BINA RUHANI

KIAT MENGUSIR PERASAAN BENCI DENGAN BERBUAT BAIK

Setiap orang pasti pernah memiliki perasaan benci terhadap orang lain. Namun begitu, bersyukurlah mereka yang cepat meninggalkan kebenciannya seraya menyadari kerendahan sifat dan rasa seperti itu. Dalam kenyataannya, ada sebagian orang yang terus-menerus hidup dalam kebencian yang tidak berkesudahan. Rasa benci sebenarnya dapat menghancurkan diri menjalar ke dalam pikiran dan terus mempengaruhi tingkah laku. Satu hal yang pasti terjadi pada seseorang yang sedang dikuasai kebencian adalah kegelisahan diri yang amat sangat.

Ada kesulitan tersendiri bagi seseorang yang sedang diliputi kebencian. Kesulitan itu berkisar pada pertanyaan, bagaimana cara mengusir rasa benci yang telah menyiksanya? Muka yang tidak sedap, badan menjadi kurus dan hati yang tidak pernah terang. Inilah beberapa kenyataan yang telah menyiksa para pembenci (orang-orang yang dihinggapi rasa benci). Untuk keluar dari kesulitan dan ketersiksaan ini, maka akan dicari cara menghilangkan rasa benci ini. Jawaban terhadap pertanyaan ini sudah barang tentu berkisar — atau setidaknya terdiri dari dua jawaban yang menunjukkan dua sikap.

Sikap pertama adalah menahan kebencian dan memendamnya dalam hati. Ada beberapa alasan mengapa kebencian itu ditahan dalam hati, misalnya, orang yang benci tidak memiliki keberanian untuk melampiaskan kebenciannya, antah karena malu, takut ataupun tidak ada kesempatan. Sikap seperti ini sebenarnya mengandung aspek positif dan negatif. Aspek positifnya setidaknya tidak sampai menimbulkan kekacauan dan menyakiti orang lain. Namun aspek negatifnya dari sikap ini adalah bahwa kebencian akan yang tertahan akan membeku menjadi gumpalan-gumpalan dendam yang lebih berbahaya. Jika yang bersangkutan pandai-pandai membuang dan melupakan kebencian itu, maka niscaya kebencian itu tidak akan sampai menggumpal menjadi kedendaman.

Sikap kedua adalah melampiaskan kebencian itu sesuai kehendak hati. Sikap ini terlalu sering menjadi pilihan hati. Sikap ini terlalu sering menjadi pilihan sikap kebanyakan orang. Pelampiasan kebencian memiliki bentuk yang beragam. Ia bisa berbentuk perkataan yang kurang enak, penyiksaan fisik maupun tindakan pengucilan. Sikap kedua ini merupakan sebab utama dari terjadinya kerusuhan dan kekacauan di antara manusia.

Sikap ketiga adalah menyampaikan, atau tepatnya mengutarakan rasa benci yang sedang dialami kepada orang yang dibenci. Cara ini masih lebih baik dari cara sebelumnya karena diharapkan akan ditemukan kesepahaman antara kedua belah pihak. Tentu, aspek positif dari cara ini adalah adanya perbaikan di mana orang yang dibenci akan mengetahui dan mengakui kesalahan yang telah menyebabkan kebencian jika memang ia bersalah. Sebaliknya si pembenci akan menyadari kesalahannya manakala ternyata apa yang menjadi kebenciannya selama ini sebenarnya tidak perlu terjadi.

Akan tetapi perlu diingat bahwa sikap ketiga akan membawa dampak positif dan akan menjadi ajang saling pengertian dan pemaafan manakala sikap ini dilandasi oleh rasa rendah hati dan saling menghormati serta ikhtiar untuk menemukan kebenaran. Sebliknya, sikap ini justru akan menjadi ajang perdebatan dan pertengkaran manakala kedua belah pihak merasa paling benar, tidak pengertian dan tidak mau mengalah dalam arti mengakui kesalahan masing-masing.

Sikap terakhir merupakan sikap tertinggi  yang menunjukkan kebijaksanaan dan kearifan. Ketika kita merasa benci terhadap seseorang, maka bukannya kita melampiaskan kebencian itu ataupun menyatakan kalau kita benci karena sebagian sikapnya, melainkan justru kita melampiaskan kebencian kepadanya dalam bentuk kebaikan. Lakukanlah kebaikan padanya. Sapalah ia dengan senyum, temuilah ia dengan baik dan kalau perlu (kalau kita mampu) sering-seringlah memberinya hadiah-hadiah, bingkisan dan sejenisnya.

Sikap seperti itu memang berat dan mungkin teramat pahit untuk dilaksanakan. Namun lambat laun, rasa kebencian yang ada pada diri kita akan terkikis dan sebaliknya akan tergantikan dengan rasa kasih sayang. Jadi jangan biarkan rasa benci terus-menerus menyelimuti hingga membakar hati dan membutakan pikiran. Rasa benci harus dihapus dengan rasa kasih sayang dengan tindakan-tindakan kecil yang kita ciptakan sendiri. Sikap ini merupakan bagian pertama yakni manakala kita sedang mengalami rasa benci.

Wallāhu A‘lam

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

  1. amin farid says:

    seseorang bisa bilang terhadap orang terkadang dalam prilaku yang ada juga yang melihat dari prilaku yang tidak baik juga,contoh..seseorang melakukan hal baik dalam membantu orang namun kita tidak bisa melakukan itu,lalu kita merasa benci,bukan memikirkan bagaimana kita agar seperti orang tersebut,jika dilihat dari prilaku tidak baik,seseorang tersebut memang sama sekali tidak pernah melakukan hal baik,lalu kita benci dengan tingkah lakunya,
    seseorang bisa menganggap orang baik adalah dirinya sendiri,namun yang menilai itu baik adalah orang lain,hal ini yang menjadi masalah,INI YANG DINAMAKAN EGO,

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!