SPIRITUAL

KESEMPURNAAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF TASAWUF (Bagian 1)

Manusia sebagai Cermin Tuhan

Dalam ajaran tasawuf, manusia dipandang sebagai cermin Tuhan dalam arti bahwa manusia merupakan wadah yang paling tepat dan sempurna untuk mentajallikan nama-nama-Nya. Berdasarkan paradigma ini, maka sudah menjadi fitrah dan sudah semestinya manusia mampu memancarkan esensi Tuhan, dimana manifestasinya terdapat dalam cara berfikir dan bersikap manusia yang pengasih, penyayang, arif, bijaksana, toleran serta sifat dan sikap kebaikan yang lain. Pendek kata, manusia secara fitrah sebenarnya lebih mencerminkan dan mengandung kebaikan-kebaikan. Di sinilah kemudian wacana-wacana tentang kesempurnaan manusia dalam tasawuf memperoleh tempat yang cukup strategis. Istilah al-Insân al-Kâmil, merupakan salah satu indikator bahwa konsep manusia sempurna, ternyata telah menjadi diskursus yang menarik sejak ratusan tahun yang lalu.

Namun demikian, dalam perjalanan sejarahnya serta dalam perjumpaannya dengan dunia realitas, hati manusia yang dipandang sebagai inti dari cermin Tuhan itu, sering diterpa debu-debu yang membuatnya lusuh, pun juga cahaya kegelapan yang membuatnya tidak lagi mampu memantulkan asma-asma dan esensi Tuhan. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perwujudan manusia kini lebih mencerminkan sebuah kekuatan jahat dan penyebar kerusakan di muka bumi. Dalam konteks ini, lagi-lagi dunia tasawuf dituntut untuk menemukan formulasi baru bagi terbinanya spiritualitas yang handal, yang tidak lain tujuannya adalah membersihkan kembali hati manusia agar ia mampu memantulkan asma-asma Tuhan kembali. Dengan demikian, tema-tema seperti maqâmat dan ahwâl, merupakan sebagian formulasi tasawuf dalam konteks ikhtiar kemanusiaan di atas.

Abu Hamid al-Ghazali

Dalam pembahasan mengenai manusia, dunia tasawuf tidak bisa mengesampingkan begitu saja pandangan-pandangan al-Ghazali. Bisa dipastikan bahwa al-Ghazali cukup banyak memberikan kupasannya mengenai manusia, baik dari sudut pandang psikis maupun etikanya. Al-Ghazali merupakan pemikir tiga jaman karena secara berturut-turut dia sudah menjalani dan mengenyam tiga dunia pemikiran yang bervariasi, baik dunia teologi, filsafat dan tasawuf. Namun demikian, pandangan-pandangan al-Ghazali tersebut menjadi menarik karena ada relevansi antara kondisi psikis dan etika manusia dengan tingkat kedekatan manusia terhadap Tuhannya.

Pandangan-pandangan al-Ghazali

Pertama-tama, al-Ghazali memandang bahwa jiwa pada mulanya tidak ada (pre-existence) sebelum kemudian ia terperangkap ke dalam tubuh dan memiliki sifat ketuhanan yang bersifat abadi. Beberapa istilah sebagai padanan jiwa antara lain; jiwa (soul), ruh (spirit) dan hati (heart). Namun demikian, al-Ghazali sering menyebutkan istilah jiwa rasional yang eksistensinya ternyata amat vital bagi manusia. Jiwa rasional (the rational soul, al-nafs al-nathiqah), di dalam al-Qur’an disebut dengan jiwa yang tenang (the tranquallised, al-nafs al-muthma’innah), dan ruh yang merupakan urusan Allah (al-ruh min amr rabbi. Bagi al-Ghazali, keunggulan manusia terletak pada kelebihannya dari makhluk lain dalam mengetahui Tuhan, yang dipuja di dunia, dimana alat istimewa yang digunakan untuk itu adalah hati melalui taqarrub kepada Allah, beramal saleh dengan tulus ikhlas, berserah diri kepada Allah sesuai dengan petunjuk melalui wahyu yang diturunkan-Nya. Manakala disebut jiwa, hal yang kiranya menjadi esensi jiwa itu adalah hati manusia.

Relevansi dari hati sebagai esensi jiwa manusia tersebut kiranya terletak pada penjelasan al-Ghazali mengenai isi sebuah hadits yang berbunyi “man ’arafa nafsahû, ’arafa rabbahû”. Dalam menanggapi hadits ini, al-Ghazali tidak lantas menyimpulkan bahwa jiwa manusia itu sendiri aslinya adalah Tuhan, ia mengetahui Tuhan, karena memiliki kesan sifat. Ruh manusia ada dalam “urusan Tuhan (amr rabb). “Amr” memiliki arti yang bukan hanya sekedar perintah (command) karena menyangkut ruh ketuhanan. Bagi al-Ghazali rahasia diri dan sisi batin manusia (sirr al-qalb) merupakan bagian dari ketuhanan, sebagai sinar dari Cahaya Tuhan, kilatan dari Api Abadi, di dalam dan kepada-Nya tersingkap Realitas Tertinggi, bayangan dari keseluruhan wujud dan dia juga dipenuhi oleh Cahaya Tuhan dan teramat Nyata.

Al-Ghazali melihat bahwa sesuatu yang istimewa di dalam diri manusia adalah hatinya. Dalam konteks tasawuf, keistimewaaan itu disebabkan oleh karena salah satu media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yakni Allah s.w.t. adalah hati manusia itu sendiri. Meskipun di samping hati masih banyak media lain untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, namun yang jelas hati merupakan potensi yang paling besar bagi manusia untuk dekat kepada Tuhan. Manusia memang memiliki potensi dan sifat-sifat ketuhanan atau yang sering disebut dengan istilah sifat “lahut”, namun demikian, potensi itu harus senantiasa diasah dan diaktualkan sehingga ia senantiasa hidup. Bisa dipastikan bahwa siapa-siapa yang mampu menguasi jiwanya atau hatinya, maka ia akan memiliki kemampuan lebih besar untuk dapat mengenal Tuhan.

Jiwa Manusia dan Tuhan

Al-Ghazali menerangkan bahwa jiwa manusia sebagai urusan Tuhan (min al-umûr al-Ilâhiyyah), lebih mulia dan lebih agung daripada jasad manusia sendiri. Sementara dalam karyanya yang lain, al-Ghazali menjelaskan bahwa badan manusia adalah tipe dari dunia yang lebih rendah, sedangkan ruh manusia merupakan tipe dunia yang lebih tinggi. Jiwa rasional ibarat gubernur yang mengatur, memerintah, mengontrol dan mengeluarkan perintah atau larangan dan melaksanakan kehendak yang dimauinya; dialah Wakil Allah di alam jasad dan kalamullah dalam kaitannya dengan bentuk lahirnya. Jiwa rasional ini ibarat meniti jembatan menuju Tuhan yang membentang dari sifat orang kasar, yang tercemar oleh setan, jahat, sampai ke sifat malaikat. Ketika dia mendaki dari langit, kemudian terus naik lagi sampai akhirnya fana ke dalam keagungan-Nya.

Al-Ghazali pernah menukil sebuah hadits dimana Rasulullah bersabda: “Tiap hamba memiliki dua mata dalam hatinya, yaitu mata yang melihat hal-hal yang ghaib, dan manakala Tuhan menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, maka Allah akan membukakan mata hatinya, sehingga dia mampu melihat sesuatu yang tersembunyi dari pandangan luarnya”. Arbâb al-qulûb, (spiritual minded), melihat dengan mata batin, yang lebih jelas dari mata biasa. Mata luar dapat salah melihat, misalnya melihat sesuatu yang jauh terlihat dekat, besar terlihat kecil, tetapi penglihatan batin tidak akan salah. Baik mata lahir maupun mata batin, masing-masing memiliki matahari dan cahaya yang menjadikan penglihatannya sempurna. Dunia materi memiliki sumber cahaya. Akal budi memiliki sumber cahaya juga, dan sumber cahaya dari dunia spiritual adalah kalamullah.

Betapa pentingnya peran jiwa rasional tersebut dalam pandangan al-Ghazali hingga jiwa rasional diibaratkan sebagai sebuah jembatan menuju Tuhan. Jiwa rasional dapat mengubah kehidupan seseorang yang sebelumnya bergelimang dosa dan dalam kebodohan yang jauh, hingga kembali kepada pangkuan Tuhan di bawah sinaran cahaya-Nya. Namun demikian, hal ini tidak bisa dilepaskan dari peristiwa dibukanya hati dan jiwa oleh Tuhan untuk melihat kebenaran-kebenaran-Nya, hal mana membawa manusia kepada penonjolan dimensi-dimensi batinnya. Al-Ghazali nampaknya menjelaskan kehebatan aspek-aspek kejiwaan dan batin manusia, dimana menurutnya penglihatan batin lebih mampu memberikan petunjuk dan arahan kepada manusia dalam melihat dan menilai sesuatu.

Namun demikian, di sisi lain, al-Ghazali menilai adanya sensitifitas tertentu pada jiwa manusia, dimana jiwa terkadang mengalami gangguan-gangguan serius sehingga ia mengalami hambatan tertentu untuk mengenal Tuhannya. Al-Ghazali menilai bahwa nafsu manusia, seperti keinginan duniawi akan menjadi penghalang bagi jiwa dalam melihat dunia ghaib Tuhan. Sepanjang penghalang itu masih belum tersingkirkan dari mata hatinya, maka ia tidak akan mampu melihat hal-hal yang tersembunyi. Namun, ketika penghalang itu dihapus, terutama bagi hamba pilihan-Nya, maka tidak diragukan lagi jiwa manusia dapat melihat dunia Tuhan dan merenungkan keajaiban-keajaiban-Nya. Jiwa manusia adalah cermin yang mampu merefleksikan kebenaran dan kesempurnaan, jiwa inilah yang membedakannya dengan binatang yang lebih rendah. Namun amat disayangkan bahwa cermin ini seringkali terselubung oleh debu yang menghalangi pantulan cahaya. Begitu penghalang itu dihapuskan, baik oleh tangan maupun oleh angin yang berhembus, maka berhembuslah karunia Tuhan ke dalam hati manusia, dan tersingkaplah kebenaran abadi.

Bacaan Lebih Lanjut

Baca juga:

PENCAPAIAN KESEMPURNAAN MANUSIA MENURUT AL-GHAZALI 

KIAT MENGGAPAI KEBAHAGIAAN  MENURUT ABU HAMID AL GHAZALI

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

  1. arif sulaiman says:

    By.arif
    Bagaimana cara membuat karakter manusia untuk menjadi pribadi yg baik dalam pandangan tasawuf,sedangkan untuk zaman sekarang ini semua yg berbau tontonan menjadi tuntunan,sedangkan tontonan menjadi tuntunan,sedangkan dalam perspektif tasawuf manusia harus memiliki sifat yg mana membersihkan hati,mensyucikan pikiran,apa kah semudah itu manusia bisa menjadi pribadi sempurna sesuai dengan perspektif tasawuf,dan bagaiman berubah manusia menjadi pribadi baik,berasap,serta bertanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!