AL-QUR'AN DAN HADITS

MASA TERJADINYA PEMBUATAN HADITS PALSU

Dalam perjalanan sejarah tercatat bahwa rentang waktu bagi upaya penghimpunan hadits Nabi cukup panjang. Dalam rentang waktu yang cukup panjang tersebut, telah muncul pula pemalsuan-pemalsuan hadits. Kegiatan pemalsuan hadits tersebut ternyata tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang memusuhi Islam saja, tetapi dilakukan pula oleh kalangan pemeluk Islam itu sendiri. Tentu saja usaha demikian dilakukan dengan pertimbangan berbagai kepentingan.

Nampaknya, secara garis besar para pembuat hadits palsu telah melakukan kegiatannya sebelum hadits Nabi dihimpun dalam suatu kitab. Waktu tersebut telah dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab untuk membuat hadits-hadits palsu berupa pernyataan-pernyataan yang mereka katakan sebagai berasal dari Nabi, padahal Nabi sendiri tidak pernah menyatakan demikian.

Untuk melacak kapan mulai terjadinya pemalsuan hadits, ulama masih berbeda pendapat. Pendapat-pendapat tersebut setidaknya dapat dikelompokkan kedalam tiga bagian yaitu:

Pertama, pendapat yang dikemukakan oleh Ahmad Amin. Ia mengklaim bahwa sesungguhnya pemalsuan hadits itu telah terjadi pada zaman Nabi. Alasan yang dikemukakannya amat sederhana yaitu bahwa ada hadits Nabi yang sifatnya mutawatir yang mengisyaratkan suatu fenomena bahwa terdapat kemungkinan besar telah terjadi pemalsuan hadits pada zaman Nabi. Hadits yang diperpeganginya adalah yang menyatakan “Barangsiapa yang dengan sengaja berdusta (membuat berita kebohongan) atas nama Nabi, maka hendaklah orang itu bersiap-siap menempati tempat duduknya di dalam neraka”.

Namun demikian, Ahmad Amin tidak mengemukakan bukti-bukti tentang pendapatnya itu, misalnya dengan memberikan contoh hadits-hadits palsu yang terjadi pada masa Nabi. Dengan ketiadaan bukti otentik tersebut maka penentuan tentang telah terjadinya pemalsuan hadits pada masa Nabi agaknya menjadi lemah. Alasannya adalah bahwa sekiranya saja pada zaman itu sudah terjadi pemalsuan hadits, maka peristiwa itu setidaknya akan menjadi berita besar (the big news) di kalangan sahabat Nabi. Nabi menyabdakan hadits mutawatir tersebut mungkin saja hanya dilatarbelakangi oleh munculnya rasa kekhawatiran Nabi akan terjadinya pemalsuan hadits, karena Nabi sendiri melihat adanya dorongan dan hasrat yang besar dari para sahabat untuk menyampaikan hadits kepada orang lain.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa pengakuan sahabat Nabi sendiri. Umar bin Khaththab, misalnya, membagi tugas dengan tetangganya untuk mencari berita yang berasal dari Nabi. Disamping itu terdapat kebijakan Nabi yang mengutus para sahabat ke berbagai daerah untuk berdakwah ataupun untuk memangku jabatan pemerintahan turut pula mempengaruhi kegiatan penyebaran hadits.

Kedua, pendapat yang dikemukakan oleh Salah al-Din al-Adhabiy yang mengatakan bahwa pemalsuan hadits yang berkenaan dengan keduniaan sesungguhnya telah terjadi pada zaman Nabi dan telah dilakukan oleh orang-orang munafik. Sedangkan pemalsuan hadits yang berkenaan dengan masalah agama belumlah terjadi pada zaman Nabi. Kelihatannya, Shalah al-Din dalam masalah ini mencoba membedakan antara pembicaraan yang bernada dusta atas nama Nabi dalam arti mutlak dengan apa yang terdapat dalam arti istilah ilmu hadits itu sendiri. Bagian pertama di atas menurutnya sudah terjadi di zaman Nabi dan telah dilakukan oleh orang munafik, sedangkan bagian kedua terjadi pada masa khalifah Utsman.

Ketiga, pendapat yang dikemukakan oleh jumhur ulama hadits. Menurut pendapat ini pemalsuan hadits mulai muncul pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, yaitu sekitar tahun 41 H. Alasan mereka adalah bahwa keadaan hadits pada zaman Nabi sampai sebelum terjadinya pertentangan antara Ali dan Muawiyah masih terhindar dari pemalsuan-pemalsuan. Dalam konteks seperti ini Musthafa al-Siba’iy mengatakan bahwa tahun tersebut adalah batas pemisah antara kemurnian Sunnah dan kebebasannya dari kebohongan dan pemalsuan di satu pihak, dan ditambah-tambahnya Sunnah itu serta digunakannya sebagai alat untuk melayani berbagai kepentingan politik dan perpecahan internal Islam di pihak lain.

Seperti diketahui bahwa pada zaman pemerintahan Ali, telah terjadi pertentangan politik yang amat tajam antara golongan pendukung Ali dengan golongan Muawiyah dalam masalah jabatan khalifah. Perang siffin telah mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Upaya tahkim yang diajukan Muawiyah dan diterima Ali mengakibatkan sekelompok orang Islam yang mendukung Ali menjadi sangat marah, lalu menyatakan mundur dari golongan Ali. Golongan inilah yang kemudian dikenal dengan nama Khawarij. Golongan ini belakangan tidak saja memusuhi Muawiyah tetapi juga Ali. Tahkim inilah yang membuahkan pemusuhan yang tajam. Kedua golongan ini lalu terus saling bersaing. Salah satu cara yang mereka tempuh untuk maksud tersebut adalah membuat hadits palsu. Agaknya tahun ini pulalah yang kemudian selalu dijadikan sebagai pijakan untuk menentukan sejarah awal munculnya pemalsuan hadits.

Mohammad Yusuf

Mohammad Yusuf adalah Dosen Ilmu Hadits pada Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi

Related Posts

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!