AL-QUR'AN DAN HADITS

KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM (Bagian satu)

Al-Qur’an merupakan wahyu Allah swt yang originil, di mana fungsinya sebagai pandangan hidup manusia, baik dalam kegamaan maupun sosial kemasyarakatan, telah membawa perubahan besar dalam catatan sejarah dunia. Kalau kita cermati, hampir dua pertiga dari ayat-ayat al-Qur’an mengajarkan tentang persoalan kehidupan sosial di dunia, sedangkan sepertiga sisanya menegaskan ajaran-ajaran yang lebih mengarahkan kepada nilai-nilai dogmatis ukhrawi. Al-Qur’an merupakan sumber utama dan pokok bagi hukum Islam. Disamping itu al-Qur’an berfungsi juga sebagai dalil pokok hukum Islam. Dari ayat-ayat al-Qur’an ditimba norma-norma hukum bagi kemaslahatan umat manusia. Dengan al-Qur’an kita mendapat petunjuk dan bimbingan dalam memutuskan problematika hidup dan kehidupan.

Kepemimpinan berasal dari kata dasar pemimpin. Dalam al-Qur’an terdapat beberapa lafaz yang bermakna pemimpin, misalnya istilah yang populer : Khalifah, Imam, dan Uli al-Amri. Lafaz Khalifah dalam al-Qur’an ditemukan pada surat al-Baqarah ayat 30 yang berbunyi:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al-Baqarah: 30).

Ayat diatas berkenaan dengan awal kejadian manusia, penciptaan Nabi Adam, di mana Allah swt meninggikan manusia untuk menjadikan khalifah (penguasa) untuk mengurus belum ini. Hal ini mengidinkasikan bahwa manusia secara keseluruhan adalah khalifah fi al-ardhi. Dalam ayat 39 surat Fathir dan surat al-An’am 165, Allah mengatakan:

“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi”.

“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.

Dalam bahasa Arab, kata ini diartikan bervariasi, diantaranya berarti pengganti, pembantu, atau wakil pelaksana. Jadi, ia menunjuk kepada orang-orang yang diberikan kekuasaan untuk melaksanakan sesuatu. Dengan demikian terdapat dua pengertian kata khalifah, yakni pengganti dan pembantu. Dengan demikian kata Khalifah dapat diartikan sebagai; (1) pengganti Muhammad sebagai kepala negara (Bukan Muhammad sebagai Rasulullah), (2) Sebagai penguasa ia adalah “pembantu” rakyatnya. Hal ini dapat dilihat dari isi pidato pelantikan keempat khalifa, yang intinya berisi kontrak sosial, bahwa pemimpin akan bekerja untuk yang dipimpinnya.

Hak menjadi khalifah (pemimpin) bukanlah milik absolut individu atau golongan tertentu saja. Namun, ia milik seluruh komunitas manusia, sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an surat an-Nur ayat 55.

“Allah akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi (Qs. An-Nur : 55)

Berdasarkan ayat tersebut, maka setiap individu dalam kelompok masyarakat, memilik hak azasi untuk menjadi khalifah, tidak seorang pun atau kelas mana pun yang berhak mencabut kekuasaan seseorang dalam khalifah ini, lalu memusatkannya pada kekuasan sendiri. Begitu pula, tidak seorang pun yang boleh mengklaim, bahwa khalifah hanya dikhususkan baginya dan bukan bagi umat Islam lainnya. Penguasa bumi ini, pada hakekatnya adalah Allah sendiri. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasan-Nya. Berbeda dengan faham Theokrasi, bahwa Tuhan memberikan kekuasaan kepada seseorang, seperti Paus dalam agama Katolik, yang menganggap bahwa kekuasaannya itu langsung dari Tuhan. Dia memegang tahta suci sebagai wakil Tuhan, seperti mengampuni dosa, memberi barkat, dan sebagainya.

Ibnu Kaldun mengutarakan, bahwa hakekat kekhalifaan adalah pengganti kedudukan Rasul (pembawa syara’) dalam memelihara agama dan politik keduniawan. Khalifah mempunyai dua tugas, pertama, tugas keagamaan berhubungan dengan penerapan dan pelaksanaan syari’at kepada umat manusia. Dan kedua, segi politik keduniawan berhubungan dengan masalah kepemimpinan (khalifah/imam) untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan umat manusia di dunia. Kemudian istilah imam juga diartikan sebagai pemimpin. Ibnu Manzhur, pengarang Lisan al-Arab, mengatakan kata dasar kata a-ma-ma adalah al-‘amm berarti tujuan, maksud, atau dapat juga berarti pedoman yang memberi petunjuk. Kata imam banyak terdapat dalam al-Qur’an dengan makna-makna aslinya, seperti yang terlhat dalam ayat-ayat berikut:

Pada surat al-Isra ayat 71, Allah berfirman :

“(ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya”.

Pada surat al-Baqarah ayat 124, Allah berfirman :

“dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”.

Pada surat al-Qashas ayat 14, Allah berfirman :

“Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong”.

Pada surat al-Taubah ayat 12, Allah berfirman :

“Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti”.

Pada dua ayat pertama diatas, dapat dilihat bahwa kata imam tersebut sebagian besar digunakan dalam al-Qur’an yang menunjukkan indikasi kebaiakan. Tetapi, kata imam juga dipakai untuk menunjukkan makna jahat seperti dalam kedua ayat terakhir. Namun, Fakhruddin al-Razi dalam tafsirnya, telah membedakan antara kedua hal tersebut, apabila kata imam disebut secara sendiri, maka yang ditunjuk hanyalah makna petunjuk kepada kebaikan. Jika diinginkan untuk menunjukkan makna jahat, maka itu mesti dituliskan dengan menambah qarinah (konjungsi) yang menunjukkan kepada maka tersebut.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!