AGAMA-AGAMA DUNIA GAGASAN PENULIS

KIAT MEMBANGUN HARMONISASI UMAT BERAGAMA DENGAN PENGENDALIAN FANATISME

“Aku melihat orang-orang fanatik sulit menyampaikan nilai-nilai kebaikan yang dia punya kepada orang lain. Malahan sebaliknya, terlalu sering terjerumus dalam kubangan konflik yang tak bertepi. Akhirnya yang dikembangkan bukannya nilai kebaikan universal, akan tetapi kebencian dan permusuhan.”

Fanatik dan fanatisme merupakan sebuah bentuk kepercayaan dan keyakinan yang terlalu kuat di dalam meyakini ajaran tertentu, baik dalam konteks agama maupun ideologi. Pada awalnya sikap seperti ini tidak salah, dan bahkan dalam kondisi tertentu sangat dianjurkan. Jika saja terdapat anjuran untuk melakukan perzinahan, maka pada saat ini fanatisme atas ajaran agama perlu ditegakkan, karena agama memang melarang perzinahan. Demikian juga ketika terdapat provokasi untuk melakukan tindak kekerasan dan kejahatan, maka seharusnya fanatisme yang muncul adalah fanatisme berupa penolakan terhadap anjuran tersebut, mengapa? Karena agama sangat melarang pemeluknya untuk melakukan kekerasan dan kejahatan.

Dalam konteks ini, fanatisme sejatinya lahir dari pemahaman dan semangat untuk tunduk dan memegangi ajaran agama dengan kuat. Ketundukan dan ketaatan pada agama ini sangat diperlukan bagi setiap orang dalam mengarungi bahtera kehidupannya. Fanatisme ini mengharuskan sang empunya fanatisme untuk setia kepada kebenaran dan kebaikan yang dituntunkan dalam ajaran agama yang dipegangnya. Fanatisme seperti ini dapat disebut sebagai fanatisme positif dan konstruktif. Jika banyak di antara Kita yang memiliki rasa dan pemahaman seperti ini, maka perasaan seperti ini harus selalu ada dalam diri setiap orang dan tidak perlu dibuang.

Dalam perjalannya, fanatisme dihubungkan dengan gambaran-gambaran yang tidak menyenangkan dan terkesan mengancam. Fanatisme dihubungkan dengan konflik keagamaan, baik dalam ranah internal agama maupun antar umat beragama. Konflik antar aliran dalam agama dan konflik antar agama. Mengapa semangat menjalankan agama justru menjadi pemicu konflik? Tragisnya, konflik terjadi justru antar orang-orang yang beragama. Hal itu tentu sangat tidak masuk akal manakala dihubungkan dengan kewajiban orang beragama untuk selalu berbuat kebaikan. Bukankah mereka selalu membaca Kitab Suci yang selalu menyuruh mereka berbuat baik, santun, tidak menyakiti orang lain?

Fanatisme, itulah penyebab utamanya. Ketika Kita menganggap diri Kita “paling benar” dan kemudian menyalahkan, apalagi menyesatkan orang lain, pada saat itu kita telah disebut fanatik. Urutan fanatisme dapat dirinci sebagai berikut:

Berusaha memahami agama —> Merasa paling benar —> Menyalahkan dan menyesatkan orang lain —> Siap berkonflik dengan orang lain

Fanatisme bukan muncul begitu saja dari seseorang, melainkan diawali oleh terbangunnya suatu pemahaman keagamaan dalam diri seseorang sebagai hasil dari upayanya memahami agama. Mereka yang tekun belajar agama tidak jarang tergoda untuk menjadi fanatik. Fanatisme tidak jarang disebabkan oleh adanya doktrin yang kuat dari seorang pemimpin atau elit keagamaan kepada pengikutnya yang oleh karenanya, pengikut yang masih awam tersebut meyakini akan kebenaran doktrin pemimpinnya secara membabi-buta.

Sifat merasa paling benar merupakan inti fanatisme. Dalam fase ini, sang pemeluk agama bisa mengambil dua langkah yang bertentangan. Jika saja fanatismenya dijadikan daya dorong untuk terus memahami ajaran agamanya, ia akan berpeluang menjadi orang yang arif karena kandungan ajaran agama adalah anjuran yang kuat untuk menjadikan pemeluknya sebagai manusia yang baik. Tetapi sebaliknya, jika fanatisme seseorang dia teruskan ke arah pengingkaran terhadap orang di luar dirinya, maka fanatisme ini justru menjadi daya dorong yang kuat untuk menyalahkan dan bahkan menyesatkan orang lain. dan sebagai fase terakhir yang tragis adalah fanatisme justru mendorong seorang atau kelompok pemeluk agama menjadi siap berkonflik dengan orang lain sebagai kelanjutan dari sikap sebelumnya yang gemar menyesatkan orang lain.

Demikianlah fanatisme yang sangat paradoks. Seharusnya orang yang memahami agama menjadi baik dengan pemahaman keagamaannya. Tetapi di dalam kubangan fanatisme, orang yang fanatik tidak saja dapat menciptakan kekacauan bagi orang lain, akan tetapi telah memoles agama yang dianutnya sebagai agama yang tidak mendatangkan kebaikan bagi semesta. Jika demikian, hal itu tidak bisa kemudian disebut sebagai agama kekerasan, akan tetapi pemahaman keagamaannya yang keras dan tidak toleran.

Dengan demikian, sedapat mungkin hindari fanatisme yang dapat membutakan diri untuk mendengarkan dan menerima nilai-nilai kebenaran universal yang dimiliki orang, kelompok, dan agama lain. Bukankah inti ajaran agama di hampir semua agama itu adalah terciptanya hamba yang taat kepada Allah dan baik terhadap sesama? Jika Kita sudah memegang dua inti ini, Kita secara mudah akan mencapai Ridlo Allah. Tetapi sehebat apapun ritualitas agama yang kita jalani, namun ketika yang lahir adalah kebencian dan permusuhan, sebenarnya Kita masih berada di pinggiran, yang setiap saat terbawa arus yang menjauhkan diri Kita dari Tuhan.

Wallāhu A‘lam

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

  1. agus nurman says:

    Pada dasarnya sikap seperti ini bernilai positif demi untuk menjaga originalitas pemahaman tertentu, namun ironisnya fanatisme di indonesia justru berputar 180° dari nilai kebaikan. Jika jika masyarakat berfikir dinamis maka pemahamannya akan berkembang dan terhindar dari kalimat sesat menyesatkan.

  2. Desi Wulandari says:

    Pendapat saya, untuk menjadi muslim yang sejati sebaiknya kita harus memperdalam ilmu agama dan tidak terlalu fanatik, kita bisa tersesat oleh pemikiran kita sendiri dan menyesatkan diri, kita sebaiknya memperdalam ilmu agama dengan tekun agar tidak termasuk dalam kategori fanatik.

  3. Desi Wulandari says:

    Pendapat saya, untuk menjadi muslim yang sejati sebaiknya kita harus memperdalam ilmu agama dan tidak terlalu fanatik,kita dapat tersesat oleh pemikiran kita sendiri dan menyesatkan diri, kita sebaiknya memperdalam ilmu agama dengan tekun agat tidak termasuk golongan fanatik.

  4. Sri dewiyanti says:

    Memang benar semua agama mengajarkan serta mengarahkan kita pada kebaikan yang pada akhirnya untuk memperoleh ridho Allah SWT. Namun tidak kita pungkiri semua nilai yang datang kepada kita tidak semua mendekatkan kita pada Allah sehingga perlu kita telaah kembali setiap nilai yang ada, agar kita tetap berada di jalur menuju ihkeridhoan Allah SWT.

  5. agus nurman says:

    Betul sekali sdr amin, yg jls tgas kt skrg adalah terus menggali ilmu agama baik itu tentang qouliyah Allah maupun Kauniyah-NYA.
    Namun alangkah lebih baiknya lagi mari kt tnggalkan skap egoisme kt dlam mmperthankan sbuah pmhman agama, jadikan perbedaan sbgai anugrah yg telah Allaah beri sebagai bukti btpa luas nya kajian islam jika kita gali secara mendalam. Ingat ada hikmah yng mngtakan ‘Ikhtilafu Ummaty Rohmah”, selagi kta masih mmgang kokoh ukhuwah selama itu pula kta dianggap sbg muslim yang sejati

  6. robi sugara says:

    by: robi sugara
    menurut saya sifat fanatisme yang ada pada manusia harus dikendalikan supaya tidak menimbulkan konflik yang berkepanjangan yang bisa membuat perpecahan umat,dan kita harus menjalinkan silaturahmi supaya harmonisasi dapat terjalin dengan baik,agar umat islam tidak dipandang sebelah mata oleh agama lainnya, dan bisa menjadi acuan bagi orang orang yang mau berpikir fositif.

  7. robi sugara says:

    by: robi sugara
    pada masa sekarang agama merupakan pungsi utama untuk menyelesaikan konflik, namun mengapa justru konflik bermula dari agama? misalnya konsep masing masing agama yang salah, ajaran sesat dan timbullah sikap fanatisme mengenai agama membuat berbagai pertentangan muncul pada hal setiap agama mepunyai keunikan masing masing berdasarkan tradisi dan tidak hanya itu persamaan satu agama mengajarkan cinta kasih. solusinya ialah meningkatkan rasa solidaritas yaitu rasa persaudaraan yang berlandaskan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa orang lain dan saling membutuhkan satu sama lain.

Leave a Reply to robi sugara Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!