BINA RUHANI

KESEMPURNAAN MANUSIA MENURUT IBN ‘ARABI

Gagasan Kesempurnaan Manusia

Gagasan-gagasan tentang manusia dalam perspektif Ibn ‘Arabi (560 H/1165 M – 638 H/ 1240 M) dan Jalaluddin Rumi (604 H/1207 M – 627 H/1273 M) banyak bertolak dari sisi kesempurnaan manusia. Ibn ‘Arabi sendiri pernah menjelaskan alasan mengapa manusia itu sempurna, jawabannya tidak lain karena Tuhan baru dapat melihat citra diri-Nya secara sempurna dan utuh pada Adam (manusia) sebagai cermin yang terang, atau sebagai ruh dalam jasad. Namun demikian tidak semua manusia menurut Ibn. ‘Arabi termasuk dalam kategori yang demikian. Manusia yang dimaksud dalam penjelasan Ibn. ‘Arabi tersebut adalah al-Insân al-Kâmil, yang pada dirinya tercermin nama-nama dan sifat-sifat Tuhan secara sempurna. Manusia yang demikian dijadikan Tuhan sebagai ruh alam. Segenap alam ini tunduk kepadanya karena kesempurnaannya. Ini berarti bahwa Tuhan hanya bertajalli kepada manusia tertentu, yakni kepada manusia yang telah mencapai derajat Insan Kamil.

al-Insân al-Kâmil  sebagai Mikrokosmos

Dengan argumennya tersebut, Ibn. ‘Arabi kemudian menyebut al-Insân al-Kâmil sebagai miniatur dan realitas ketuhanan dalam hal tajalli-Nya pada jagad raya. Oleh karena itu, Ibn ‘Arabi menyebutnya sebagai al-‘âlam al-shaghîr yakni alam kecil atau mikrokosmos. Pada Insan Kamil ini tercermin bagian-bagian dari jagad raya (makrokosmos). Esensi Insan Kamil merupakan cermin dari esensi Tuhan; jiwanya sebagai gambaran dari al-Nafs al-Kulliyah (jiwa universal) dimana tubuhnya mencerminkan ‘Arasy, pengetahuannya mencerminkan pengetahuan Tuhan, hatinya berhubungan dengan Bayt al-Ma’mur, kemampuan mental spiritualnya terkait dengan malaikat, daya ingatnya dengan saturnus (zuhal), daya inteleknya dengan yupiter (al-Musytar) dan lainnya.

Sebagaimana diterangkan Affifi, Ibn ‘Arabi berpendapat bahwa kesempurnaan Insan Kamil pada dasarnya disebabkan karena pada dirinya Tuhan ber-tajalli secara sempurna melalui hakikat Muhammad (al-haqîqah al-Muhammadiyah). Hakikat Muhammad (nur Muhammad) merupakan wadah tajalli Tuhan yang paripurna, dan merupakan makhluk yang paling pertama diciptakan oleh Tuhan. Ia telah ada sebelum penciptaan Adam a.s. Oleh karena itu, Ibn ‘Arabi juga menyebutnya dengan “akal pertama” (al-‘aql al-awwâl) atau “pena yang tinggi” (al-qalam al-a’lâ). Dialah yang kemudian menjadi sebab penciptaan alam semesta dan sebab terpeliharanya.

Wadah Tajalli Tuhan

Dalam konteks ini, kesempurnaan dan keistimewaan manusia dikarenakan bahwa manusia merupakan wadah dari tajalli Tuhan sehingga ia mampu mencerminkan nama-nama Tuhan. Dapat juga dikatakan bahwa Insan Kamil merupakan poros dari jagad raya atau alam semesta. Pada dirinya tercermin segala esensi realitas, dan bahkan pada dirinya pula tercermin keindahan dan kesempurnaan Tuhan. Namun demikian, yang perlu ditekankan dalam hal ini adalah bahwa tidaklah semua manusia memiliki derajat Insan Kamil. Pertanyaan-pertanyaan penting yang perlu dipecahkan adalah mengapa hanya pada manusia Tuhan dapat bertajalli dengan sempurna?, dan bagaimana ketentuan pengidentifikasian Insan Kamil pada manusia?

Sebab Penciptaan Alam

Dalam disertasinya yang berjudul Pengembangan Konsep Insan Kamil Ibn ‘Arabi oleh al-Jili, Yunasril Ali menjelaskan bahwa menurut Ibn ‘Arabi, hakikat Muhammad yang menjadi inti Insan Kamil adalah sebagai penyebab penciptaan alam, karena pada dasarnya, penciptaan alam ini merupakan kehendak Tuhan agar Dia (Tuhan) dapat dikenal dan dapat melihat citra diri-Nya. Akan tetapi, maksud tersebut tidak dapat terwujud secara sempurna, karena alam tidak dapat mengenal-Nya, kecuali hanya manusia yang dapat mengenal-Nya. Oleh karena itu, pada hakikatnya manusialah yang menjadi sebab adanya alam. Manusia di sini ialah manusia yang secara sempurna mengidentifikasikan hakikat Muhammad, yakni Insan Kamil, karena dialah yang paling bisa mengenal Tuhan. Dengan demikian, terdapat hubungan kausalitas yang kuat antara kelebihan dan keistimewaan manusia – dibanding alam – dengan mampunya manusia mengenal Tuhan sehingga ia menjadi wadah tajalli-Nya.

Yunasril juga menambahkan bahwa alam ini terpelihara karena adanya Insan Kamil. Ini merupakan akibat logis dari kedudukan manusia sebagai sebab terciptanya alam dan sebagai wadah tajalli Tuhan. Seandainya “sebab” telah hilang, maka “akibat”-nya pun tentu akan hilang juga. Atau dengan kata lain, kalau keinginan Tuhan untuk dikenal telah hilang, tentu ia akan menghilangkan manusia dan berhenti ber-tajalli, maka alam pun akan lenyap. Sebagai sebab bagi adanya alam, maka manakala Tuhan meniadakan Insan Kamil, maka dengan serta merta alam akan hilang juga. Kesempurnaan manusia di samping terletak pada kemampuannya dalam menampung tajalli Tuhan, ia juga dapat menjadi penentu bagi maujud tidaknya alam.

Ikhtiar Menjadi Insan Kamil

Satu pertanyaan terakhir adalah apa ketentuan pengidentifikasian manusia bisa dikatakan sebagai Insan Kamil? Dalam konteks ini, kembali Yunasril Ali menjelaskan bahwa setiap manusia – menurut pemahaman Ibn ‘Arabi – merupakan citra Tuhan, tetapi itu hanya secara potensial. Insan Kamil adalah suatu citra-Nya yang aktual, karena pada dirinyalah termanifestasi nama-nama dan sifat-sifat Tuhan, namun citra itu tidak sempurna sebelum ia menyadari sepenuhnya kesatuan esensialnya dengan Tuhan. Dengan demikian, setiap Insan Kamil adalah seorang sufi, karena hanya dalam tasawuf kesadaran semacam itu bisa diperoleh. Ini berarti bahwa ada harapan besar bagi semua manusia untuk memperoleh derajat Insan Kamil, karena semua manusia memiliki potensi akan hal itu. Namun demikian, penjelasan-penjelasan Ibn ‘Arabi menyiratkan makna bahwa setiap manusia harus berusaha mengaktualkan potensi Insan Kamil yang ada di dalam dirinya. Jika manusia telah mengadakan usaha-usaha batini dan latihan spiritual hingga ia menyadari kesatuan esensialnya dengan Tuhan, maka di sinilah ia memperoleh derajat Insan Kamil.

Bacaan Lebih Lanjut

Baca juga:

PENCAPAIAN KESEMPURNAAN MANUSIA MENURUT AL-GHAZALI

KESEMPURNAAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF TASAWUF BAGIAN 1

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!