TEOLOGI

MURJI’AH DAN PARADIGMA TEOLOGI IRJA’

[toc title=”Pembahasan dalam Artikel ini Meliputi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Pengantar

Diungkapnya Murji’ah sebagai sebuah aliran teologi dalam Islam lebih disebabkan oleh keunikan pandangan keagamaannya sebagai lawan dari aliran sebelumnya yakni Khawarij. Sebagaimana diketahui pada artikel sebelumnya yakni Khawarij dan Khawarijisme, bahwa aliran Khawarij menekankan identitas dan klaim kafir bagi orang yang melakukan dosa besar. Berbeda dengan pandangan itu, Aliran Murji’ah menyebut sang pelaku dosa besar sebagai tetap Mu’min dan bukan Kafir. Pendapat ini didasarkan pada prinsip bahwa orang Muslim yang berdosa besar secara substansial adalah orang-orang yang telah pernah menyatakan keimanan kepada Allah dengan mengucapkan Kalimah Syahadat. Hanya saja dosa yang mereka perbuat dikembalikan penghukumannya kepada Allah SWT.

Embrio Murji’ah

Sebelum dibakukan penyebutannya, Murji’ah sebagai sebuah sikap dan tindakan menurut sejarawan Islam telah ada sejak masa perpecahan Ali ibn Abi Thalib dan Utsman ibn ‘Affan. Mereka menurut Montgomery Watt diperkirakan telah ada sejak abad ke-1 H atau 7 M. Menurut Ibnu Asakir seperti dikutip Ahmad Amin, pada masa perpecahan terdapat sebagian tentara Islam yang kembali dari peperangan di Maghazi (Palestina) yang mengeluhkan kondisi perpecahan Ummat Islam setelah mereka meninggalkan Madinah, padahal dahulu ketika meninggalkan Madinah untuk peperangan ke Maghazi, kondisi Ummat Islam masih bersatu. Karena perpecahan ini mereka tidak mengingkari ataupun mengutuk Ali maupun Utsman. Mereka menyerahkan persoalan ini kepada Allah SWT. Menyambung apa yang dikatakan Asakir ini, Abu Zahrah menyebutkan bahwa orang-orang yang berkecenderungan seperti itu adalah para sahabat seperti; Abu Bakrah, Abdullah Ibnu Umar, Saad Ibn Waqash, dan Imran Ibn Husain.

Paradigma Teologi Murji’ah

Secara lebih terperinci, berdasarkan apa yang saya baca dari al-Syahrastani, dapat diuraikan bahwa Murji’ah berasal dari kata al-irja’ yang berarti “menangguhkan.” Ketika istilah ini diasosiasikan kepada nama sebuah kelompok, maka istilahnya menjadi Murji’ah yang berarti kelompok orang yang menangguhkan hukuman bagi pelaku dosa besar hingga hari kiamat dan tidak menghukum di dunia. Bagi mereka, bisa saja pelaku dosa besar ini masuk syurga atau neraka. Arti kedua dari al-irja’ adalah memberi pengharapan. Bagi mereka, iman tidaka akan dinodai oleh maksiat sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat bagi kekafiran. Ada harapan bagi pelaku dosa besar bahwa mereka akan diampuni oleh Allah karena mereka dahulunya adalah orang-orang yang beriman. Ketiga, irja’ berarti “mengakhirkan” di mana kaum Murji’ah mengakhirkan atau menurunkan posisi Ali ibn Abi Thalib dari posisi pertama ke posisi keempat.

Al-Syahrastani menambahkan bahwa bagi Murji’ah, semua Muslim tidak akan kekal di dalam Neraka. Dosa besar akan mengakibatkan mereka dihukum di Neraka (sesuai dengan derajat dosanya) dan kemudian akan dimasukkan ke dalam Syurga. Bahkan menurut Abu Zahrah; bagi Murji’ah sekiranya Allah SWT mengampuni pelaku dosa besar, mereka akan terbebas sama sekali dari Neraka. Hal itu karena semua Muslim telah menyatakan ikrar akan keimanan mereka kepada Allah SWT yang tentunya hal itu berbeda dengan orang Kafir yang secara substansial mengingkari akan Allah serta ingkar untuk tunduk kepada-Nya.

Menurut analisis saya, lahirnya kelompok Murji’ah murni disebabkan situasi sosial keagamaan pada masa itu ketika fenomena takfir atau pengkafiran terhadap sesama Muslim kian marak. Mereka begitu prihatin melihat rentetan perang saudara, baik pada Perang Jamal maupun Perang Siffin yang kemudian berbuntut saling menyalahkan dan saling mengkafirkan antara sesama Muslim. Murji’ah merupakan kelompok kaum Muslim yang tidak setuju dengan kelompok Khawarij. Orang-orang yang disebut Murji’ah memilih menahan diri dan tidak ikut terlibat dalam klaim-klaim pengkafiran dan menyerahkan sepenuhnya siapa yang berdosa besar dan siapa yang telah kafir kepada Allah SWT.

Tokoh-tokoh Murji’ah

1. Hasan ibn Muhammad ibn Ali ibn Abi Thalib
2. Abu Hanifah
3. Abu Yusuf
4. Hammad ibn Ali Sulaiman

Meskipun demikian, aliran Murji’ah masih memiliki tokoh-tokoh lain seiring dengan perkembangan sekte yang terus bermunculan di dalamnya. Tokoh-tokoh lain dari aliran Murji’ah tercermin dalam pembahasan mengenai sekte-sekte dalam aliran Murji’ah.

Sekte-sekte dalam Aliran Murji’ah

Al-Syahrastani membagi sekte dalam Murji’ah ke dalam 5 sekte sebagai berikut;
1. Murji’ah Khawarij
2. Murji’ah Qadariyah
3. Murji’ah Jabariyah
4. Murji’ah Murni
5. Murji’ah Sunni

Namun demikian, pakar pemikiran Islam seperti Muhammad Imarah menguraikan sekte-sekte dalam Murji’ah ke dalam jumlah yang cukup banyak yakni 12 sekte;
1. Al-Jahmiyah, untuk golongan yang mengikuti Jahm bin Shofwan.
2. Al-Salihiyah, untuk golongan yang mengikuti Abu Musa Al-Shalahi.
3. Al-Yunusiyah, untuk golongan yang mengikuti Yunus Al-Samry.
4. Al-Samaryah, untuk golongan yang mengikuti Abu Samr dan Yunus.
5. Al- Syaubaniyah, untuk golongan yang mengikuti Abu Syauban.
6. Al-ghailaniyah, untuk golongan yang mengikuti Abu Marwan Al-Ghailan bin Marwan Al-Dimisqy.
7. Al-Najriyah, untuk golongan yang mengikuti al-Husain bin Muhammad bin Syabib
8. Al-Hanafiyah, untuk golongan yang mengikuti Abu Hanifah al-Nu’man.
9. Al-Syabibyah, untuk golongan yang mengikuti Muhammad bin Syabib.
10. Al-Mu’adziyah, untuk golongan yang mengikuti Muadz al-Thaumi.
11. Al-Murisiyah, untuk golongan yang mengikuti Basr al-Murisy.
12. Al-Karamiyah, untuk golongan yang mengikuti Muhammad bin Karam.

Secara umum pandangan-pandangan Murji’ah berkisar pada pentingnya Iman yang terdapat dalam hati. Mereka begitu mementingkan Iman, dan Iman itulah sebagai tolak ukur penilaian seseorang masih beriman kepada Allah atau sudah kafir kepada-Nya. Karena menekankan kepada Iman sebagai fondasi keagamaan, maka bagi mereka setiap hamba yang telah menyatakan “Keimanan” kepada Allah akan selalu selamat dari adzab dan siksa-Nya, meski hamba tersebut berdosa besar sekalipun; tentu saja melalui pertobatan terlebih dahulu. Sebagian Murji’ah yang dinilai “ekstrim” berpendapat bahwa perbuatan dosa tidak akan berdampak pada iman, atau dengan kata lain, iman tidak akan rusak hanya karena perbuatan dosa. Bagi mereka iman bisa bertambah, tetapi tidak bisa berkurang. Sekte yang dinilai ekstrim tersebut antara lain; Yunusiyah, Ubaidiyat, Ghasaniyat, Saubaniyah, Shalihiyah, Hajaria, Ghailaniyat, dan Karomiyah.

Diskusi Murji’ah Saat Ini

Hanya saja perdebatan yang mengitari aliran Murji’ah ini adalah penagguhan bagi pelaku dosa besar. Sikap aliran ini yang menyerahkan kepada Allah dan memberi harapan kepada sang pelaku dosa besar, sering disalahpahami oleh sebagian Ummat Islam. Bentuk kesalahpahaman tersebut menyebutkan bahwa bagi aliran Murji’ah orang berdosa besar bukanlah kafir dan Murji’ah telah membuka kecenderungan orang untuk berbuat dosa karena dosanya ditanggung oleh Allah SWT. Hal ini tentu saja tidak dapat dibenarkan manakala diasosiasikan sebagai paham Murji’ah.

Sebaliknya, saya rasa paham tentang balasan atas segala amal baik dan siksa oleh karena kedurhakaan kepada Allah SWT sebagaimana yang telah dianut oleh Ummat Islam pada umumnya saat ini justru merupakan sisa peninggalan paham keagamaan aliran Murji’ah. Coba renungkan ketika menurut Murji’ah mereka yang berdosa besar bisa saja masuk Syurga sekiranya Allah mengampuninya dan tetap masuk Neraka jika tidak diampuni. Tetapi bagi Murji’ah, orang Muslim yang berdosa besar akan tetap masuk Syurga setelah sebelumnya dimasukkan ke dalam Neraka terlebih dahulu. Mindset tentang Syurga dan Neraka serta nasib para pendosa besar versi Murji’ah jelas disebabkan oleh prinsip mereka yang tidak mau menghukumi atau mengklaim dengan sebutan tertentu kepada sesama Muslim yang berdosa. Sebaliknya, mereka memilih diam dan menyerahkan kepada Allah SWT.

Saya rasa ada yang bisa kita ambil dari mindset Murji’ah di atas, khususnya tidak menghukumi seseorang dengan sebutan kafir melainkan dikembalikan kepada Allah. Tentu saja mindset seperti itu bukan berarti menganjurkan dan membuat nyaman para pelaku dosa besar. Murji’ah pada awalnya adalah para sahabat yang saleh dan tentu saja begitu taat atas apa yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Jika terdapat pemahaman yang keliru mengenai Murji’ah besar kemungkinan hal itu dikarenakan tidak melihat setting social masyarakat pada saat Murji’ah muncul.

Wallahu a’lam bi al-Showab

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

  1. M.kurdani Fauzi says:

    Ass pak? Dri artikel yg sudah saya baca diatas? Bhwa munculnya golongan murjiah ini? Karna adanya konflik sesama muslim yg mmvonis saudara nya sendiri sbg kaum kafir, jadi, menurut pndapat bpk, slain konflik antar sesama muslim? Apakah ada motif lain dari muncul nya aliran ini? Misal motif politik atau pun motif ingin merebut kekuasaan tertinggi pada waktu itu? Mohonn pencerahan lnya pak wl, Wss

  2. Alaikum salam Fauzi, Murji’ah (dalam konteks pemikiran keagamaan mereka) masih murni sebagai aliran kalam yang berupaya merespon perkembangan pemahaman masyarakat kala itu. Belum diketahui motif politiknya, untuk tidak mengatakan “tidak ada”. Tetapi, sebagian kecil faktor penyebab kelahiran mereka adalah peristiwa politik “tahkim” itu benar.

  3. Rabiyatul Alawiyah says:

    Assalamualaikum.Izin pak, buat qurdani fauzi menurut pendapat saya, kehadiran murjiah di tengah pristiwa tahkim adalah sbagai peredam konflik takfir pengkafiran. Tidak mungkin golongan ini punya motif lain sprti merebut kekuasaan,karena itu akan menambah konflik baru bagi umat islam pada masa itu.

  4. Dwi Mutiara says:

    assalamualaikum wr wb
    Berawal dari pertentangan antara kaun khawarij dengan kaum syiah yang menentang kaum kekuasaan bani ummayah. kaum khawarij dan kaum syi’ah merupakan dua golongan yang bermusuhan, mereka sama-sama menetang kekuasaan bani ummayah tetapi dengan motof yang berlainan. dalam suasana pertentangan itu, timbul suatu golongan baru yaitu inilah golongan murji’ah yang ingin bersikap netral dan tidak mau turut dalam praktek kafir-mengkafirkan yang terjadi anatara golongan khawarih dan syi’ah. mereka tidak mengeluarkan pendapat tentang siapa yang sebenarnya yg salah dan benar.
    didalam buku Goffar A Romas, aIlmu Tajwid dijelaskan ada dua aliran dalam kaum murji’ah yaitu”
    1. aliran moderat
    2. aliran ekstrim

    yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah masih ada orang-orang muslim yang masih mengikuti aliran murji’ah ini baik aliran moderat ataupun aliran extrim. jika seandainya masigh ada orang pengikut ini bagaimana karakteristiknya ?

  5. Rijlan Hasanuddin says:

    Sy sedikit merasa suasana bhw kemunculan murjiah dgn tokoh besar semisal imam abu Hanifah adalah upaya utk kembali kpd manhaj Islam yg murni Krn begitu sempitnya pemikiran khawarij yg menghukum kapir yg bertahkim dgn Alquran pd era itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!