SPIRITUAL

KUALITAS CINTA DALAM PERSPEKTIF RABIATUL ADAWIYAH

Tasawuf irfani adalah salah satu corak di dalam tasawuf yang inti ajarannya adalah keikhlasan. Definisi ikhlas bagi tasawuf irfani, tergambar dalam sebuah adegium “Apa yang manusia lakukan, sesungguhnya tidak pernah dilakukan.” (Batubara, 2015 : 152). Konsekuensi dari definisi ikhlas seperti ini, menjadikan manusia memiliki kepribadian yang istiqomah (konsisten) dalam setiap amalnya. Maksudnya, entah karena dipuji ataupun karena dimaki, ia tetap akan konsisten dengan perbuatannya, sebab ia berbuat bukan karena mengharapkan pujian, bukan pula karena ia takut makian. Semata-mata perbuatan itu hanya karena Allah SWT. Inilah terminologi ikhlas dalam tasawuf irfani.

Untuk menuju ke taraf ikhlas tersebut, ada dua jalan yang ditawarkan oleh tasawuf irfani, yaitu: mahabbah (cinta), dan khauf (takut) kepada Allah SWT. Artikel ini akan menjelaskan salah satunya saja, yaitu konsep mahabbah.

Berbicara tentang mahabbah, maka diskursus tersebut tentu saja akan tertuju kepada salah seorang tokoh sufi wanita yang terkenal yaitu: Rabiatul Adawiyah (713 M – 801 M). Secara etimologi, mahabbah berarti cinta. Sedangkan secara terminologi, arti dari mahabbah bagi Adawiyah adalah perasaan cinta yang total dari seorang hamba kepada Tuhan sampai menimbulkan kepuasan hati (ridha), kerinduan (syauq), dan keintiman (uns) (Batubara, 2015 : 161). Adawiyah menjelaskan bahwa ada tiga kualitas mahabbah yang jika diurutkan dari yang terendah menuju ke yang tertinggi dapat dijelaskan melalui gambar dan paragraf di bawah ini.

Kualitas cinta seorang salik (orang yang belajar amalan tasawuf) pada taraf yang terendah adalah cinta kaum awam (mahabbah al-‘ammah). Cinta pada tahapan ini lahir pada diri manusia, setelah manusia itu memperoleh kenikmatan (rizki) dari Allah SWT. Secara sederhana, dapat dikatakan cinta seperti ini semacam take and give. Cinta seorang manusia (hamba) tersebut masih tergantung sekali dengan seberapa banyak rizki yang ia peroleh. Ketika ia mendapatkan rizki yang banyak, maka cintanya banyak. Namun, ketika ia diuji dengan rizki yang sedikit (fakir), cintanya kepada Allah SWT juga hilang. Inilah kualitas cinta yang terendah.

Cinta kaum terpercaya (mahabbah al-mutahaqiqin) yaitu cinta yang timbul setelah seorang salik melihat dan menyadari kekuasaan Allah SWT di muka bumi ini. Dengan kata lain, cinta ini terbentuk setelah adanya proses belajar dari alam. Setelah lama belajar, kemudian dia menyadari bahwa segala yang ada di jagad raya ini ternyata terjadi atas kekuasaan Allah SWT.

Kesadaran inilah yang kemudian menumbuhkan rasa cinta kepada Tuhan Sang Maha Pencipta itu. Jadi, cinta pada kualitas ini bukan lagi tergantung pada rizki yang ia terima, melainkan lebih kepada kesadaran bahwa semuanya terjadi atas kekuasaan Allah SWT. Sama adanya ketika ia kaya, itu adalah kekuasaan Allah SWT. Atau, ketika ia miskin, itupun atas kekuasaan Allah SWT. Apapun keadaannya, ia tetap cinta kepada Allah SWT. Inilah kualitas cinta yang pertengahan.

Selanjutnya, cinta kaum arif (mahabbah al-arifin) yaitu cinta tanpa sebab. Maksudnya, cinta seorang salik kepada Allah SWT tidak disebabkan apapun lagi, melainkan karena Allah SWT itu sendiri.

Adawiyah memberi ilustrasi mengenai cinta kaum arif ini yaitu ketika manusia beribadah kepada Allah SWT harus karena Allah SWT, bukan karena hal-hal selain-Nya. Singkatnya, tidak boleh hamba itu shalat karena ingin masuk surga atau tidak ingin masuk neraka. Konsep cinta kaum arif ini sangat tegas terlihat melalui jawaban seseorang kepada Adawiyah yang bertanya: “Mau kemana engkau membawa air di tangan kiri dan api di tangan kananmu, Rabiah?” Lantas dijawab olehnya: “Saya mau ke langit untuk membakar surga dan memadamkan api neraka agar keduanya (surga dan neraka) tak menjadi sebab manusia menyembah-Nya.” Demikianlah kualitas cinta tertinggi, yaitu cinta tanpa sebab.

Berdasarkan ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pemikiran Adawiyah bertujuan mengajak manusia untuk ikhlas dalam setiap ibadah yang dilakukannya kepada Tuhan. Untuk sampai kepada keikhlasan seperti itu, maka jalannya adalah dengan membangun cinta kaum arif (mahabbah al-arif) yaitu cinta yang total atau cinta tanpa sebab, kecuali Allah SWT. Saking totalnya cinta Adawiyah kepada Tuhan, sampai pada akhir hayatnya, ia memutuskan untuk tidak menikah. Karena menikah baginya mencederai arti totalitas cinta itu sendiri dengan membagi cintanya kepada laki-laki (ciptaan-Nya). Meskipun, keputusan Adawiyah untuk tidak menikah dan kebenaran hal ini, masih menjadi perdebatan di kalangan akdemis dengan berbagai argumentasinya masing-masing.

Ariyandi Batubara

Penulis dan Pembicara Filsafat Kontak: HP/WA 0852 27574516 E-mail: batubaraariyandi@rocketmail.com

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!