PERADABAN ISLAM

KHALIFAH ABU BAKAR AL-SHIDDIQ

Karakter Abu Bakar al-Shiddiq

Aku telah diangkat menjadi Khalifah tuan-tuan, padahal aku tidaklah lebih baik daripada tuan-tuan. Kalau aku berbuat baik, bantulah aku; sebaliknya kalau aku menyeleweng, luruskan kembali jalanku.

“Abu Bakar termasuk seorang laki-laki yang pertama kali masuk Islam, selain seorang sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah sebelum dan sesudah kenabiannya. Dia juga menemani Rasulullah ketika berhijrah ke kota Madinah, dan mengikuti berbagai peperangan bersama Rasulullah. Dia digelar Al-Shiddiq karena senantiasa membenarkan (shaddaqa) semua hal yang dibawa oleh Muhammad, atau karena dia tidak pernah berkata kecuali yang benar. Abu Bakar juga merupakan mertua Nabi SAW. Karena putrinya, Aisya, dinikahi Nabi. Nabi pernah mengutusnya memimpin kaum Muslim melakukan ‘ibadah haji sebagai penggantinya pada tahun kesembilan Hijriah. Selain itu, dia juga pernah mengganti kedudukan Nabi menjadi imam shalat ketika Nabi sakit. Itulah antara lain yang mendorong kaum muslim memilihnya sebagai khalifah setelah Rasulullah SAW wafat. Dialah khalifah pertama diantara para al-Khulafa’ al-Rasyidun”.

“Sebelum masuk Islam, Abu Bakar adalah seorang pedagang. Setelah masuk Islam, dia begitu cepat menjadi anggota yang paling menonjol dalam jama’ah Islam setelah Nabi. Dia terkenal karena keteguhan pendirian, kekuatan iman, kesetiaan, dan kebijakan pendapatnya. Kalaupun dia hanya satu atau dua kali diangkat menjadi panglima perang oleh Nabi-tidak seperti Ali bin Abi Thalib yang sangat lincah dalam memimpin peperangan-hal itu barangkali disebabkan Nabi menghendaki agar Abu Bakar mendampinginya untuk bertukar pendapat atau berunding”.

“Kebijakan dan keteguhannya tampak pada hari-hari yang sangat kritis sepeninggalan Rasulullah SAW, ketika sebagian orang-antara lain Umar-tidak percaya bahwa nabi telah wafat, Abu Bakar membenarkannya. Abu Bakar pada sa’at itu menyampaikan khotbahnya yang sangat terkenal. Isinya antara lain, ”Ketahuilah, siapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Dan barang siapa yang menyembah Allah,maka sesungguhnya Allah Maha Hidup,tidak mati. ”Abu Bakar mengingatkan mereka bahwa sesungguhnya dakwahnya hanyalah untuk Allah semata, untuk melaksanakan syari’at-Nya. Sedangkan, Rasulullah adalah seorang manusia yang memberi peringatan dan kabar gembira. Kalaupun Rasulullah meninggal dunia, ajaran-ajaran yang dibawanya tidak akan mati”.

Peristiwa Meninggalnya Muhammad saw

“Ibnu menuturkan,”ketika Rasulullah meninggal dunia, terjadi hiruk pikuk,kekacauan dan kebingungan di tengah kaum muslimin. Maka, diantara mereka ada yang kaget dan tercengang luar biasa hingga bingung dan tidak bisa berfikir lagi, ada yang langsung terduduk hingga tidak mampu lagi berdiri, ada yang lidahnya langsung kelu hingga tidak mampu berkata-kata, dan ada yang menyangkal total dan sama sekali tidak mempercayai kematian beliau”. “Al-Qurthubi menggambarkan betapa besar musibah yang terjadi tersebut berikut berbagai dampak yang muncul. Al-Qurthubi menuturkan, ”Diantara musibah yang paling besar adalah musibah dalam agama. Rasulullah bersabda, ”Jika salah seorang dari kalian mengalami suatu musibah, maka hendaklah ia mengingat musibah yang menimpa dirinya dengan kematianku, karena itu adalah musibah yang paling besar.

Dan benarlah adanya apa yang disabdakan Rasulullah tersebut. Karena musibah dengan kematian beliau adalah musibah yang paling besar dari semua musibah yang dialami oleh seorang Muslim sampai Hari Kiamat”. “Karena dengan meninggalnya Rasulullah, maka itu berarti terputusnya wahyu dan matinya kenabian. Setelah kematian Rasulullah, mulai muncul benih-benih keburukan dengan kemurtadan orang ‘Arab lainnya. Kematian Rasulullah adalah titik awal berkurangnya kebaikan”. (Tafsir Al-Qurthubi,2/179).

“Ibnu Ishaq menuturkan, ”Ketika Rasulullah meninggal dunia, maka itu adalah musibah sangat besar menimpa kaum muslimin. Menurut keterangan yang sampai kepadaku, Aisyah berkata, ”Ketika Rasulullah meninggal dunia, orang-orang ‘Arab banyak yang murtad, Yahudi dan Nasrani mulai menggeliat dan menjulurkan lehernya, kemunafikan mulai terlihat, dan kaum muslimin menjadi seolah-olah laksana seperti sekumpulan kambing di tengah malam yang hujan dan dingin karena kehilangan Nabi mereka”.

“Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-‘Arabi berkata , ”Situasi dan kondisipun kacau. Meninggalnya Rasulullah menjadi sebuah pukulan keras dan musibah yang paling besar. Adapun Ali bin Abi Thalib, maka ia memilih menutup diri dirumah fathimah. Sedangkan Utsman bin ‘Affan terdiam membisu seribu bahasa. Sementara Umar bin Khattab kehilangan kontrol hingga mengatakan kata-kata ngelantur, ”Rasulullah tidak mati, tetapi beliau hanya memiliki janji bertemu dengan tuhan beliau sebagaimana Nabi Musa, dan Rasulullah pasti akan kembali, lalu beliau akan memotong tangan dan kaki-kai sejumlah orang”.

“Ketika Abu Bakar al-Shiddiq mendengar beritanya meninggalnya Rasulullah, maka beliaupun bergegas menaiki kudanya dari rumahnya di As-Sunh, kemudian ia masuk masjid tanpa bicara sepata kata pun kepada orang-orang dan langsung masuk kebilik ‘Aisyah. Lalu ia mendekati jasad Rasulullah yang waktu itu ditutup dengan kain bermotif. Lalu ia membuka kain yang menutup wajah Rasulullah, kemudian memeluknya, menciumnya dan ia pun menangis. Kemudian ia berkata, ”Demi Allah, sungguh Allah tidak meberi dua kematian kepada anda. Adapun kematian yang telah ditetapkan atas anda,maka anda sudah menjalaninya”. (HR.Bukhari, kitab Al-Maghazi, no. 4452).

“Abu Bakar Al-Shiddiq pun keluar, sedang waktu itu Umar bin Khatthab masih terus berbicara. Lalu Abu Bakar Al-Shiddiq berkata kepadanya, ”Duduklah wahai ‘Umar. ”namun ‘Umar bin Khatthab masih terus berbicara dengan penuh luapan emosi dan kemarahan. Lalu Abu Bakar Al-Shiddiq berdiri untuk menyampaikan pidato kepada orang-orang. Setelah membaca tasyahhud (kalimat pembuka dalam pidato), maka ia pun berkata, ”Amma ba’du, maka barang siapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal. Dan barang siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup Kekal tiada akan meninggal. ”kemudian ia membacakan ayat”.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Muhammad itu tidak lain hanya seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia meninggal atau dibunuh, kamu berbalik kebelakang(murtad)?barang siapa yang berbalik kebelakang, maka ia tidak dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. ”(Ali Imran:144)”.

“Lalu orang-orangpun menangis tersedu-sedu. ’Umar bin Khatthab berkata, ”sungguh ketika aku mendengar Abu Bakar Al-Shiddiq membaca ayat itu, maka seketika itu juga aku langsung terjatuh lemas, dan aku pun sadar bahwa Rasulullah memang benar-benar telah meninggal dunia”. (HR.Al-Bukhari,kitab Al-Maghazi, no.4454).

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Amirul Mukminin

“Setelah bai’at pelantikannya, Khalifah Abu Bakar ra. Terus mengucapkan sebuah pidato pelantikan yang bernas, yang menggariskan politik kebijaksanaannya dalam memimpin umat Islam, yang setelah memuji Allah SWT. Dan mengucapkan shalawat kepada Rasulullah SAW, antara lain khotbah bai’at beliau berbunyi”:

“Wahai manusia!

Aku telah diangkat menjadi Khalifah tuan-tuan, padahal aku tidaklah lebih baik daripada tuan-tuan. Kalau aku berbuat baik, bantulah aku; sebaliknya kalau aku menyeleweng, luruskan kembali jalanku.

Kebenaran adalah amanah, dan kedustaan adalah khianat. Orang lemah diantara kamu adalah kuat disisiku sehingga haknya kukembalikan kepadanya; dan orang kuat diantaramu adalah lemah disisiku sehingga kuambil kembali darinya hak orang yang dirampasnya, insya Allah!

Janagnlah seorangpun diantara kamu meninggalkan jihad, karena sesuatu kaum yang meninggalkan jihad, Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka.

Ta’atlah kepadaku selama aku mena’ati Allah; apabila aku mendurhakai Allah, kewajiban ta’atmu kepadaku tidak ada lagi.
Tunaikanlah shalatmu, niscaya Allah akan memberi rahmat kepadamu!”

Pidato singkat ini telah membentangkan dengan jelas garis politik yang akan dijalankannya; dijelaskannya kewajiban dan hak rakyat, disamping jaminan adanya kebebasan mengeluarkan pendapat. Ditegaskannya, bahwa kekuatan orang zalim tidak akan dapat menghambatnya dalam menjalankan keadilan, dan keta’atan kepada Allah SWT. Adalah syarat dari kepatuhan rakyat.

“Tatkala para Muhajirin dan Anshar bertikai mengenai pengganti Rasulullah-pertikaian itu hampir saja menyulut pembunuhan dan perpecahan di antara mereka –peran Abu Bakar sangat besar dalam meredakan kekhawatiran orang Anshar terhadap tindakan semena-mena kaum Muhajirin, dia berhasil mendamaikan mereka agar tetap hidup bersatu, menyingkirkan perpecahan dan permusushan demi tegaknya agama Islam”.

“Ketika sebagian kabilah bangsa ‘Arab enggan mengeluarkan zakat, dua minggu setelah dirinya di angkat menjadi khalifah, Abu Bakar berpendapat bahwa orang yang tidak mau mengeluarkan zakat itu murtad. Karena, barang siapa yang mengingkari zakat sebagai rukun Islam, hal itu akan berlanjut kepada pengingkaran yang lebih besar. Oleh karena itu, Abu Bakar merencanakan peperangan terhadap mereka meskipun sebagian sahabat menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk itu, bahkan menakuti Abu Bakar bahwa jumlah musuh lebih banyak sehingga setan akan menungganginya sebagaimana layaknya dia menaiki tunggangan. ”Demi Allah,jika mereka mencegahku untuk melakukan itu, aku akan tetap memerangi mereka. Aku akan meminta pertolongan kepada Allah. Karena, sesungguhnya Dia sebaik-baik penolong, ”tekad Abu Bakar”.

كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ…

“Betapa banyak golongan yang jumlahnya sedikit tetapi mereka mampu mengalahkan golongan yang jumlahnya banyak dengan izin Allah. Dan Allah akan beserta orang-orang yang sabar”. (QS.Al-Baqarah:249)

“Ketika banyak orang yang kembali kepada kepercayaan semula setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, dan muncul beberapa orang yang mengaku sebagai nabi, dengan segera Abu Bakar mengirimkan pasukan untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. Apabila mereka enggan menerima ajakan itu, pasukan perang itu akan menyerang mereka dan tidak menerima siapapun kecuali dia telah masik Islam. Dengan tindakan ini, khalifaj yang dikenal dengan sifat kasih sayang dan kelembutannya, kini menampakkan keberanian, kekerasan, kemauan yang dahsyat, agar kelemahan tidak merasuk kedalam jiwa kaum Muslim. Negara baru yang masih sangat muda usianya telah menghadapi kendala berat yang hampir melemahkan dan membunuhnya”.

Sumber Rujukan

Husayn Ahmad Amin,Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2003)
Prof.dr.Ali Muhammad Ash-Shalabi,Biografi Abu Bakar Al-Shiddiq, (Jakarta:Pustaka Al-Kautsar,2013)
Prof.Dr.Alaiddin Koto,M.A,Sejarah Peradilan Islam. (Jakarta: Rajawali Pers,2012)

Penulis: Heriyanto (Mahasiswa Pascasarjana UIN STS Jambi)

Mahasiswa Pasca

Mahasiswa Pascasarjana adalah Mahasiswa Program Magister pada UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!