PERADABAN ISLAM

KEMAJUAN ISLAM PADA MASA DINASTI ABBASYIYAH

Berbicara tentang kemapanan peradaban tradisional, dapat dikatakan bahwa masa kemapanan peradaban Islam tercapai pada masa Dinasti Abbasiyah sebagai peradaban yang kosmopolit karena menyerap/meneruskan berbagai unsur peradaban kuno yang telah mendahului dan telah ada di sekitarnya.

Pada masa ini ditandai oleh perkembangan ekonomi yang pesat berbasis etika berekonomi yang berkepedulian sosial. Inilah yang diajarkan melalui konsep-konsep zakat, wakaf, shadaqah, yang dikembangkan melalui keilmuan “fiqh al-amwâl wa al-tijârah” (fiqh tentang pengelolaan harta kekayaan dan perda-gangan). Selain itu kemajuan militer masa ini telah membuat Islam menjadi kekuatan tanpa tanding. Pada masa modern, sejumlah strategi dan taktik militer Islam banyak dicontoh oleh Barat, seperti sistem penyerangan, sistem pertahanan, sistem pengelolaan personil militer, sistem logistik militer, dan yang terpenting etika perang.

Kemajuan-kemajuan tersebut merupakan imbas dari perubahan-perubahan yang terjadi di wilayah Islam akibat dari interaksi dan persentuhannya dengan peradaban asing. Secara sosial, terjadi perubahan dengan masuknya bangsa-bangsa non-Arab (ajam) ke dalam komunitas Islam, sehingga memicu perubahan beberapa segi budaya dan kebiasaan. Akibatnya muncul kelas-kelas sosial baru yang diadopsi dari kelas-kelas sosial yang dibawa oleh bangsa non-Arab. Pada gilirannya, hal itu berdampak pula pada perubahan dari segi intelektual, terutama akibat masuknya Muslim Persia, Syam, dan Mesir yang dikenal sebagai kantung-kantung budaya Helenisme (filsafat Yunani Kuno). Sehingga muncullah disiplin-disiplin ilmu baru ke dalam Islam yang banyak dipengaruhi oleh paham-paham filsafat, seperti kalam (teologi Islam), falsafah, dan sains  ke dalam agama Islam.

Artinya proses kemapanan/ kemajuan peradaban Islam telah dimulai sejak masa kepemimpinan Nabi Muhammad, Khulafâ’ al-Râsyidîn, dilanjutkan oleh khilafah Bani Umayyah, hingga benar-benar mencapai taraf kemapanannya pada masa khilafah Bani Abbas (Abbasiyah). Kegemilangan atau masa keemasan kekhalifahan Abbasiyah dicapai pada periode pertama, yang secara politis para khalifah menjadi sentra kekuasaan politik dan juga agama, pada sisi lain secara sosial masyarakat memperoleh kemakmuran yang sangat tinggi. Periode ini juga berhasil menetapkan landasan bagi perkem-bangan peradaban Islam terutama perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan Islam.

Masa ini diawali oleh pemerintahan Abu al-‘Abbas, pendiri dinasti yang memerintah dari tahun 750 hingga 754 M. Pemerintahannya kemudian diteruskan oleh Abu Ja’far al-Mansur (754-775 M), pada masa inilah ibukota yang semula berada di Hasyimiyah dipindahkan ke Baghdad, dekat ibukota Persia, pada tahun 762 M. Di kota inilah al-Mansur malakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya dengan membentuk lembaga eksekutif, yudikatif, lembaga protokol negara (sekertariat negara), lembaga kepolisian, lembaga kemiliteran, dan jawatan pos yang bertugas sebagai pengumpul dan penyampai informasi di daerah kekuasaan yang luas, sekaligus penyampai laporan tentang perilaku gubernur di berbagai daerah pemerintahan. Selain itu, ia juga mengangkat wazir sebagai koordinator departemen.

Kemajuan yang dicapai kekhalifahan Abbasiyah jelas sekali dilandasi oleh semangat theosentris yang tinggi. Hal ini tergambar ketika al-Mansur menyatakan “innamâ ‘anâ Sulthân Allâh fî al-‘ardhihî” (sesungguhnya saya adalah kekuasaan Allah di bumi-Nya). Al-Mansur memandang bahwa kekuasaannya yang kemudian diteruskan oleh keturunannya merupakan mandat dari Allah, bukan manusia. Popularitas kekhalifahan Abbasiyah mencapai puncaknya pada masa khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan putranya al-Ma’mun (813-833 M). Di mana al-Rasyid kekayaan negara banyak dimanfaatkan untuk keperluan sosial, guna pembangunan rumah sakit, lembaga pendidikan, kedokteran, pemandian umum, lembaga ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kesusasteraan. Sementara pada masa al-Ma’mun yang cinta ilmu pengetahuan, dilakukan penerjemahan besar-besaran terhadap literatur Yunani, menggiatkan sekolah, dan juga pendirian perpustakaan seperti bait al-hikmah. Pada masa ini pusat penerjemahan sekaligus berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar.

Pengaruh gerakan penerjemahan pada masa ini tidak hanya signifikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan agama, seperti fiqh dan teologi, namun juga ilmu pengetahuan umum, terutama astronomi, kedokteran, filsafat, kimia, dan sejarah, sehingga masa ini menghasilkan banyak ulama besar dan ilmuan besar Islam yang dikenal pemikirannya hingga kini. Khususnya perkembangan ilmu Naqli pada masa ini mengalami kemajuan yang sangat pesat, ditandai oleh perkembangan ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu kalam, ilmu tasawuf, ilmu bahasa, dan hukum. Perkembangan ilmu tafsir pada masa ini sangat beragam, bahkan tiap aliran teologis mengusung tafsirnya masing-masing. Baik al-Asy’ari, Mu’tazilah, ataupun Syi’ah memiliki tafsirnya sendiri.

Sementara dalam ilmu bahasa berkembang dua aliran, yaitu Bashrah dan Kufah. Mazhab Bashrah lebih dipengaruhi oleh mantiq, sehingga mereka dikatakan sebagain ahl al-mantiq, sedangkan aliran Kufah kurang terpengaruh oleh ilmu mantiq. Di antara ulama lughah yang mashur masa ini antara lain: Abu Basyar Umar bin Usman atau Sibawaihi (w. 183 H), Abu Muslim Mu’az al-Harra (w. 187 H), Ali bin Hamzah al-Kisa’i (w. 198 H), Yahya bin Zaiyd al-Farra (w. 208 H), dan al-Khalil bin Ahmad al-Bashary (180 H). Sedangkan dalam ilmu fiqh muncul dua mazhab utama yaitu ahl al-hadits dan ahl al-ra’yi.  Di antara fuqaha yang terkemuka pada masa ini antara lain Nu’man bin Sabit bin Zauthy  atau dikenal sebagai  Imam Abu Hanifah (l. 80 H), Malik bin Anas bin Abi Amir, dikenal sebagai  Imam Malik (l. 93 H), Abdullah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’i al-Syafi’i, atau Imam Syafi’i, Ahmad bin Hambal bin Hilal al-Zahily al-Syaibany  atau Imam Ahmad,   dan para imam Syi’ah serta imam mazhab yang telah hilang.

Selain perkembangan ilmu Naqli pada masa ini juga berkembang ilmu aqliyah dalam bentuk  perkembangan sains yang luar biasa.  Ilmu kedokteran misalnya dikembangkan oleh ‘Ali al-Thabari, al-Razi, Ali ibn al-Abbas al-Majuzi, dan Ibn Sina; ilmu filsafat dipelopori oleh al-Kindi atau Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq (l. 801), serta diteruskan oleh al-Farabi, Ibn Sina (w. 1037), al-Ghazali, hingga Ikhwan al-Shafa; ilmu  astronomi dan matermatika diperkenalkan oleh al-Hajjaj ibn Mathar, Hunayn ibn Ishaq, Tsabit ibn Qurrah (w. 901), Abu al-Abbas Ahmad al-Farghani, dan lain-lain. Selain itu telah muncul pula ilmu kimia dan geografi di kalangan umat Islam.

Pada masa-masa inilah umat Islam mengalami kemajuan intelektualnya baik secara naqliyah ataupun aqliyah, bahkan umat Islam ketika itu menjadi mercusuar perkembangan ilmu pengetahuan, di mana berbagai karya yang dihasilkan pasa masa itu menjadikan rujukan dan inspirasi bagi kemajuan bangsa Eropa, yang terus dikaji ulang hingga kini.

Agus Salim

Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam pada Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!