ada namun kita mesti memahaminya lebih jauh lagi dan mengkaji hal yang semacam ini jangan secara tekstual saja, namun secara konstektual juga mesti dilakukan. seperti halnya hadits yang mengatakan”tidak akan beruntung suatu kaum apabila yang memimpin adalah perempuan. ini menurut saya juga salah satu deskriminasi terhadap wanita, jika wanita tersebut memiliki kemampuan, seharusnya tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. dan hadits ini menurut saya mesti kita fahami lebih dalam lagi, dan menurut saya hadits ini hanya seperti mendiskriminasi wanita saja dan hanya sebagai pendapat dan prediksi Rosul pada masa itu saja. dan untuk memahami hadits ini, sesuai apa yang pernah saya pelajari dan dapatkan dari guru hadits. bahwa hadits yang mengatakan “tidak akan beruntung suatu kaum, jika menyerahkan kepemimpinan kepada wanita.”
    1. hadits ini disabdakan pada tahun 9 hijriyah.
    2. umumnya ulama memahaminya secara tekstual.
    3. hadits ini berhubungan dengan Buaran Binti Syairawaih Bin Kisra.
    4. waktu itu dalam tradisi persia, yang di angkat menjadi pemimpin hanyalah laki-laki dan masa itu derajat perempuan lebih rendah dari pada laki-laki karna masih kental dengan tradisi arab jahuliyah. tetapi yang diangkat adalah buaran, karna dari keturunan nya yang laki2 telah terbunuh maka naiklah buaran sebagai ratu persia.
    5. rakyat persia pun tidak menghargai buaran(ratu persia, bagaimana seorang pemimpin akan sukses dengan kepemimpinannya kalau masyarakat tidak patuh dan tidak menghargai pemimpinnya sendiri. sedangkan seorang pemimpin mestinya memiliki kewibawaan dan disegani oleh masyarakatnya agar masyarakat mau ikut mensukseskan kepemimpinannya.
    6. dalam sejarah penghargaan wanita meningkat, dan keberadaan mereka semakin jelas tidak seperti dimasa jahiliyah yang tidak memiliki derajat sedikit pun.
    dan akhirnya menurut saya tidak ada yang perlu di nasakh, dari hadits seperti ini.
    ini haya sekedar pendapat yang saya. jika kurang berkenan tolong dimaafkan.

Leave a Reply