MENGKAJI ULANG PEMIKIRAN AL GHAZALI

Ada dua sudut pandang yang selama ini berkembang dalam masyarakat dalam menilai dan mengkaji pemikiran Al-Ghazālī yang tidak pernah ada titik temunya. Pertama masyarakat yang selama ini berada dalam garis pemikiran tradisional, yakni para kiyai dan Ustad yang banyak berada di lembaga pendidikan Islam seperti pesantren, majelis ta’lim dan lain sebagainya. Kalangan masyarakat yang berada di wilayah pemikiran tradisional ini memiliki kecendrungan kuat dalam menilai dan membaca pemikiran Al-Ghazālī hanya dari segi tasawuf dan fiqihnya saja sebagaimana yang tertuang dalam Ih~ya’u Ulumuddin, Minhaj al-Abidin, Bidayah al-hidayah, dan lain sebagainya. Kedua masyarakat yang berangkat dari kalangan intelektual dan akademis baik yang banyak berada di lembaga pendidikan formal seperti perguruan tinggi. Kalangan yang notabene kaum intelekteual akademis ini sering membaca pemikiran Al-Ghazālī yang tertuang dalam karya-karyanya seperti Tahafut al-Falasif. Dengan perbedaan pembacaan terhadap karya-karya Al-Ghazālī tersebut, maka pada akhirnya memunculkan pemahaman yang berbeda dalam menilai figur Al-Ghazālī. Kalangan tradisionalis menilai bahwa Al-Ghazālī di anggap sebagai tokoh muslim yang berhak menyandang gelar hujjat al-Islam, ada juga yang menyebutnya sebagai tembok pelindung aqidah Islam, yang dianggap sebagai penghidup ilmu-ilmu agama dengan karyanya yang monumental bernama Ihya>’u Ulumuddin. Sedangkan kalangan akademis memandang bahwa Al-Ghazālī merupakan orang yang harus bertanggung jawab terhadap kemunduran filsafat Islam dan hancurnya bangunan pemikir an-pemikiran rasional dalam tradisi Islam.

Dari kalangan akademisi ini masih di bagi lagi menjadi dua pendapat yang selama ini berseberangan. Yang pertama dari kalangan yang menganggap Al-Ghazālī sebagai penyebab dari kemunduran filsafat Islam diwakili oleh orang orang sepertiAnthonius Karam, Sutan Takdir Alisjahbana dan J.W.M. Bakker, Harun Nasution, Amin Abdullah.

Sebaliknya, ada yang berpendapat bahwa serangan al-Ghazālī terhadap filsafat bukan faktor yang mempengaruhi kemuduran filsafat Islam. Pendapat ini dike­mukakan oleh De Boer yang senada dengan Yusuf Qardhlowi, Mahmud Qasim, Zainal Abidin Ahmad, Sulaiman Dunya, Majid Fakhry, Osman Bakar, dan lain-lain.

Selain para pemerhati pemikiran Al-Ghazālī diatas, terdapat sebagian lagi yang menganggap bahwa Al-Ghazālī bukanlah penyebab dari kemunduran pemikiran rasional dalam Islam. Diantaranya Sulaiman Dunya editor dari kittab Tahafut dalam pengantar Tahafut al-Falasifah menyatakan bahwa “Sesungguhnya siapa yang mengingkari metafisika berarti dia berfilsafat tentang metafisika”.

Penilaian yang berbeda terhadap Al-Ghazālī ini sudah pasti membawa implikasi dan pengaruh yang berbeda di dalam tradisi keilmuan keislaman hingga saat ini. Dari kalangan tradisionalis misalnya, mereka sudah pasti akan mengkultuskan dan menjadikan Al-Ghazālī sebagai figur sentral dalam mengkaji ilmu-ilmu keislaman terutama dalam bidang tasawuf, fiqih maupun ahlak. Begitu juga sebaliknya, dari kalangan intelektual akademisi menyarankan agar pemikiran Al-Ghazālī tidak di pelajari. Seolah-olah ada anggapan bahwa, dengan meninggalkan pemikiran Al-Ghazālī maka masyarakat Islam tidak lagi menjadi masyarakat yang terbelakang yang hanya berkutat dengan persoalan tasawuf dan akhirat.

Penilaian terhadap sosok Al Ghazali yang demikian menurut hemat saya sangat wajar, karena ada dua hal yang perlu di jelaskan dalam wacana dunia pemikiran, yakni pertama menempatkan sebuah pemikiran sebagai alat atau bisa disebut dengan metode, yang kedua menempatkan sebuah pemikiran sebagai wacana. Keduanya memiliki perbedaan signifikan antara satu dengan yang lainya. Pemikiran sebagai metode atau alat, memiliki fungsi untuk menghasilkan pemikiran sebagai wacana. Sedangkan pemikiran sebagai wacana adalah sekumpulan pendapat dan pemikiran yang di produksi oleh pemikiran dalam posisinya sebagai alat atau metode, seperti halnya pemikiran di bidang tasawuf, ataupun doktrin-doktrin madzhab, serta pandangan dunia manusia secara umum.

Menurut hemat saya, adanya kecendrungan perbedaan penilaian terhadap pemikiran Al-Ghazālī hingga saat ini lebih disebabkan karna faktor pembacaan pemikiran sebagai wacana atau produk jadi dari sebuah pemikiran, dan melupakan pemikiran sebagai alat. Disinilah kita perlu mengkaji dan membaca secara kritis pemikiran Al-Ghazālī sebagai alat atau metode yang selama ini tidak pernah disentuh oleh pemerhati pemikiran Al-Ghazālī. Seperti halnya metode keraguan yang di pakai oleh Al Ghazali dalam menemukan kebenaran yang hakiki. Terlebih lagi bila kaji lebih jauh terhadap pemikiran Al-Ghazali sebagai metode atau alat maka kita akan menemukan rasionalitas pemikiran walaupun pada akhirnya dia menjatuhkan pilihanya terhadap pendekatan sufistik.

Baca juga:

AVERROISME: KRITIK IBNU RUSYD TERHADAP AL-GHAZALI

KIAT MENGGAPAI KEBAHAGIAAN MENURUT ABU HAMID AL-GHAZALI

BIOGRAFI SINGKAT IMAM AL-GHAZALI

Be the first to comment

Leave a Reply