PERADABAN ISLAM

KEPEMIMPINAN KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN

Biografi Utsman bin Affan

Khalifah ketiga adalah Utsman bin Affan. Nama lengkapnya ialah Utsman bin Affan bin Abi Ash bin Umayyah dari suku Quraisy. Ibunya bernama Arwa binti Kuraiz dari bani Abdi Syam. Beliau dilahirkan di Thaif, enam tahun setelah tahun gajah. Beliau terkenal pemalu, memiliki kecerdasan akal, sanagt iffah 9menjaga kehormatan diri). Menjaga silaturrahmi, takwa, panajng shalat tahjjudnya, menangis saat mengenang negeri akhirat, tawadu, mulia, dan dermawan.
Beliau adalah pedagang dengan modal sangat besar sebelum islam. Banyak hartanya beliau infakkan buat kepentingan dakwah baik priode Mekkah maupun setelah di Madinah. Beliau membeli sumber air yang enak di Madinah (Bi’r Rumah) untuk kepentingan kaum muslimin, beliau membeli tanah untuk perluasan Mesjid Nabawi. Ketika negara membutuhkan biaya besar buat belanja pasukan sebanyak tiga puluh ribu orang yang akan berangkat ke Tabuk, beliau mengeluarkan hartanya yang sangat besar buat keperluan ini.
Usman adalah orang yang sangat dekat dengan Rasulullah. Beliau digelar Dzun Nurain karena menikah dengan dua anak Rasulullah Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Beliau termasuk di antara sepuluh sahabat yang mendapat berita gembira akann masuk surga dan beliau akan mati syahid. Beliau meriwayatkan hadis dari Rasulullah sebanyak 146 hadist.
Ia memeluk islam karena ajakan Abu Bakar, dan menjadi salah seorang sahabat dekat Nabi saw. Ia sangat kaya tetapi berlaku sederhana, dan sebagian besar kekayaannya digunakan untuk kepentingan Islam. Ia mendapat julukan zun nurain, artinya yang memiliki dua cahaya, karena menikahi dua putri Nabi saw secara berurutan setelah yang satu meninggal. Ia juga merasakan penderitaan yang disebabkan oleh tekanan kaum Quraisy terhadap muslimin di Mekah, dan ikut hijrah ke Abesinia beserta istrinya.
Utsman menyumbangkan 950 ekor unta dan 50 bagal serta 1.000 dirham dalam ekspedisi untuk melawan Bizantium di perbatasan Palestina. Ia juga membeli mata air orang-orang Romawi yang terkenal dengan harga 20.000 dirham untuk selanjutnya diwakafkan bagi kepentingan umat islam, dan pernah meriwayatkan hadits kurang lebih 150 hadits.
Pada masa khalifah usman bin Affan, pelaksanaan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan Islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah di masa khalifah Umar, diberikan kelonggaran untuk keluar dan menetap di daerah-daerah yang mereka sukai. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah.
Proses pelaksanaan pola pendidikan pada masa Usman ini lebih ringan dan lebih mudah dijadikau oleh seluruh peserta didik yang ingin menuntut dan belajar Islam dan dari segi pesat pendidikan juga lebih banyak, sebab pada masa ini para sahabat bisa memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.
Khalifah Usamn sudah merasa cukup dengan pendidikan yang sudah berjalan, namun begitu ada satu usaha yang cemerlang yang telah terjadi di masa ini yang berpengaruh luar biasa bagi pendidikan Islam, yaitu untuk mengumpulkan tulisan ayat-ayat al-Qur’an. Penyalinan ini terjadi karena perselisihan dalam baca Al-qur’an. Berdasarkan hal ini, khalifah Usman memerintahkan kepada tim untuk penyalinan tersebut, adapun tim tersebut adalah; Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Zaid bin Ash, dan Abdurrahman bin Harist.
Pada masa khalifah Usaman bin Affan tidak banyak terjadi perkembangan pendidikan, kalau dibandingkan dengan masa kekhalifahan umar bin Khattab, sebab pada masa khalifah Usman bin Affan urusan pendidikan diserahkan saja kepada rakyat. Dan apabila dilihat dari segi kondisi pemerintahan Usman banyak timbul pergolakan dalam masyarakat sebagai akibat ketidaksenangan mereka terhadap kebijakan usman yang mengangkat kerabatnya dalam jabatan pemerintahan.

Pemerintahan Utsman bin Affan

Pemerintahan Usman bin Affan berlangsung dari tahun 644-656 M. Ketika dipilih, Usman telah berusian 70 tahun. Di masa pemerintahannya perluasan daerah islam diteruskan ke Barat sampai ke Maroko, ke Timur menuju India, dan ke Utara bergerak menuju Konstantinopel.
Pada masa-masa awal pemerintahannya, Utsman melanjutkan sukses para pendahulunya, terutama dalam perluasan wilayah kekuasaan islam. Daerah-daerah strategis yang sudah di kuasai islam seperti mesir dan irak terus dilindungi dan dikembangkan dengan melakukan serangkaian ekspedisi militer yang terencana secara cermat dan simultan di semua front. Di mesir pasukan muslim diinstruksikan untuk memasuki Afrika Utara. Salah satu pertempuran penting di sini ialah “Zatis Sawari” (perang tingkat kapal) yang terjadi di laut tengah dekat kota Iskandariyah, antara tentra romawi di bawah pimpinan Kaisar Constantin dengan Laskar Muslim pimpinan Abdullah bin Abi Sarah.
Dinamakan perang kapal karena banyaknya kapal-kapal perang yang digunakan dalam peperangan tersebut. Terdapat 1.000 kapal buah kapal, dan 200 buah kapal milik kaum muslim sedangkan sisanya milik bangsa romawi.

Strategi Kepemimpinan Utsman bin Affan

Sesudah Utsman bin Affan di baiat sebagai khalifah, ia mulai mengatur siasat dan strategi kepemimpinannya. Dalam kebijakan politiknya, Utsman bin Affan mulanya mengikuti khalifah sebelumnya. Oleh karena itu, pada pauh pertama masa pemerintahanya, keputusan-keputusan yang dibuat merupakan kelanjutan dari kebijakan sebelumnya. Namun pada paruh kedua Utsman mengubah gaya kepemimpinanya. Hal itu tampak dengan pergantian gubernur yang diangkat Umar bin Khattab. Akibatnya, timbul gejolak masyarakat karena penguasa baru menetapkan peraturan yang memberatkan mereka, terutama di Mesir. Selain Mesir, daerah yang bergejolak adalah Azerbaijan dan Armenia. Kewewenangan pimpinan baru ini telah menimbulkan pemberontakan penduduk setempat.
Pada awalnya, kekuatan rakyat yang kecewa atas kebijakan Utsman dapat mengalahkan pasukan pemerintah. Namun, akhirnya mereka dapat ditundukan kembali. Azebaijan diamankan oleh tentara yang dipimpin Abdullah bin Suhail dan al-Walid bin Ukbah, sedangkan Armenia dikuasai kembali oleh panglima salman bin Rabi’ah. Di tinjau dari strategi kepemimpinannya, Utsman bin Affan tidak jauh berbeda dengan Umar bin Khattab. Yang menjadi perbedaan adalah pergantian berberapa gubernur sehingga menimbulkan beberapa gejolak dan di nilai lebih mementingkan hubungan kerabat dalam pengangkatannya. Meskipun demikian, strategi kepemimpinan Utsman bin Affan dalam melanjutkan penaklukan Asia Tengah telah memperluas wilayah kekuatan di Madinah.
Pemerintahan Utsman berlangsung selama 12 tahun, penuh dengan konflik, hura-hura, dan fitnah yang membawa kematian. pada paruh terakhir masa kekhalifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa dikalangan umat Islam terhadapnya, yang mungkin disebabkan karena usianya sudah lanjut (usia 70 tahun), sifatnya yang lemah lembut, kurang tegas, cenderung memperkerjakan orang-orang dari kalangan kerabatnya yang kurang profesional, dan banyak menyerahkan kekuasaan kepada orang-orang yang tidak cakap. Dia terlalu lemah terhadap keluarganya, dan juga tidak tegas terhadap kesalahan-kesalahan bawahannya. Harta kekayaan negara, oleh kerabatnya dibagi-bagikan tanpa terkontrol oleh Usman sendiri.
Kepemimpinan Utsman memang sangat berbeda dengan kehalifahan Umar. Ini karena fitnah dan hasutan dari Abdullah bin Saba’ Al-Yamani salah seorang yahudi yang berpura-pura masuk Islam. Ibnu Saba ini berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lainnya untuk menyebarkan fitnah kepada kaum muslimin yang baru masa ke Islamannya. Tahun-tahun berikutnya, pemerintahannya Utsman mulai goyah. Rakyat dibeberapa daerah terutama Kuffah, Bashrah, dan mesir mulai memprotes kepemimpinannya yang dinilai tidak adil. Salah satu factor yang menyebabkan banyak rakyat berburuk sangka terhadap kepemimpinan Utsman adalah kebijakannya mengangkat keluarganya dalam kedudukan tinggi. Yang terpenting adalah Marwan ibnu Hakam. Dialah pada dasarnya yang dianggap oleh orang-orang tersebut yang menjalankan pemerintahan, sedangkan Utsman hanya menyandang khalifah.
Kelemahan dan nepotisme telah membawa khalifah ke puncak kebencian rakyat, yang pada beberapa waktu kemudian menjadi pertikaian di kalangan umat Islam. Kelemahan Utsman adalah terlalu mengutamakan keluarganya dari Bani Umayyah. Misalnya, ia mengangkat beberapa orang dari Bani Umayyah menjadi gubernur dibeberapa wilayah. Sifatnya yang lemah lembut dan dermawan sering dimanfaatkan oleh anggota Bani Umayyah untuk mendapatkan keuangan. Ia kurang bisa bersikap tegas terhadap keluarganya.
Situasi politik di akhir masa pemerintahan Usman benar-benar semakin mencekam. Bahkan juga berbagai usaha yang bertujuan baik dan mempunyai alasan kuat untuk kemaslahatan umat disalahpahami dan melahirkan perlawanan dari masyarakat. Terhadap berbagai kecaman tersebut, khalifah telah berupaya untuk membela diri dan melakukan tindakan politis sebatas kemampuannya.

Penulis: Fatniyaton Adawiyah (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi)

Sumber Rujukan

Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2011.
Aladdin Koto, Sejarah Peradilan Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012.
Ali Muhammad Ash-Shallabi, Episode Krusial Sejarah Islam Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Jakarta: Darul Haq, 2012.
Muhammad Khalid, Utsman ibn ‘Affan, Bandung: Mizania, 2014.
Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2010.
Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2007.
Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, Jakarta: Rajawali Pers, 2011.
Wahyu Ilahi dan Harjani Hefni, Pengantar Sejarah Dakwah, Jakarta: Kencana, 2007.

Mahasiswa Pasca

Mahasiswa Pascasarjana adalah Mahasiswa Program Magister pada UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!