PERADABAN ISLAM

KEPEMIMPINAN DAN KEBIJAKAN KHALIFAH ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

Tantangan dalam Kepemimpinan Abu Bakar ash-Shiddiq

“Dengan kebijakannya, Abu Bakar menyadari bahwa jika Islam hendak disebarkan di antara kabila-kabilah bangsa ‘Arab, dia harus mengerahkan pasukannya untuk membuka daerah baru.karena itu, pada masa kekhalifahannya dimulailah ekspedisi pasukan Islam secara besar-besaran. Dia mengutus pasukan yang dipimpin oleh khalid bin al-Wailid dan Mutsanna bin Haritsah ke Irak beserta Yazid bin Abu Sufyan, Syurahbil bin Hasana, dan ‘Amr bin ‘Ash ke Syam”.

“Disa’at ‘amanah baru saja diembankan kepada beliau, tiba-tiba Madinah dikejutkan oleh gerakan yang menggrogoti sistem Islam yang meluas hampir ke seluruh Semenanjung ‘Arabiyah. Bentuk gerakan itu dapatdiklasifikasikan dalam tiga pola.

Murtad dari Agama

Mereka adalah orang-orang yang lemah imannya dan masuk Islam hanya formalitas. Kemungkinan mereka adalah kelompok munafik pada zaman Nabi. Sebagaimana yang terjadi pada Perang Tabuk dan Bani Al-Musthaliq. Mereka tidak berani melakukan pemurtadan diri pada masa Nabi karena kuatnya Islam sa’at itu. Peralihan kekuasaan dari Nabi ke Abu Bakar mereka anggap sa’at yang tepat untuk melakukan gerakan ini.

Gerakan Nabi Palsu

Seperti Musailamah Al-Kazzab dari bani Hanifah, Al-Aswad Al-‘Insi dari Yaman, Thalhah bin Khuwailid dari Bani Asad dan Sajjah dari Bani Tamim. Sebagian fenomena ini sudah muncul pada masa Nabi, tetapi wafatnya Nabi mereka anggap sebagai kesempatan untuk tampil terang-terangan. Cukup banayak orang yang bergabung dengan mereka. Diantara isu yang mereka bawa adalah penolakan kekuasaan ditangan Quraisy dan isu fanatik kesukuan.

Pembangkang Zakat

Kelompok ini berpandangan bahwa zakat itu diberikan kepada Nabi SAW. Dengan dalil Khitab (objek informasi) dalam ayat tentang zakat dikhususkan kepada Nabi. Oleh sebab itu, setelah Nabi meninggal, hukum tentang zakat tidak berlaku lagi”. “Abu Bakar mempelajari fenomena itu dengan seksama dan sampai kepada kesimpulan bahwa tiga gerakan tersebut bermaksud untuk menghancurkan Islam dan akarnya. Akhirnya Abu Bakar memutuskan untuk menghadapi semua gerakan itu dengan tindakan tegas”. “Abu Bakar mengirim surat kepada pembangkang zakat mengajak mereka untuk kembali kepada Islam yang benar dan menjelaskan kepada mereka kesalahpahaman mereka. Barang siapa yang meyadari kesalahannya, maka mereka akan dima’afkan, dan barang siapa yang ngotot dengan pendapatnya, akan ada pasukan yang akan membersihkan mereka. Hasil dari operasi yang dilancarkan Abu Bakar sbb:

  1. Musailamah Al-Kazzab terbunuh ditanagan Wahsyi si pembunuh Hamzah, pengikutnya dan orang-orang terpengaruh dengan ajarannya melarikan diri.
  2. Pasukan Al-Aswad Al-‘Ansi kalah dalam pertempuran sedangkan dia sendiri dikabarkan telah terbunuh ditangan salah seorang pengikutnya pada malam wafatnya Rasulullah SAW.
  3. Thalhah bin Khuwailid melarikan diri ke Syam dan tidak mapu menghadapi pasukan Khalid bin Walid. Kemudian dia masuk Islam kembali dan menjadi Muslim yang baik. Dia ikut dalam futuhat yang terjadi pada masa ‘Umar bin Khattab, dan ikut dalam perang Yarmuk, Qodisiyyah, Nahawand, dan lainnya.
  4. Sedangkan Sajjah At-Tamimiyah, setelah bermaksud berangkat ke Yamamah untuk bergabung dengan Musailamah, akhirnya mengurungkan niatnya dan pulang ke Negerinya karena mendengar pasukan Khalid sudah mulai mendekat.
  5. Sedangkan pasukan lainnya melakukan operasi di seluruh Jazirah ‘Arabiyah, memberikan pengajaran kepada pembangkang dan mengembalikan kepada Islam orang yang murtad. Mereka tidak kembali ke Madinah sampai suasana tenang dan Jazirah ‘Arabiyah kembali kepangkuan Islam dan berpegang teguh dengan Islam yang hanif.

Perencanaan dan Garis Kebijakan Khalifah Abu Bakar Al-Shiddiq untuk Melindungi Madinah

“Khalifah Abu Bakar Al-Siddiq pun membaca gelagat tidak baik pada muka-muka mereka gelagat penuh tipu daya konspirasi, kecurangan dan kelicikan.maka dari itu, ia pun berkata kepada para sahabatnya, ”sesungguhnya negeri-negeri itu adalah negeri kafir, dan para delegasi mereka telah melihat bahwa kalian sa’at ini berjumlah sedikit. Dan kalian tidak tahu apakah pada malam hari kalian akan diserbu ataukah pada siang hari”.

“Khalifah Abu Bakar Al-Shiddiq pun membuat rencana dan strategi seperti berikut:

  1. Mengharuskan penduduk Madinah untuk selalu tinggal di masjid, sehingga mereka bisa berada dalam kondisi siap siaga yang optimal untuk melakukan perlawanan.
  2. Menugaskan dan mengorganisir penjaga-penjaga yang selalu siap siaga di sudut-sudut pintu masuk Madinah, hingga mereka bisa menghalau setiap serbuan yang datang.
  3. Menunjukkan sejumlah orang sebagai pimpinan pasukan-pasukan penjaga, yaitu Ali bin Abu Thalib,Az-Zubair bin Al-Awwam, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Sa’ad bin Abu Waqqash,Abdurrahman bin Auf dan Abdullah bin Mas’ud”.

“Dalam penumpasan perang pada masa Abu Bakar banyak umat Islam yang gugur, yang terdiri dari sahabat dekat Rasulullah dan para hafiz Al-Qur’an, sehingga mengurangi para sahabat yang hafal Al-Qur’an. Oleh karena itu, Umar bin Khattab menyarankan kepada khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian untuk merealisasikan saran tersebut diutuslah Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan semua tulisan Al-Qur’an. Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih sama seperti pada masa Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya.

Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ‘ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya.

  1. Pendidikan keimanan, yaitu menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib disembah adalah Allah.
  2. Pendidikan akhlak, seperti adab masuk rumah orang, sopan santun bertetangga, bergaul dalam masyarakat, dan lain sebagainya. Pendidikan ‘ibadah seperti pelaksanaan shalat, puasa, dan haji.
  3. Kesehatan seperti tentang kebersihan, gerak-gerik dalam shalat merupakan didikan untuk memperkuat jasmani dan rohani.

“Menurut Ahmad Syalabi, lembaga untuk belajar membaca, menulis ini disebut dengan kuttab. kuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah Masjid, selanjutnya Asma Hasan Fahmi mengatakan bahwa kuttab didirikan oleh orang-orang ‘Arab pada masa Abu Bakar dan pusat pada pembelajaran ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagi tenaga pendidik adalah para shahabat Rasul yang terdekat. Lembaga pendidikan Islam adalah Masjid, Masjid dijadikan sebagi benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan dan lembaga pendidikan Islam, sebagai tempat shalat berjama’ah, membaca Al-Qur’an, dan lain sebagainya.

Peradilan Pada Masa Abu Bakar

“Abu Bakar adalah ahli hukum yang tinggi mutunya.ia memerintah dari tahun 632 sampai 634 M. Sebelum masuk Islam, ia terkenal sebagai orang yang jujur dan disegani, ikut aktif mengembangkan dan menyiarkan Islam. Atas usaha dan seruannya banayak orang terkemuka memeluk agama Islam yang kemudian terkenal sebagai pahlawan-pahlawan Islam ternama. Dan karena hubungannya yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW, beliau mempunyai pengertian yang dalam tentang jiwa Islam lebih dari yang lainnya.karena itu pula pemilihannya sebagai khalifah pertama adalah tepat sekali”.

“Diberitahukan oleh al-Baghawy dari Maimun bin Mihran, katanya: ”adalah Abu Bakar apabila menghadapi suatu perkara dan apabila datang suatu pengaduan kepadanya, memerhatikan kandungan Al-Qur’an. Jika ada dalam Al-Qur’an hukum tentang perkara yang timbul itu, beliaupun menghukumkan perkara itu dengan ketetapan yang ada dalam Al-Qur’an. Jika tidak mendapatkannya dalam Al-Qur’an, beliau memerhatikan Sunnah yang beliau telah mengetahuinya. Jika beliau memperoleh Sunnah dalam perkara itu, beliaupun memutuskannya menurut ketetapan Sunnah.

Apabila tidak juga beliau dapati sesuatu ketetapan dalam As-Sunnah, pergilah beliau menanyakan hadis-hadis Nabi tentang itu kepada para sahabat lalu beliau memutuskan perkara menurut hadits yang beliau dapati dari seseorang yang dipercaya. Jika tak ada sesuatu hadits yang dapat diriwayatkankepadanya sesudah beliau menanyakan kesana kemari,beliau mengumpulkan ahli-ahli Ilmu dan orang-orang yang terkemuka dari para sahabat untuk berembuk dan berunding. Maka apa yang di sepakati oleh ahli perundingan itu, itulah yang beliau gunakan untuk menetapkan hukum dan menyelesaikan serta memutuskan pertikaian”. Demikian sikap Abu Bakar dalam memutuskan suatu hukum”.

“Abu Bakar meninggal dunia pada sa’at berkecamuknya perang Yarmuk yang berlangsung selama tiga bulan dengan kemenangan di tangan kaum Muslim atas bangsa Romawi. Ketika ia mengkhawatirkan kaum Muslim akan kembali bertikai dan bertengkar mengenai pengganti dirinya sebagai Khalifah, maka sebelum wafat, dia telah menetapkan ‘Umar bin Khatthab sebagai khalifah kaum Muslim setelah dirinya”.

“Selama hayat hingga masa-masa menjadi khalifah, Abu Bakar dapat dijadikan sebagai teladan dalam kesederhanaan, kerendahan hati, kehati-hatian, dan kelemah lembutan pada sa’at dia kaya dan memiliki jabatan yang tinggi. Dengan sikap seperti itu, dia mendapat penghormatan dan kepercayaan dari kaum Muslim. Sejarah akan tetap mengenangnya karena dia juga menjadi “penyambung lidah” Nabi.selain itu, pada masa kekhalifahannya –tidak lebih dari dua tahun – dia mampu menegakkan tiang-tiang Islam, termasuk diluar Jazirah ‘Arabiahyang lebih luas. Dia dapat dikategorikan sebagai orang yang memulai babak baru dalam mendirikan imperium ‘Arabiah”.

Sumber Rujukan

Husayn Ahmad Amin,Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2003)
Prof.dr.Ali Muhammad Ash-Shalabi,Biografi Abu Bakar Al-Shiddiq, (Jakarta:Pustaka Al-Kautsar,2013)
Prof.Dr.Alaiddin Koto,M.A,Sejarah Peradilan Islam. (Jakarta: Rajawali Pers,2012)
Penulis: Heriyanto (Mahasiswa Pascasarjana UIN STS Jambi)

Mahasiswa Pasca

Mahasiswa Pascasarjana adalah Mahasiswa Program Magister pada UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!