BINA RUHANI

KIAT MEMBANGUN KEMANDIRIAN PRIBADI

Pada suatu kesempatan Rasulullah saw. pernah bersabda terhadap para pengikutnya, “Sungguh seandainya salah seorang di antara kamu membawa tali kemudian naik ke atas bukit, lalu ia datang dengan membawa seikat kayu di punggungnya untuk dijualnya, lantas dengan itu Allah melindungi harga dirinya, maka yang demikian itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang lain, yang terkadang diberi atau ditolak” (HR. Bukhari). Hampir bisa dipastikan bahwa kerendahan diri, pesimisme, mudah menyerah, tidak percaya diri serta sikap menggantungkan diri kepada orang lain, merupakan rentetan sifat dan sikap yang menjadi sumber kesengsaraan hidup manusia sejagad. Dan sebagai obat dari penyakit-penyakit ruhani tersebut adalah “Kenalilah diri sendiri”. Pengenalan pada diri sendiri merupakan pangkal kesempurnaan manusia, dimana salah satu dampak psikomotorik yang timbul adalah suatu kemandirian pribadi.

Jika kita coba untuk mengorek hikmah tersembunyi dari hadis di atas, maka dimensi terkuat yang terdapat di dalamnya adalah dorongan untuk sebuah kemandirian. Kita akan melihat sejauhmana kekuatan pengaruh dorongan kemandirian itu dalam mewarnai psikologis seseorang dan lebih-lebih pada kehidupannya.

Banyak orang mengalami kegagalan di dalam hidupnya gara-gara ia tidak memiliki kemandirian. Orang seperti ini biasanya lahir dari mereka-mereka yang sejak kecil selalu menikmati kesenangan dan fasilitas yang tidak sulit untuk didapati. Mereka tidak terlalu mengerti arti kehidupan, makna sebuah penderitaan, hingga mendorongnya kepada sebuah alienasi dimana ia tidak mengenali apa dan siapa hakekat dirinya. Dalam keadaan seperti ini, seseorang tidak memiliki pegangan dan pijakan hidup yang kuat hingga sebagai konsekwensinya tiada lain adalah menggantungkan dirinya pada apa yang bisa menjadi sandarannya. Kini jadilah ia hanya sebagai pemberat beban orang lain.

Perekonomian manusia sungguh amat mustahil manakala hanya di sandarkan pada asas “menguntungkan diri, merugikan orang lain”, entah meminta-minta apalagi merampok dan korupsi ke sana-kemari. “Menjual kayu untuk membeli sesuap nasi”, sebagaimana perumpamaan Rasul dalam hadis di atas merupakan simbol dimana setiap orang harus memiliki kemandirian ekonomi. Kemandirian ekonomi mengharuskan setiap orang untuk memperbaiki nasib dan kehidupannya dengan jerih payahnya sendiri yang murni. Untuk kebaikan dirinya, seseorang tidak boleh mengorbankan orang lain, seperti mencuri, merampok dan korupsi, sebab ini bukanlah bentuk dari usaha dan jerih payah, melainkan suatu kebohongan dan penipuan terhadap diri sendiri.

Setiap orang harus memiliki kemandirian dan bekerja keras untuk memperbaiki nasibnya. Kenalilah diri, reguklah kemandirian serta tampakkan jati diri. Bangunlah sebuah rumah kebaikan untuk diri, keluarga dan masyarakat dengan cara-cara yang fair. Jangan lagi membohongi diri dengan prestasi dan kesenangan yang sebenarnya bukan hasil jerih payah sendiri, karena dalam memperolehnya terlalu banyak mengorbankan hak-hak orang lain.

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!