KONSEP TOLERANSI DALAM ISLAM

[toc title=”Daftar Isi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Islam dan Toleransi

Toleransi dalam Islam adalah topik yang penting ketika dihadapkan pada situasi saat ini ketika Islam dihadapkan pada banyaknya kritikan bahwa Islam adalah agama intoleran, diskriminatif dan ekstrim. Islam dituduh tidak memberikan ruang kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, sebaliknya Islam sarat dengan kekerasan atas nama agama sehingga jauh dari perdamaian, kasih sayang dan persatuan. Padahal dalam konteks toleransi antar umat beragama, Islam memiliki konsep yang jelas. “Tidak ada paksaan dalam agama” ( Al-Baqarah :256) , “ Bagi kalian agama kalian, dan bagi kami agama kami” (Al-Kafirun : 6), “ Bagi kami amal-amal kami, dan bagimu amal-amalmu” (Al-Qashsash : 55) adalah contoh popular dari toleransi dalam Islam. Selain ayat-ayat itu, banyak ayat lain yang tersebar di berbagai Surah. Juga sejumlah hadits dan praktik toleransi dalam sejarah Islam. Fakta-fakta historis itu menunjukkan bahwa masalah toleransi dalam Islam bukanlah konsep asing. Toleransi adalah bagian integral dari Islam itu sendiri yang detail-detailnya kemudian dirumuskan oleh para ulama dalam karya-karya tafsir mereka. Kemudian rumusan-rumusan ini disempurnakan oleh para ulama dengan pengayaan-pengayaan baru sehingga akhirnya menjadi praktik kesejarahan dalam masyarakat Islam.

Sejarah Toleransi Islam

Sejarah Islam adalah sejarah toleransi. Perkembangan Islam ke wilayah-wilayah luar jazirah Arabia yang begitu cepat menunjukkan bahwa Islam dapat diterima sebagai rahmatal lil’alamin. Ekspansi-ekspansi Islam ke Siria, Mesir, Spanyol, Persia, Asia dan keseluruh dunia dilakukan melalui jalan damai. Islam tidak memaksakan agama kepada mereka sampai akhirnya mereka menemukan kebenaran Islam itu sendiri melalui interaksi intensif dan dialog. Kondisi ini berjalan merata hingga Islam mencapai wilayah yang sangat luas ke hampir seluruh dunia dengan amat singkat dan fantastic. Memang perlu diakui bahwa perluasan wilayah Islam itu sering menimbulkan peperangan. Tapi peperangan itu dilakukan hanya sebagai pembelaan sehingga Islam tak megalami kekalahan. Peperangan itu bukan karena memaksakan keyakinan kepada mereka tapi karena ekses-ekses politik sebagai konsekuensi logis dari sebuah pendudukan. Pemaksaan keyakinan agama adalah dilarang dalam Islam. Bahkan sekalipun Islam telah berkuasa, banyak agama lokal yang tetap dibolehkan hidup.

Toleransi bukan Relativisme Agama

Namun perlu ditegaskan lagi, toleransi tidak dapat disama artikan dengan mengakui kebenaran semua agama dan tidak pula diartikan kesediaan untuk mengikuti ibadat-ibadat agama lain. Toleransi harus dibedakan dari komfromisme, yaitu menerima apa saja yang dikatakan orang lain asal bisa menciptakan kedamaian dan kebersamaan. Dalam kata lain toleransi adalah membiarkan orang lain berpendapat lain, melakukan hal yang tidak sependapat dengan kita, tanpa kita ganggu ataupun intimidasi (Wikipedia). Toleransi menurut Syekh Salim bin Hilali memiliki karakteristik sebagai berikut, yaitu antara lain:

  1. Kerelaan hati karena kemuliaan dan kedermawanan
  2. Kelapangan dada karena kebersihan dan ketaqwaan
  3. Kelemah lembutan karena kemudahan
  4. Muka yang ceria karena kegembiraan
  5. Rendah diri dihadapan kaum muslimin bukan karena kehinaan
  6. Mudah dalam berhubungan social (mu’amalah) tanpa penipuan dan kelalaian
  7. Menggampangkan dalam berda’wah ke jalan Allah tanpa basa basi
  8. Terikat dan tunduk kepada agama Allah SWT tanpa rasa keberatan

Selanjutnya menurut Salim Al-Hilali karakteristik tersebut merupakan

  1. Inti Islam
  2. Seutama Iman
  3. Puncak tertinggi budi pekerti (akhlaq)

Tasamuh sebagai Simbol Toleransi

Dalam bahasa Arab, toleransi biasa disebut “tasamuh”, sikap saling menghormati dan saling bekerjasama diantara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda baik secara etnis, bahasa, budaya, politik maupun agama. Toleransi , karena itu merupakan konsep agung dan mulia yang sepenuhnya menjadi bagian organic dari ajaran-ajaran agama, termasuk agama Islam. Dalam hubungan dengan orang-orang yang tidak seagama, Islam mengajarkan agar umat Islam berbuat baik dan adil. Selama tidak berbuat aniaya kepada umat Islam. Al-Qur’an juga mengajarkan agar umat Islam mengutamakan terciptanya suasana perdamaian, hingga timbul rasa kasih sayang diantara umat Islam dengan umat beragama lain. Dalam Islam tidak boleh mengolok-olok agama lain, membuat agama orang lain tersinggung. Kerjasama dalam bidang kehidupan masyarakat seperti penyelenggaraan pendidikan, pemberantasan penyakit social, pembangunan ekonomi untuk mengatasi kemiskinan adalah beberapa contoh kerjasama yang dilakukan antara umat Islam dengan umat beragama lainnya.

Hendaknya kita kembali melihat sejarah Islam pada masa Rasulallah. Mayoritas wajib hukumnya melindungi minoritas (lihat piagam Madinah). Kita sebagai muslim mayoritas di Indonesia seyogyanya menerapkan landasan-landasan toleransi yang dibuat Rasulallah. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi. Wallahu a`lam.

Be the first to comment

Leave a Reply