AL-QUR'AN DAN HADITS

KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

Pengertian Kepemimpinan Islam

Kepemimpinan Islam sudah merupakan fitrah bagi setiap manusia yang sekaligus memotivasi kepemimpinan yang Islami. Manusia di amanahi Allah untuk menjadi khalifah Allah [wakil Allah] di muka bumi. Hal sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 30:
”ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan  seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi  itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih  dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan  berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Yang bertugas merealisasikan misi sucinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Sekaligus sebagai abdullah [hamba Allah] yang senantiasa patuh dan terpanggil untuk mengabdikan segenap dedikasinya di jalan Allah.  Sabda Rasulullah “setiap kamu adalah pemimpim dan tiap-tiap pemimpin dimintai pertanggungjawabannya [responsibilitasnya]”.

Manusia yang diberi amanah dapat memelihara amanah tersebut dan Allah telah melengkapi manusia dengan kemampuan konsepsional atau potensi [fitrah], serta kehendak bebas untuk menggunakan dan memaksimal potensi yang dimilikinya. Sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 31: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

Konsep amanah yang diberikan kepada manusia sebagai khalifal fil ardli menempati posisi senteral dalam kepemimpinan Islam. Logislah bila konsep amanah kekhalifahan yang diberikan kepada manusia menuntut terjalinannya hubungan atau interaksi yang sebaik-baiknya antara manusia dengan pemberi amanah [Allah], yaitu: [1] mengerjakan semua perintah Allah, [2] menjauhi semua larangan-Nya, [3] ridha [ikhlas] menerima semua hukum-hukum atau ketentuan-Nya. Selain hubungan dengan pemberi amanah [Allah], juga membangun hubungan baik dengan sesama manusia serta lingkungan yang diamanahkan kepadanya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam al-Quran Surah Ali Imran ayat 112:
”Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”

Tuntutannya, diperlukan kemampuan memimpin atau mengatur hubungan vertical manusia dengan Sang Pemberi [Allah] amanah dan interaksi horizontal dengan sesamanya. Konsep Islam, kepemimpinan sebagai sebuah konsep interaksi, relasi, proses otoritas, kegiatan mempengaruhi, mengarahkan dan mengkoordinasi baik secara horizontal  maupun vertikal. Kemudian, dalam teori-teori manajemen, fungsi pemimpin sebagai perencana dan pengambil keputusan [planning and decision maker], pengorganisasian [organization], kepemimpinan dan motivasi [leading and motivation], pengawasan [controlling] dan lain-lain.[1]

Uraian di atas, dapat ditegaskan bahwa,  kepemimpinan Islam adalah suatu proses atau kemampuan orang lain untuk mengarahkan dan memotivasi tingkah laku orang lain, serta ada usaha kerja sama sesuai dengan al-Qur’an dan Hadis untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama.

Beberapa Istilah Kepemimpinan dalam Islam

Dalam Islam, kepemimpinan sering dikenal dengan perkataan khalifah yang bermakna “wakil” QS.al-Baqarah:30.

”ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Mustafa al-Maraghi, mengatakan khalifat adalah wakil Tuhan di muka bumi [khalifah fil ardli]. Rasyid Ridla al-Manar, menyatakan khalifah adalah sosok manusia yang dibekali kelebihan akal, pikiran dan pengetahuan untuk mengatur. Istilah atau  perkataan khalifah ini, mulai popular digunakan setelah Rasulullah SAW wafat.  Dalam istilah yang lain, kepemimpinan juga terkandung dalam pengertian “Imam”, yang berarti pemuka agama dan pemimpin spritual yang diteladani dan dilaksanakan fatwanya. Ada juga istilah “amir”, pemimpin yang memiliki kekuasaan dan kewenangan untuk mengatur masyarakat. Dikenal pula istilah “ulil amir” [jamaknya umara]  yang disebutkan dalam surat al-Nisa [59] yang bermakna penguasa, pemerintah, ulama, cendekiawan, pemimpin atau tokoh masyarakat yang menjadi tumpuan umat.
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Dikenal pula istilah wali yang disebutkan dalam surat al-Maidah ayat [55].
”Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)”.

Dalam hadis Nabi dikenal istilah ra’in yang juga diartikan pengelolaan dan pemimpin. Istilah-istilah tersebut,  memberi pengertian bahwa kepemimpinan adalah kegiatan menuntun, memandu dan menunjukkan jalan menuju tujuan yang diridhai Allah.

Istilah khalifah dan “amir” dalam kontek bahasa Indonesia disebut pemimpin yang selalu berkonotasi pemimpin formal. Apabila, kita merujuk dan mencermati firman Allah swt dalam surat al-Baqarah ayat 30:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku akan menciptakan khalifah di bumi. “Meraka bertanya [keheranan], Mengapa Engkau akan menciptakan makhluk yang akan selalu menimbulkan kerusakan dan pertimpahan darah, sementara kami senantiasa bertasbih memuji dan menyucikan Engkau?” Allah berfirman, “Aku Mahatahu segala hal yang tidak kemau ketahui”.

Dalam pengertian ini  dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan Islam secara mutlak bersumber dari Allah swt yang telah menjadikan manusia sebagai khalifah fil ardli. Maka dalam kaitan ini, dimensi kontrol tidak terbatas pada interaksi antara yang memimpin [umara] dengan yang dipimpin [umat], tetapi baik pemimpin maupun rakyat [umat] yang dipimpin harus sama-sama mempertanggung jawabkan amanah yang diembannya sebagai seorang khalifah Allah. Dalam sejarah kehidupan manusia sangat banyak pengalaman kepemimpinan yang dapat dipelajarinya. Dalam Hadis Nabi, “setiap kamu adalah pemimpin”.[2] dan terlihat dalam pengalaman sehari-hari manusia telah melakukan unsur-unsur kepemimpinan seperti “mempengaruhi, mengajak, memotivasi dan mengkoordinasi” sesama mereka.

Pengalaman itu perlu dianalisis untuk mendapatkan pelajaran yang berharga dalam mewujudkan kepemimpinan yang efektif. “Untuk memahami kepemimpinan secara empiris, perlu dipahami terlebih dahulu tinjauan segi terminologi-nya. Sacara etomologi [asal kata] menurut kamus besar Bahasa Indonesia, berasal dari kata “pimpin” dengan mendapat awalan “me” yang berarti menuntun, menunjukkan jalan dan membimbing. Perkataan lain yang disamakan artinya yaitu mengetuai, mengepalai, memandu dan melatih dan dalam bentuk kegiatan, maka si pelaku disebut “pemimpin”. Maka dengan kata lain, pemimpin adalah orang yang memimpin, mengetuai atau mengepalai. Kemudian berkembang pula istilah “kepemimpinan” [dengan tambahan awalan ke] yang menunjukkan pada aspek kepemimpinan”.[3]

Hak dan Kewajiban Pemimpin

Menurut  R Iyeng Wiraputra, ada 4 macam hak yang mesti dilakukan oleh seorang pemimpin :

  1. Hak memperoleh Surat Keputusan (SK) dari jabatan yang berwenang
  2. Hak memperoleh jaminan atas jabatan
  3. Hak mendapat imbalan atas dasar tugas dan tanggung jawab
  4. Hak melakukan tugas kepemimpinan kepada bawahan.[4]

Secara garis besar kewajiban khalifah terhadap agama dan rakyatnya sebagai berikut :

  1. Membela dan menghidupkan agama, menjalankan nas-nas yang disepakati (mujma’ alaih) serta memberi keluasaan, kebebasan kepada rakyat dalam masalah ijtihadiyah yang bersangkutan dengan amal masing-masing, baik berupa ibadah yang bersangkutan dengan pekerjaan, baik berupa ibadah atau berupa urusan penghidupan. Adapun yang bersangkutan dengan pemerintahan, seperti politik negara, keamanan, dan hukum pengadilan, maka khalifah berhak menguatkan pendapatnya di dalam masalah ijtihadiyah sesudah bermusyawarah dengan Ahlul halli wal ‘aqdi.
  2. Men-tanfiz-kan hukum antara orang-orang yang berselisih atau mendamaikannya, begitu juga hukum yang bersangkutan dengan Allah semata-mata, seperti Ringkasnya, sebagai pengatur pengadilan.
  3. Menjaga keamanan umum agar penghidupan segenap umat manusia terjamin dengan aman tenteram (urusan kepolisian).
  4. Bermusyawarah dengan wakil-wakil rakyat dalam tiap-tiap urusan yang tidak ada ijma’ terutama hal-hal yang menyangkut kenegaraan, seperti peperangan, mengenai politik luar dan dalam negeri.
  5. Mengatur penjagaan batas-batas negeri dengan sekuat-kuatnya, sehingga merupakan kekuatan yang dapat menolak segala kemungkinan dari serangan musuh yang akan mengganggu keamanan atau ketentraman dalam negeri.
  6. Jihad, melakukan peperangan terhadap musuh apabila telah sampai pada batas-batas yang diizinkan oleh agama, sebagaimana yang telah kita jelaskan dalam kitab “jihad”. Yang dimaksud dengan kewajiban no.5 dan no.6 ini ialah mengatur ketentaraan.
  7. Mengatur kemakmuran menurut apa yang diizinkan oleh agama, seperti menyusun baitul mal, mengatur perniagaan dan perdagangan, pertanian, dan sebagainya. Yang dimaksud di sini ialah “kementrian,kemakmuran, dan keuangan”.
  8. Menyesuaikan penyerahan pekerjaan dan kekuasaan menurut kecakapan dan keikhlasan orang yang diserahi, serta diberi keluasaan mengatur dan bertindak asal tidak bertentangan dengan dasar-dasar agama.
  9. Hendaklah ia bekerja sendiri untuk mengamat-amati dan memperhatikan soal-soal yang diserahkannya kepada wakil-wakilnya. Hendaklah bergaul dengan seluruh lapisan masyarakat, tidak boleh mengasingkan diri dan bersenang-senang sendiri.[5]

Dari auraian diatas dapat dipahami bahwa tugas seorang pemimpin menurut Islam itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tetapi memang harus bekerja secara maksimal serta dibarengi dengan keilmuan yang cukup baik itu ilmu agama ataupun juga ilmu umum sehingga baru bisa menciptakan masyarakat yang aman, tertib, makmur dan sejahtera.

[1] Aunur Rohim Fakih, dk., 2001, Kepemimpinan Islam, UII Press, Yogyakarta. hh.3-4
[2] Muhammad bin ‘Ali As-Syafi’I, Hasyiyah ‘ala mukhtashor bin Abi Jamroh lil Bukhori, h. 68
[3] Aunur Rohim Fakih. h. 4-5
[4] R Iyeng Wiraputra, M.Sc., Kepemimpinan, 1985. h. 27
[5] Sulaiman Rasyid, al-Fiqhul  Islam, 2008 Cet : 41, h. 502

Mahdayeni

Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Muara Bulian - Jambi

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!