PEMBAHARUAN ISLAM

MENIMBANG PEMIKIRAN PEMBAHARUAN ISLAM ZIYA GOKALP

Seperti yang sudah disampaikan pada ulasan sebelumnya, baca: PEMIKIRAN ZIYA GOKALP TENTANG NASIONALISME TURKI maupun dalam BIOGRAFI SINGKAT ZIYA GOKALP, Kita mengetahui bahwa Gokalp sangat getol di dalam memikirkan nasionalisme kaitannya dengan kemajuan Turki. Pada artikel ini ini penulis hendak menganalisis pemikiran Gokalp secara lebih komprehensif.

Dalam konteks hubungan antara Negara dan Agama, Ziya Gokalp membela sekularisme, yang memisahkan agama dari politik, termasuk seluruh sisa – sisa teokrasi dan kependetaan harus dihilangkan dari wilayah politik, oleh karena itu, la berpendapat bahwa lembaga mufti besar kerajaan harus dihapuskan. Untuk itu, la menginginkan bahwa yurisdiksi mufti besar kerajaan, Syekh al­ Islam terhadap mahkamah syari’at diubah menjadi yurisdiksi kementerian kehakiman. Sedang yurisdiksi Syekh Islam terhadap persoalan pendidikan diberikan kepada kementerian wakaf Didalam masalah politik Gakalp dipengaruhi oleh filsafat kolektifitas Durkheim, yang terlihat olehnya sama dengan tradisi persaudaraan dan kesetaraan diantara mukmin. Sampai tahun 1913 la menawarkan konsep negara multinasional sebagai model rekonstruksi     dinasti Usmani, tetapi setelah perang Balkan la merubah idenya, menjadi satu negara dan menawarkan satu negara, sebuah pendapat yang juga berasal dari Durkheim. Terlihat bahwa konsep masyarakat Durkheim menjadi konsep negara bagi Gokalp.

Dalam pandangannya yang lain Gokalp mengadakan pemisahan antara diyanet, yang tercakup didalamnya i’tikad (keyakinan) serta ibadat dan mu’amalat (hubungan sosial manusia). Hukum yang terdapat dalam mu’amalat berasal dari adat yang kemudian diperkuat oleh wahyu dalam al Qur’an. Tetapi, adat berubah menurut jaman dan pada akhimya lenyap. Dengan lenyapnya adat, wahyu yang bersangkutan tidak berlaku lagi. Syari’at harus berubah menurut perubahan yang dialami adat. Adat bersifat dinamis, dan dengan demikian syari’at harus juga bersifat dinamis. Selanjutnya la mengatakan bahwa ibadat dan mu’amalat telah menjadi satu dalam buku fikih. Keduanya seharusnya dipisahkan, sehingga hukum ibadat menjadi urusan kaum ulama dan hukurn mu’amalat menjadi urusan negara.

Mengenai institusi keluarga Gokalp juga menghendaki perubahan dalam status kaum wanita. Wanita menurutnya harus diikut sertakan dalam pergaulan sosial dan kehidupan ekonomi. Juga mereka harus diberi hak yang sama dalam soal pendidikan, perceraian, dan warisan. Poligami juga harus dihapuskan. Gokalp juga melihat adanya krisis moral dalam masyarakat Turki dan sebabnya adalah melemahnya pengaruh agama dalam kehidupan orang Turki. Sungguhpun begitu obatnya tidak terletak dalam pendidikan agama, karena agama tidak lagi merupakan sumber-sumber nilai. Masyarakat Turki sedang dalam keadaan berubah dari masyarakat ummat menjadi masyarakat nasional. Kedalam tiga bentuk sekolah yang ada, sekolah modern, sekolah asing, dan madrasah telah masuk peradaban Barat dan Islam. Kedua peradaban ini mengambil sikap menentang terhadap kebudayaan Turki yang terdapat dikalangan masyarakat tidak bersekolah. Ketiga bentuk sekolah tersebut hanya mempunyai daya meniru apa yang datang dari luar dan tidak mempunyai daya kreatif. Oleh karena itu pembaharuan dalam bidang pendidikan haruslah didasarkan atas nilai-nilai sekuler baru yang bersumber pada kebudayaan nasional.

Di dalam mengomentari Gokalp, Maryam Jameelah menyatakan bahwa Gokalp adalah seorang diantara tokoh Turki yang memenangkan sebuah negara sekuler Turki yang kemudian dilaksanakan oleh Musthafa Kemal Attaturk. Jameelah juga secara tajam mengkritik Gokalp yang pemikirannya dianggap tidak orisinal, menjiplak dan malah mencerminkan pendirian: nasionalis tulen yang ingin menghancurkan Islam. Tetapi, berbeda dengan Jameelah, Elton L. Daniel melihat Gokalp justru meletakkan Islam secara lebih positif dalam kerangka nasionalisme modern Turki. Dalam artikelnya yang berjudul Theology and Misticism in the Writing of Ziya Gokalp, Daniel mengatakan bahwa kehidupan pribadi Gokalp sangat relijius dan sufisme merupakan dasar nilai filsafatnya. Perasaan mistiknya memudahkan penerimaannya pada konsepsi sosiologis Durkheim dan ide kebangsaan. la menyatakan gagasan keagamaan dan politik pada saat yang bersamaan. “Seluruh kesadaran mistiknya adalah menciptakan suatu identifikasi negara dan agama, bukan pemisahan diantara keduanya.

Sebagai bukti bahwa Gokalp adalah orang yang relijius dan bahkan penganut sufisme, Daniel menunjuk pada beberapa puisi-puisi ciptaan Gokalp. Dalam salah satu puisinya yang berjudul Asker Duasi (Do’a Seorang tentara) Gokalp menulis:

Ditanganku ada senjata, dihatiku ada irnan
Keunananku ada dua, agama dan tanah air….
Jalan kami ialah Ghaza, ujungnya adalah syahadat
Agama kita memerlukan pengabdian dan keikhlasan…
Ya Tuhan, Jadikan Islam berkembang!
Ya tuhan, Hancurkan musuh-musuhnya!

Dengan uraian diatas, agak berlebihan kiranya kritik Maryam Jameelah Terahadap Gokalp. Tetapi memang benar bahwa Gokalp menghendaki adanya deinternasionalisasi ummat Islam; dalam pengertian memisahkannya dari perkembangan budaya Arab dan Persi dan meninggalkan kualitas intinya guna terwujudnya sebuah agama nasional yang baru. Inilah kekeliruannya yang utama. Tetapi itu tidak berarti bahwa la adalah seorang yang hendak  menghancurkan Islam”.

Menufut hemat penulis, sungguhpun pembaharuan yang dikehendaki Gokalp bersifat radikal tetapi dalam keradikalan itu ia tidak berniat menentang agama. Dengan kata lain pembaharuannya masih diusahakan agar tidak keluar dari Islam. la justru memberikan Islam peran sebagai kode etik dalam berbangsa dan bernegara sehingga Islam dapat sesuai menurut perubahan dan perkembangan masyarakat.

Abdul Halim

Dosen Ilmu Hadis pada IAIN STS Jambi dan Mahasiswa Program Doktor pada UIN Raden Fatah Palembang

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!