AGAMA-AGAMA DUNIA GAGASAN PENULIS

KIAT MEMBANGUN PEMAHAMAN DAN SIKAP KEAGAMAAN YANG POSITIF DAN KONSTRUKTIF

“Perbanyaklah menanyakan, mendiskusikan, dan sharing pemahaman keagamaan sendiri dengan  orang lain untuk memperkaya wawasan.”

Tidak jarang dalam berusaha memahami dan menjalankan ajaran agama, seseorang tergoda untuk memiliki rasa paling benar sendiri dan menganggap bahwa pemahamannya paling benar. Tak jarang mereka menutup diri dari pemahaman keagamaan lainnya, meski dalam satu agama sekalipun. Sesekali mereka mencibir dan merendahkan pemahaman keagamaan rekan sesama agama mereka yang berlainan, dan bahkan menganggap pemahaman keagamaan di luar mereka sebagai pemahaman yang tidak benar. Hal ini tentu saja merupakan sikap yang tidak menguntungkan bagi upaya membangun suasana keberagamaan yang sehat di antara pemeluk agama. Kiat apakah yang dapat dilakukan untuk mengatasi berkembangnya sikap keberagamaan yang sehat ini? Berikut adalah pemikiran kecil untuk mengatasi dan membendung sikap keberagamaan yang tidak sehat demi membangun suasana keberagamaan yang sehat dan nyaman bagi semua pemeluk agama.

Setiap orang memang memiliki hak untuk – secara bersemangat – mempelajari dan berusaha memahami ajaran agama menurut kacamata mereka. Setiap orang sangat dianjurkan untuk seringkali membuka dan membaca Kitab yang telah diturunkan oleh Allah kepada mereka melalui Nabi dan Rasul-Nya. Setiap Muslim sangat dianjurkan untuk membaca dan memahami al-Qur’an di sisi mereka. Setiap Muslim secara mandiri maupun kelompok dianjurkan untuk selalu membuka al-Qur’an mereka untuk kemudian dipahami dan menjadi landasan bagi pola pikir dan perbuatan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Pada satu sisi, sikap ini tergolong positif jika dibandingkan dengan pemeluk agama yang tidak memiliki empati untuk mempelajari ajaran agamanya. Saya lebih senang dengan tipe orang seperti itu dibanding mereka yang sama sekali tidak pernah memikirkan kualitas pemahaman agama mereka, dan tipe orang yang kedua ini teramat banyak.

Namun di sisi lain, sikap beragama di atas tidak lepas dari godaannya sendiri. Kenikmatan seorang atau kelompok agamawan dalam mengkaji agama mereka seringkali dihadapkan pada jebakan klaim kebenaran. Karena merasa telah memperoleh pemahaman agama dari usahanya yang kuat, mereka tergoda untuk mengklaim bahwa pemahaman mereka yang benar. Pada kasus-kasus di lapangan, saya sering menemukan orang seperti ini kaku dan tertutup dalam hal keagamaannya. Seringkali mereka berkomunikasi dengan orang lain sembari menunjukkan “kesalahan” orang lain tersebut dalam aspek ibadah. Ada banyak orang yang merasa tidak nyaman ketika ada seseorang secara tiba-tiba menceramahi dan menganggap pemahaman atau peribadatan mereka tidak sesuai dengan sunnah Nabi.

Saya menawarkan pentingnya sikap kontemplatif, dialogis-interaktif, dan konstruktif dalam konteks pembangunan pemahaman keagamaan.

Sikap kontemplatif menekankan seorang untuk merendahkan diri dan bersungguh-sungguh mempelajari ajaran agamanya. Tidak mungkin Kita menjadi pemeluk agama yang baik sekiranya Kita “tidak menganggap” al-Qur’an (khusus Umat Islam) atau Kitab Suci sebagai sesuatu yang penting. Banyak di antara Kita tidak lagi menganggap al-Qur’an atau Kitab Suci sebagai sesuatu yang penting hingga dengan mudahnya diabaikan.

Sikap dialogis mengharuskan seseorang untuk tidak menobatkan pemahaman yang didapatinya sebagai satu-satunya pemahaman yang paling benar. Ketika rasa senang oleh karena menemukan pemahaman keagamaan setelah membaca al-Qur’an atau Kitab Suci, maka Kita tidak boleh memasung diri Kita terhadap pemahaman keagamaan yang telah kita peroleh. Pemahaman keagamaan Kita hanyalah satu persen dari jutaan pemahaman di luar Kita. Kita harus menanyakan dan mendialogkan pemahaman Kita khususnya dengan orang lain yang lebih ‘alim (mengetahui) dibanding Kita. Maksud mendialogkan ini tidak lain adalah untuk memperoleh tambahan pemahaman atau bahkan pelurusan atas pemahaman keagamaan yang kita punya. Catatan; orang yang terbiasa berdialog dalam hal pengetahuan pasti lebih bijaksana dibanding yang merasa paling benar sendiri.

Sikap konstruktif mengharuskan seorang agaman dan pemeluk agama untuk terus menjaga nilai-nilai positif agama dalam kehidupan mereka. Ingat..! agama apapun (khususnya Islam) tidak sedikitpun mengajarkan perbuatan yang destruktif atau merusak dan justru sangat mengharamkan sikap ini. Setelah mempelajari dan membaca secara perlahan, al-Qur’an sangat melarang manusia untuk melakukan perbuatan destruktif. Jika Kita membaca al-Qur’an secara perlahan dan menghayati artinya, justru kasih sayang yang dipancarkan dari kata demi kata dalam ayat al-Qur’an. Al-Qur’an itu cahaya dan bukan kegelapan. Al-Qur’an adalah kehidupan dan bukan kematian, dan al-Qur’an itu adalah jaminan keselamatan, bukan ancaman.

Dengan demikian, jika terdapat seseorang yang membaca dan paham al-Qur’an, namun menyukai sikap-sikap destruktif atau merusak, maka sebenarnya al-Qur’an tidak terlalu banyak memiliki ruang untuk berbicara pada orang tersebut, melainkan orang itulah yang memposisikan dirinya di atas al-Qur’an. Bagi orang seperti ini, al-Qur’an tidak jarang dijadikan sebagai dalil bagi pembenar bagi kepuasan nafsunya. “Jangan pernah menggenggam al-Qur’an dengan nafsumu, tapi masukkanlah segenap dirimu ke dalam al-Qur’an dengan rendah diri dan pengharapan, agar Engkau selamat.”

Wallāhu A‘lam

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

  1. Menurut pendapat saya, untuk membangun pemahaman dan sikap keagamaan yang positif dan konstruktif adalah tidak menilai agama satu dengan agama lainnya atau yang sering disebut dengan non normatik.

    • Komentar yang baik sdr andika. Ke depan, perbandingan agama hendaknya jangan hanya menonjolkan aspek-aspek formal yang berbeda-beda, tapi juga harus menonjolkan aspek nilai dan asal-susul serta tujuan semua agama untuk sampai kepada Allah Yang Satu. Aspek formal atau luar agama tidak akan pernah sama, tetapi pada aspek nilai dan tujuan, agama-agama memiliki banyak kesamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!