TEOLOGI

KHAWĀRIJ DAN KHAWĀRIJISME

Pembahasan ini ditujukan sebagai pembuka diskusi untuk para pembaca, jadi sengaja tidak terlalu panjang. Tujuannya tidak lain untuk mengingat pola-pola pemikiran keagamaan yang pernah ada di masa lalu agar kita dapat menilai dan mengambil pelajaran darinya, pemikiran mana yang masih layak dipegangi dan harus ditinggalkan.

[toc title=”Pembahasan dalam Artikel ini Meliputi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Asal Mula

Kata Khawārij berasal dari akar kata Kharaja yang berarti keluar, dan secara terminologi kata itu berasal dari disiplin ilmu kalam yang berarti orang-orang yang keluar dari golongan Ali ibn Abi Thalib. Khawārij kemudian menjadi salah satu aliran teologi atau kalam dalam dunia IslamBerikut asal muasal Firqah atau sekte Khawārij dari sisi bahasa.

  1. Khawārij: orang-orang yang keluar, dihubungkan dengan al-Qur’an surat an-Nisa: 100,
  2. Syūrah; orang-orang yang menjual dirinya (mengorbankan diri) untuk mencari ridha Allah, dihubungkan dengan al-Qur’an surat al-Baqarah: 207,
  3. Harūriyyah, orang-orang yang berkumpul di Desa Harura Kufah Irak dan mengangkat ‘Abdullah ‘Ibn Abi Wahb al-Rāsyidi sebagai pemimpin baru pengganti Ali ibn Abi Thalib.

Namun demikian, asal mula penyebutan golongan Khawārij pada sebutan kedua dan ketiga bisa menimbulkan perdebatan, mengingat kelompok ini muncul setelah Rasulullah Muhammad saw.

Peristiwa Takim atau Arbitrase

Para sejarawan Islam seperti Ahmad Amin dan al-Syahrastani banyak mengaitkan kelahiran Khawārij dengan peristiwa takīm atau arbitrase (penyelesaian melalui pihak ketiga) atas konflik antara Ali ibn Abi Thalib dan Mu‘awiyah yang berlangsung sekitar tahun 37 H di Daumatul Jundal sebuah tempat di Irak. Ketika kelompok Mu‘awiyah telah terdesak dan hampir kalah, panglima pasukan dari Mu‘awiyah yakni Amr ibn Ash mengacungkan al-Qur’an dengan ujung tombak seraya mengajak semua pihak untuk berdamai melalui mekanisme penyelesaian dengan perantara pihak ketiga yang lazim disebut takīm atau arbitrase.

Mereka yang menjadi Khawārij atau keluar dari kelompok Ali merasa kecewa terhadap hasil arbitrase dan menganggap salah semua pihak yang terlibat dalam takīm tersebut, baik kelompok Ali maupun Mu‘awiyah. Dalam arbitrase ini pihak Ali diwakili oleh Abu Musa al-Asy‘ari dan dari pihak Mu‘awiyah diwakili oleh Amr ibn Ash. Para sejarawan menggambarkan Abu Musa al-Asy‘ari sebagai seorang sahabat yang saleh dan bukan tipe seorang yang paham strategi politik, sementara Amr ibn Ash merupakan pribadi yang ulung dalam strategi politik. Kondisi ini yang dianggap mempengaruhi hasil arbitrase yang hanya menyalahkan Ali dan membenarkan Mu‘awiyah hingga tragisnya hanya mengakui ke-khalifahan Mu‘awiyah. Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa sebenarnya dalam sidang musyawarah, baik Abu Musa maupun Amr ibn Ash sepakat untuk memfonis Ali dan Mu‘awiyah sebagai pihak yang sama-sama salah dan tidak memberikan jabatan khalifah kepada keduanya. Namun ketika Amr ibn Ash membacakan hasil musayawarah atau arbitrase, dia hanya menyebut Ali yang salah dan membenarkan Mu‘awiyah serta memberikan jabatan kehalifahan kepada Mu‘awiyah.

Kobaran Konflik Khawārij

Hasil arbitrase yang merugikan pihak Ali ibn Abi Thalib mengakibatkan perpecahan internal dalam kelompok Ali. Sebagian anggota Ali merasa kecewa dan menganggap Ali bersalah sehingga mengakibatkan kekalahan Ali secara politis, memilih keluar dari kelompok Ali. Mereka inilah yang kemudian disimbolkan dengan sebutan Khawārij yang berarti orang-orang yang keluar dari kelompok Ali. Mereka memisahkan diri ke Harura, sebuah daerah di Kufah Irak dan karena tempat ini kaum Khawārij sering disebut sebagai Harūriyyah. Mereka kemudian mengangkat Abdullah ibn Abi Wahb al-Rasyidi sebagai pemimpin pengganti Ali. Sementara sebagian anggota Ali yang tetap setia kepada Ali memilih untuk terus mendukung Ali, yang kemudian disebut sebagai Syi‘ah.

Kelompok Khawārij memandang bahwa semua pihak; Ali, Mu‘awiyah, Abu Musa al-Asy‘ari, maupun Amr ibn Ash sebagai pihak yang bersalah karena telah mengadakan arbitrase yang mereka nilai sebagai mengambil keputusan dan menetapkan hukum tanpa berpegang pada hukum Allah. Di sinilah kemudian mereka menyandarkan penilaian mereka pada sebuah ayat dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 44: “Barangsiapa yang memutuskan perkara dengan selain hukum Allah, maka mereka adalah orang-orang Kafir”. Kelompok Khawārij kemudian mengklaim bahwa semua pihak yang terlibat dalam taḥkīm atau arbitrase telah kafir.

Dengan demikian, Khawārij berada pada posisi konflik di mana mereka memusuhi hampir semua golongan atau mainstream Ummat Islam, baik dalam kelompok Ali maupun Mu‘awiyah. Posisi ini sangat menyulitkan mereka untuk dapat berbaur atau berinteraksi dengan Ummat Islam kebanyakan hingga menjadikan mereka sebagai kelompok sempalan, ekslusif, dan teralienasi. Sebagaimana yang akan diuraikan nanti, hampir kebanyakan pemikiran keagamaan mereka menjadi radikal sebagai akibat dari pemisahan dan pemutusan interaksi dengan kebanyakan kaum Muslim yang lain. Mereka dikenal sebagai penggagas paham egalitarianisme dan apa yang dikenal sekarang sebagai demokrasi dalam kenegaraan. Hal itu karena mereka memiliki gagasan bahwa Amirul Mukminin tidak harus berasal dari kalangan Qurays melainkan bisa dari unsur Ummat Islam yang lain. Gagasan ini bisa jadi merupakan respon atas situasi sosial politik kala itu yang terus-menerus meninggikan posisi sosial kaum Qurays.

Ajaran Pokok Khawārij pada Masa Pertumbuhannya

Secara umum, akidah dan muamalah Khawārij seperti pada umumnya Ummat Islam yakni memegangi Rukun Islam dan Rukun Iman, mengakui Allah SWT sebagai Tuhan dan Rasulullah Muhammad saw sebagai Nabi dan Utusan Allah SWT. Hanya saja, Khawārij memiliki ajaran aliran yang bersifat ekslusif dan radikal sehingga sifat radikal dan eksklusif inilah yang lebih mencirikan mereka daripada aliran lainnya. Doktrin pokok dari Khawārij antara lain:

  1. Mengumumkan status Kāfir untuk Ali ibn Abi Thalib, Mu‘awiyah, Abu Musa al-Asy‘ari, dan Amr ibn Ash serta orang-orang yang menyetujui mekanisme takīm,
  2. Takfir atau vonis Kāfir kepada pihak yang tidak setuju dengan prinsip Khawārij atau pihak yang berlainan keyakinan,
  3. Kebolehan membunuh pihak-pihak yang disebut di atas.

Itulah doktrin pokok Khawārij di masa awal pertumbuhannya sehingga membedakan antara mereka dengan Ummat Islam pada umumnya. Tentu saja doktrin ini mengejutkan banyak pihak mengingat semasa hidupnya tidak pernah mem-vonis seorang menjadi Kāfir dan lebih mengedepankan hikmah dan kasih sayang. Pada masa awalnya, Khawārij disebut juga dengan Muakkimah walau ada juga penulis yang menggolongkan Muakkimah sebagai sekte tersendiri dalam aliran Khawārij.

Sekte-sekte Khawārij

Khawārij terkenal dengan kepemilikan sekte yang banyak, dari sebuah sekte dapat melahirkan sekte yang lain. Hal ini mencerminkan dinamisnya perdebatan dan pro-kontranya pemikiran keagamaan yang berproses secara evolusi dan pencarian bentuk ajaran yang baru. Terdapat pendapat beragam terkait dengan jumlah sekte dalam Khawārij, ada yang menyebut hingga puluhan jumlahnya.

  1. Al-Azariqa, dihubungkan dengan pendirinya yaitu Nafi’ ibn al-Azraq sebagai sisa-sisa Khawārij pertama yang diorganisir.
  2. Al-Najadat, dihubungkan dengan pendirinya yakni Najda ibn ‘Amir al-Hanafi.
  3. Al-Ajarida, dihubungkan dengan pendirinya yaitu ‘Abd ar-Rahman ibn ‘Ajrad.
  4. Al-Syurriyyah yang dipimpin oleh ibn al-Asfar.
  5. Al-Fudakiyya, dihubungkan dengan pendirinya Ibn Fudaik .
  6. Al-‘Atawiyya, dihubungkan dengan pendirinya ‘Atiyya ibn al-Aswad.
  7. Al-Saltiyya, dihubungkan dengan pendirinya yaitu ‘Uthman ibn as-Salt.
  8. Al-Akhnasiyya, dihubungkan dengan pendirinya yaitu al-Akhnas.
  9. Al-Ibadiyya dihubungkan dengan pendirinya yaitu Abd ibn Ibad.
  10. Al-Shimrakhiyya dihubungkan dengan pendirinya yaitu ‘Abdullah ibn ash-Shimrakh.
  11. Sekte-sekte lain yang penelusuran keorganisasiannya belum dapat dipastikan seperti; Al-Jazimiyya, Al-Majhuliyya, Al-Zafariyya, Al-Hafsiyya, Al-Bahnasiyya, Al-The Bida‘iyya. (Bersambung)

Sumber gambar: twitter.com/historyfacts247

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

  1. Bagaimana menurut pandangan bpk,
    Ada orang pemuda yg sudah berkeluarga,tetapi pemuda tersebut tidak pernah mengijinkan anak serta istrinya keluar rumah, dan tidak ingin bermasyarakat, aktivitas sehari2nya hanya bekerja terus, tetapi mereka ibadahnya sangar tekun, apakah mereka tergolong orang khawarij.

    • Selagi tidak ada tanda-tanda seperti; ekstrimisme, tertutup, tidak menganggap orang di luar mereka sebagai tidak islami, salah, dan kafir, orang-orang seperti itu bukan khawarij. Meski demikian, sebaiknya kita tidak memiliki sifat tertutup di tengah-tengah masyarakat, dan sebabagi sesama Muslim wajib menjalin Ukhuwah Islamiyah dengan siapapun.

  2. M.Kurdani fauzi says:

    ass pak? saya ingin bertanya masalah kaum kawarij, menurut pandangan bapak, apa yang menyebabkan kaum kawarij berani memvonis seorang muslim yang lain, jika muslim tersebut tidak sama atau tidak sependapat dengan mereka, dan, saya pernah mengalami hal serupa pak, ktika saya bertemu dengan kaum WAHABI, jadi, apakah kaum WAHABI ini termasuk kedalam golongan kaum kawarij?

    • Wahabi jelas berbeda dengan Khawarij, karena Wahabi masih dikategorikan sebagai gerakan pembaharuan Islam dalam kategori Purifikasi atau pemurnian agama dari praktek-praktek yang tidak sesuai dengan Islam. Tetapi Wahabi yang ekstrim bisa saja memiliki sifat atau sikap yang sama dengan Khawarij khususnya pada sifat radikal dan rigidnya atas teks, tetapi tidak sampai menganjurkan untuk membunuh dan sejenisnya.

  3. Nova Erliyana says:

    Menurut Bapak Apa sih faktor-faktor yang melandasi pikiran kaum khawarij hingga dia bisa evolusi mengubah pola pikirnya dengan mengeluarkan sekte” yg ekstrem seperti Sekte Al-Azariqah hingga evolusi ke Sekte yg lebih baik yaitu Sekte Al-Abadiyah..Mohon penjelasannya Pak. Terima kasih

  4. Secara umum, pemikiran lahir sebagai respon maupun di lahirkan dari situasi sosial di sekeliling pemikiran itu berada. Melalui teori ini kita bisa menilai bahwa sekte-sekte Khawarij terlibat interaksi pemikiran dengan kehidupan masyarakat sekitar. Ada kalanya ekstrimisme yang mereka miliki tidak menguntungkan mereka untuk bisa hidup di tengah-tengah masyarakat. Karena kondisi ini, mulai timbul perpecahan internal di mana mereka yang memisahkan dari sekte sebelumnya dan mendirikan kelompok baru adalah mereka yang tidak cocok dengan pemikiran sekte sebelumnya yang mereka ikuti. Oleh karenanya pada sekte yang baru, biasanya pemikiran keagamaannya cenderung lebih moderat dan humanis dibanding sekte sebelumnya.

  5. Ansori PLKS says:

    Ass.. pak, maaf baru aktif, saya sedikit ingin bertanya pak>? bagaimana khawarij yg ada pada masa saat ini,?apakah hanya sebatas mengatakan ali kafir dalam artian ada yang berbeda pendapat karena ali tidak sesuai dgn penddapat mereka, atau memang aqidah ny yg berbeda? banyak kita jumpai zaman skrg akan ada berbagai macam golongan, terima kasih pak.

    • Rijlan Hasanuddin says:

      Waalaikumsalam saya sedikit mau menjawab hal ini: berdasarkan depenisi khawarij tsbt adalah blm kita ketemukan sifat-sifat khawarij pada jamaah Islam yang ada di Indonesia ini. Mhn koreksinya pak..

    • To Ansori, Yah, secara formal dan resmi memang pemahaman keagamaan Khawarij memang tidak ada. Akan tetapi, sebagian kelompok Ummat Islam yang radikal jika tidak mampu mengendalikan godaan ekstrimisme dan radikalisme, bisa tergoda untuk berpaham dan bersikap seperti Khawarij. Khawarij is Hiden Potential.

      • Ansori PLKS 1 says:

        kalo begitu pak karakter atau pemahaman khawarij yang ada pada saat in bagaimana?? apakah benar2 sudah hilang atau ada namun belum diketahui, sedangkan kita banyak sekali organisasi atau aliran pak terima kasih

  6. assalamualaikum pak…
    pada saat ini banyak sekali masyarakat yang memvonis orng lain dengan istilah kafir hanya karna berbeda pandangan.
    bagaimana hukumnya pak?Apakah itu termasuk dosa fitnah?

  7. Dwi Mutiara says:

    assalamualaikum bapak. mohon penjelasnnya. apa khawarij ini memiliki kepentingan politik pada masanya yang mengaitkan kesejahteraan umat atau berkaitan dengan ekonomi Islam ?

    • Alaikum salam dewi. Ya, motivasi politik merupakan faktor utama bagi kemunculan Khawarij, tentu mereka memiliki kepentingan politik kekuasaan, hanya saja perahu yang mereka dukung yakni Ali ibn Abi Thalib terkalahkan oleh Mu’awiyah karena proses tahkim. Sekiranya Ali tidak dikalahkan di tahkim, kondisi berikutnya bisa lain. Motiv ekonomi, belum ditemukan penjelasan mengenai hal itu,

      • dwi mutiara says:

        Waalaikum salam bpak. Pak apakah maksudnya org yg memerangi ali bin abi thalib itu org2 yg ingin mengahancurkan pengikut nabi muhammad saw ?? Klau tidak salah zaman ali bin abi thalib adalah setelah khalifah umar pak. Pda masa umar kejayaan islam dibidang ekonomi sangat meningkat. Kita sangat mengetahui tujuan berpolitik adalah dg menjemput kejayaan masing2. Apakah motif utama dri org2 yg mengatakan ali ?? Apakah ada korelasi dri kristenisasi pada saat itu ??

    • Ass pak. saya ingin bertanya, apakah telah di ketahui alasan apa yg mendasari Amr ibn Ash melakukan perubahan pengumuman arbitase yg telah di sepakati pak? Apakah pada awalnya ia memiliki kerja sama politik dgn anggota kaum khawarij sebelumnya pak (seperti menjadi kambing hitamnya)? Namun kenapa Amr ibn Ash juga malah termasuk menjadi musuh kaum khawarij pak?

  8. Rabiatul alawiyah PLKS 1 Non Reg says:

    Assalamualaikum pak.
    Pak, Apakah ajaran dari sekte-sekte yang baru muncul itu sama dengan khawarij yg dipimpin oleh amr ibn ash???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!